Advertorial
Atasi Nyeri Saraf Leher Terjepit dengan Tehnik Operasi PECD, Ini Kelebihannya
HNP (Herniated Nucleus Pulposus) merupakan penonjolan bantalan sendi daerah leher yang dapat menyebabkan terjadinya jepitan saraf leher.
Penulis: Mochammad Dipa | Editor: Ichwan Chasani
WARTAKOTALIVE.COM, TANGERANG — Leher merupakan salah satu organ yang vital manusia dimana terdapat saraf-saraf yang juga bisa terhubung ke organ lainnya.
Setiap orang pasti pernah merasakan nyeri leher apalagi saat ini beberapa aktivitas yang dilakukan seperti bermain game online, penggunaan laptop atau komputer sebagai sarana untuk bekerja apalagi pada masa pandemi covid-19 ini dimana banyak karyawan yang bekerja dari rumah (Work from home).
Kondisi ini dapat memicu terjadinya nyeri pada tengkuk atau leher serta kesemutan yang menjalar dari bahu hingga tangan yang terkadang dapat sangat mengganggu aktifitas sehari-hari.
Salah satu penyakit yang sering dialami oleh masyarakat yang memiliki aktivitas tersebut adalah HNP (Herniated Nucleus Pulposus). Keadaan ini merupakan penonjolan bantalan sendi daerah leher yang dapat menyebabkan terjadinya jepitan saraf leher.
Gejala Saraf Leher Terjepit
Gejala yang dapat ditimbulkan meliputi nyeri pada tengkuk atau bagian belakang kepala, nyeri pada belikat, kesemutan yang menjalar dari leher ke tangan, baal di tangan, atau bahkan hingga kelemahan pada bahu, siku, maupun jari.
Pada tahap jepitan yang lebih lanjut, dapat ditemukan keluhan myelopathy meliputi gangguan keseimbangan, gangguan koordinasi gerak halus (seperti mengancing baju, menggunakan sendok, sering menjatuhkan barang), hingga kelumpuhan.
Dokter Spesialis Bedah Ortopedi dan Traumatologi Konsultan Tulang Belakang RS. EMC Tangerang Dr. Harmantya Mahadhipta Sp.OT (K) Spine, mengatakan secara garis besar penanganan HNP cervical meliputi terapi konservatif (tanpa operasi) atau operasi.
“Terapi konservatif harus diusahakan terlebih dahulu selama 4-6 minggu, karena 80 persen gejala HNP cervical dapat hilang dengan terapi konservatif yang meliputi obat, fisioterapi, akupuntur, injeksi, dan perbaikan posisi kerja,” ungkap Harmantya.
Sementara, 20 persen kasus HNP cervical perlu tindakan operasi. Menurut Harmantya, indikasi operasi pada kasus HNP cervical antara lain jika terapi konservatif sudah gagal, nyeri yang ditimbulikan sangat hebat sehingga mengganggu aktifitas sehari-hari, sudah terjadi kelemahan anggota gerak atas, dan atau terdapat gejala myelopathy.
Pilihan operasi
Adapun pilihan operasi pada HNP cervical bermacam-macam. Saat ini dengan perkembangan teknologi kedokteran, Rumah Sakit EMC Tangerang dapat melayani operasi HNP cervical dengan tehnik endoskopi yang disebut dengan Percutaneous Endoscopic Cervical Decompression (PECD), yang dapat dilakukan dari depan leher (anterior) ataupun dari belakang leher (posterior) tergantung lokasi tonjolan bantalan sendi.
Tehnik ini merupakan tehnik minimal invasive yang hanya memerlukan sayatan kecil sekitar 6 mm, menggunakan alat endoskopi berupa tabung yang dihubungkan dengan camera dan monitor, sehingga saraf dapat terlihat sangat jelas.
Ada beberapa kelebihan dari tindakan operasi dengan tehnik PECD ini, yaitu Relatif lebih aman; Waktu operasi singkat sekitar 30 menit; Dapat dilakukan secara one day care atau tanpa rawat inap; dan Lebih cepat kembali beraktifitas.
Harmantya mengatakan, banyak pasien sering takut untuk operasi saraf terjepit karena dikhawatirkan akan terjadi resiko kelumpuhan. “Tapi dengan tehnik operasi PECD, resiko tersebut dapat diminimalisir,” ungkapnya.
Pelayanan pemeriksaan dan pengobatan saraf terjepit merupakan salah satu layanan unggulan di rumah sakit EMC Tangerang yang didukung oleh peralatan penunjang medis dan pelayanan rehabilitasi medis yang modern dan profesional. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/rs-emc-mei.jpg)