Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan progressive supranuclear palsy, sehingga penderita hanya bisa melakukan perawatan untuk mengatasi gejalanya saja.
Pengobatan ini termasuk:
WARTAKOTALIVE.COM, KUNINGAN - Harmoko meninggal dunia pada Minggu (4/7/2021) malam.
Harmoko meninggal dunia, Minggu (4/7/2021) pada pukul 20.22 WIB di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat.
Menurut informasi keluarga, penyebab meninggal Harmoko karena mengidap penyakit PSP (Progressive Supranuclear Palsy) yang diderita sejak tahun 2013.
Dikutip dari Hellosehat, Progressive supranuclear palsy (PSP), disebut juga Steele-Richardson-Olszewski syndrome, adalah kelainan otak yang menyebabkan kesulitan berjalan serta mengganggu keseimbangan tubuh dan gerakan mata.
Gangguan ini terjadi akibat penurunan sel di area otak yang mengontrol gerakan tubuh dan pikiran.
Baca juga: KISAH Perjalanan Harmoko yang Selalu Menang Banyak, dari Menpen hingga Minta Lengser Pak Harto
Progressive supranuclear palsy akan bertambah buruk seiring dengan waktu, dan bisa berlanjut menjadi komplikasi yang mengancam nyawa, seperti pneumonia dan kesulitan menelan.
Hanya 3-6 dari 100.000 orang di dunia memiliki progressive supranuclear palsy (PSP).
Kondisi ini lebih jarang terjadi dibanding penyakit Parkinson.
Gejala PSP biasanya dimulai setelah usia 60 tahun, tapi bisa juga muncul lebih awal. Pria lebih sering terkena dibanding wanita.
Ciri-ciri dan gejala progressive supranuclear palsy termasuk:
- Kehilangan keseimbangan saat berjalan. Di awal munculnya penyakit, penderita mungkin sering jatuh ke belakang.
- Ketidakmampuan untuk mengarahkan pandangan mata dengan baik.
Anda mungkin akan mengalami kesulitan melihat ke bawah, atau mengalami penglihatan kabur atau penglihatan ganda.
Gangguan ini membuat banyak penderitanya sering menumpahkan makanan, atau terlihat tidak fokus saat diajak bicara karena kesulitan melakukan kontak mata.
Gejala lain dari progressive supranuclear palsy berbeda-beda dan bisa mirip dengan penyakit Parkinson maupun dementia.
Gejala ini akan bertambah parah seiring memburuknya penyakit, termasuk:
Mungkin ada gejala yang tidak disebutkan di atas. Konsultasikan pada dokter untuk informasi tentang gejala lainnya.
Penyebab PSP
Penyebab progressive supranuclear palsy tidak diketahui.
Namun, peneliti menemukan bahwa pada penderita progressive supranuclear palsy, sel otak yang menurun kinerjanya memiliki jumlah protein tau yang abnormal.
Penumpukan protein tau juga terjadi pada penyakit degeneratif lain, misalnya Alzheimer.
Progressive supranuclear palsy biasanya terjadi tanpa adanya riwayat penyakit tersebut di dalam keluarga.
PSP biasanya menyerang orang-orang di usia 60-an, dan belum pernah ditemukan pada orang-orang usia di bawah 40
Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan progressive supranuclear palsy, sehingga penderita hanya bisa melakukan perawatan untuk mengatasi gejalanya saja.
Pengobatan ini termasuk:
Peneliti sedang berusaha mengembangkan obat-obatan untuk mengatasi progressive supranuclear palsy, termasuk terapi yang bisa mencegah terbentuknya protein tau.
Suasana rumah duka
Rumah duka yang berada di Jalan Taman Patra Kuningan XII/12, Kuningan, Jakarta Selatan, terlihat sepi.
Pantauan Wartakotalive.com di lokasi, Senin (5/7/2021), pukul 08.30 WIB, hanya ada pegawai rumah sedang duduk di depan rumah.
Karangan bunga berjejer di depan rumah duka Harmoko. Sejumlah tokoh menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Harmoko.
Mulai dari Presiden Jokowi, Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Ketua MPR Bambang Soesatyo, Kapolri Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Para menteri hingga anggota DPR.
Sampai saat ini, belum tampak pelayat. Anggota keluarga meninggalkan rumah duka sejak pukul 08.53 WIB untuk menuju RSPAD Gatot Soebroto.
Putra bungsu Harmoko, Dimas Ajisoko Harmoko, memohon doa dan meminta masyarakat membuka pintu maaf untuk Menteri Penerangan era Soeharto itu.
“Kami minta doanya dari kalangan pers, dari rakyat Indonesia, agar pak Harmoko bisa khusnul khotimah,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
“Dan kami atas nama keluarga memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kesalahan-kesalahan dari pak Harmoko selama ini, mohon dibukakan pintu yang selebar-lebarnya.”
Harmoko meniti karier sebagai jurnalis hingga menjadi politikus terkenal bangsa Indonesia.
Harmoko adalah mantan Ketua DPR/MPR RI di pengujung rezim Soeharto selama 32 tahun.
Harmoko dikenal sebagai sosok Orang Dekat sekaligus tokoh yang meminta Soeharto agar mundur dari jabatan presiden pada masa krisis moneter 1998. (m31)