Breaking News:

Kolom Trias Kuncahyono

'Saya Tidak Tahu'

Banyak yang terjun ke dunia politik dengan mentalitas animal laborans. Memiliki orientasi kebutuhan hidup dan obsesi akan siklus produksi-konsumsi.

Istimewa
Foto ilustrasi: Democracy 

WARTAKOTALIVE.COM -- Dunia politik di negeri ini, memang menarik.

Walau ada orang yang mengatakan, politik itu kotor, politik itu jahat, politik itu tak tahu malu, politik itu tegaan, politik itu cengeng, politik melankolis, politik itu penuh muslihat, dan lain sebagainya.

Tapi toh tetap ada saja, bahkan banyak, yang menggantungkan hidupnya lewat politik.

Banyak yang terjun ke dunia politik dengan mentalitas animal laborans. Yakni, memiliki orientasi kebutuhan hidup dan obsesi akan siklus produksi-konsumsi sangat dominan ketika terjun ke dunia politik.

Politikus seperti itu, kata Haryatmoko (2014), cenderung menjadikan politik sebagai tempat mata pencaharian utama.

Sindrom yang menyertai salah satunya adalah korupsi. Walhasil yang muncul adalah politisi-politisi semu (pseudo-politician), yang jauh dari kualitas dan kredibilitas.

Maka itu muncul berbagai macam politik: ada politik dagang sapi, politik pandang memandang, politik sontoloyo, politik Ken Arok, politik Kebo Ijo, politik kambing hitam, politik kumpul kebo, politik Nabi Nuh, politik pinokio, politik Brutus, juga politik teror, dan mungkin masih banyak yang lain.

Tetapi tidak ada (minim) politik rendah hati, cinta yang berpolitik (political love), kesucian politik (political holiness), politik kemanusiaan, dan politik demokrasi. Maka itu, tidak ada rasa malu politik.

Memang mustahil di zaman seperti sekarang ini mengharapkan adanya political love—meminjam istilah yang digunakan  Sindhunata mengutip pendapat Jon Sobrino seorang teolog El Salvador—yakni politik yang membebaskan kaum miskin dari penderitaan ataupun political holiness, politik yang membela kaum miskin memperjuangkan keadilan dapat menjadi tanah subur bagi kesucian.

Sebab, politik lebih sibuk mengurusi tetek-bengek yang berkaitan dengan bagaimana merebut kekuasaan, bagaimana mempertahankan kekuasaan.

Dalam rumusan Harold D Lasswell, ilmuwan politik AS, itulah politik dalam pengertian yang sangat pragmatis: siapa dapat apa, kapan, dan di mana?

Kadang terasa sangat pilu memperhatikan semua itu. Apalagi, sekarang negeri ini masih berjuang keras melawan amukan pandemi Covid-19.

Di mana-mana diberitakan rumah-rumah sakit kehabisan tempat untuk menampung para pasien penderita Covid-19.

Mereka tidak hanya kehabisan tempat tidur, tetapi juga segala macam perlengkapan lainnya. Kalaupun ada makin tipis persediaannya.

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved