Kisah Mantan Pesepakbola
Mengenal Peri Sandria, Anak Kampung yang Menjadi Legenda Sepak Bola Indonesia
Pria kelahiran Binjai, Sumatera Utara tahun 1969 ini, masih menjadi striker lokal pencetak gol terbanyak di Liga Indonesia, dengan torehan 34 gol
Penulis: RafzanjaniSimanjorang |
Laporan Reporter WARTAKOTALIVE.COM, Rafsanzani Simanjorang
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Peri Sandria adalah mantan legenda timnas sepak bola Indonesia.
Pria kelahiran Binjai, Sumatera Utara tahun 1969 ini, masih menjadi striker lokal pencetak gol terbanyak di Liga Indonesia, dengan torehan 34 golnya.
Rekor itu ia catatkan di kompetisi Ligina musim 1994-1995, tapi dipecahkan oleh striker Bali United Sylvano Comvalius dengan 37 gol pada Liga 1 musim 2017
Sebelum menjadi legenda sepak bola di Indonesia, bagaimanakah masa kecil Peri Sandria?
"Saya ini hanya seorang anak desa, anak perkebunan. Usia 10 tahun, saya mulai belajar bermain bola, tanpa sepatu (nyeker) Tak seperti saat ini ya, di SSB sudah pakai sepatu. Saya dulu main kaki ayam bersama teman-teman di sekolah," ujarnya kepada Warta Kota belum lama ini.
Menggeluti sepak bola bukanlah hal mudah. Peri Sandria sempat dilarang orang tuanya.
Bahkan sepak bola dianggap orangtuanya membahayakan dirinya, karena bisa menyebabkan cedera kaki.
"Tapi saya orangnya bandel, ngeyel juga jadi saya tetap main bola. Bahkan dulu saya punya kambing, biasanya setelah ngangon kambing saya langsung main bola hingga pukul 7 malam dan dicariin orangtua," tambahnya.
Masuk ke jenjang SMP, barulah dirinya mengenakan sepatu bola. Uniknya, ia meminta dibelikan sepatu bola secara diam-diam.
Sejak kelas 1 SMP, Peri Sandria menanamkan tekad akan menjadi pemain profesional.
"Saya geluti. Bahkan saat itu saya ikut klb lokal, bernama Tandem Putra. Itu klub perkebunan. Saya tergabung sebagai junior. Lewat laga itu saya dilirik tim Galakarya, dan dimasukin ke tim senior. Saya diminta agar tidak minder karena saya paling muda," kenangnya.
Dari Galakarya, ia dilirik oleh Eddy Simon untuk bergabung dengan klub Medan, dengan syarat Peri Sandri harus ikut turnamen Soeratin terlebih dulu.
Peri Sandria pun ikut PSKD Binjai di Piala Soeratin dan dipantau.
"Tahun 1984 pun saya gabung klub Medan selama satu tahun setengah. Dari klub Medan, saya terpilih bersama Sudirman masuk di Diklat Ragunan. Disanalah baru saya mengalami proses seleksi yang benar-benar ketat," ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/mantan-pemain-bola-nasional.jpg)