Breaking News:

Kisah Irianto Dahlan, Kakek 62 Tahun Anggota Vanaprastha yang Masih Aktif Mendaki Gunung

Irianto Dahlan, anggota Vanaprastha berfilosofi, "Di puncak gunung, manusia akan merasa kecil dibandingkan ciptaan Allah SWT yang lainnya."

Penulis: Rafzanjani Simanjorang | Editor: Eko Priyono
Dokumen Vanaprastha
Irianto Dahlan, pendaki gunung anggota Vanaprastha. Meski usianya sudah 62 tahun, ia masih aktif mendaki gunung. 

"Ketika sampai di puncak, saya pribadi tersadar bahwa kita ini sungguh kecil dibandingkan ciptaan Allah SWT yang lain. Dari sana akan timbul rasa syukur."

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Demikian filosofi Irianto Dahlan. Yanto, sapaan akrab Irianto, merupakan kakek berumur 62 tahun yang masih aktif mendaki gunung.

Hobinya dimulai saat mengenal komunitas Vanaprastha tahun 1975.

Ia dan anak-anak Vanaprastha menjadikan rumah orangtua Adhyaksa Dault eks Menpora (2004-2009) sebagai tempat nongkrong sekaligus tempat singgah.

Rumah orangtua Adhyaksa Dault itu berada di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Hingga sekarang bangunannya masih tegak berdiri.

Kebetulan, Yanto dan anak-anak Setiabudi lain berkawan akrab dengan Pak Yuyu, nama karib Adhyaksa di lingkungan pertemanan masa kecilnya.

"Saya masuk di angkatan ketiga Vanaprastha. Saya masih ingat, pertama kali mendaki tahun 1978, ke Gunung Gede, kemudian Gunung Pangrango karena itu bersebelahan. Sejak itu saya merasa kalau mendaki itu menyenangkan, membuat hati saya bahagia," kata Yanto kepada Warta Kota, Kamis (27/5).

Hingga detik ini, ia sudah mencicipi berbagai gunung di Tanah Air termasuk Rinjani, Semeru, dan Slamet. Yanto juga pernah mendaki Gunung Kinabalu di Malaysia.

Pada masa-masa awal mendaki, Yanto menemukan keseruan berbeda ketimbang dewasa ini. Pasalnya saat itu gunung belum dijadikan objek komersil. Alhasil ia dan rekan-rekan yang membuka jalur baru menuju puncak.

Perlengkapan pun tak sederhana. Sebut saja untuk memasak, mereka harus mengikat kompor di tas. Kalau sekarang sudah ada kompor portabel yang bentuknya relatif kecil, muat dimasukkan ke dalam ransel.

Lalu sampai kapan Yanto mendaki? Ia mengaku enggak ada batasan waktu. Kalau fisik tak lagi memungkinkan ya itulah masanya untuk "gantung ransel".

Ia merasa mendaki gunung bukan hobi berbahaya jika tahu aturannya. Selain kondisi fisik yang prima, lanjut Yanto, perlengkapan wajib lengkap.

"Ada dua hal yang perlu dicermati oleh pendaki yaitu logistik dan cara istirahat. Logistik harus dua kali lebih banyak. Itu penting karena urusan perut tak bisa disepelekan," kata Yanto.

"Kemudian, istirahat enggak bisa terlalu lama, tubuh bisa 'dingin' lagi di tengah jalan. Saat berhenti juga kaki tidak boleh ditekuk agar tidak keram. Yang terpenting, upayakan tidak membuang sampah sembarangan dan jangan meninggalkan teman," ucap kakak Bendahara PMI DKI Jakarta, Patra Katri Dahlan ini.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved