Sabtu, 9 Mei 2026

Kisah Mantan Pesepakbola

Mengenal Peri Sandria, Anak Kampung yang Menjadi Legenda Sepak Bola Indonesia

Pria kelahiran Binjai, Sumatera Utara tahun 1969 ini, masih menjadi striker lokal pencetak gol terbanyak di Liga Indonesia, dengan torehan 34 gol

Tayang:
Penulis: RafzanjaniSimanjorang |
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Mantan pemain bola Indonesia Peri Sandria Namanya akan selalu dikenang sebagai salah satu penyerang lokal terbaik yang pernah dimiliki sepak bola Indonesia pada era 90an. 

Laporan Reporter WARTAKOTALIVE.COM, Rafsanzani Simanjorang

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Peri Sandria adalah mantan legenda timnas sepak bola Indonesia. 

Pria kelahiran Binjai, Sumatera Utara tahun 1969 ini, masih menjadi striker lokal pencetak gol terbanyak di Liga Indonesia, dengan torehan 34 golnya. 

Rekor itu ia catatkan di kompetisi Ligina musim 1994-1995, tapi dipecahkan oleh striker Bali United Sylvano Comvalius dengan 37 gol pada Liga 1 musim 2017

Sebelum menjadi legenda sepak bola di Indonesia, bagaimanakah masa kecil Peri Sandria?

"Saya ini hanya seorang anak desa, anak perkebunan. Usia 10 tahun, saya mulai belajar bermain bola, tanpa sepatu (nyeker) Tak seperti saat ini ya, di SSB sudah pakai sepatu. Saya dulu main kaki ayam bersama teman-teman di sekolah," ujarnya kepada Warta Kota belum lama ini.

Menggeluti sepak bola bukanlah hal mudah. Peri Sandria sempat dilarang orang tuanya.

Bahkan sepak bola dianggap orangtuanya membahayakan dirinya, karena bisa menyebabkan cedera kaki.

"Tapi saya orangnya bandel, ngeyel juga jadi saya tetap main bola. Bahkan dulu saya punya kambing, biasanya setelah ngangon kambing saya langsung main bola hingga pukul 7 malam dan dicariin orangtua," tambahnya.

Masuk ke jenjang SMP, barulah dirinya mengenakan sepatu bola. Uniknya, ia meminta dibelikan sepatu bola secara diam-diam.

Sejak kelas 1 SMP, Peri Sandria menanamkan tekad akan menjadi pemain profesional.

"Saya geluti. Bahkan saat itu saya ikut klb lokal, bernama Tandem Putra. Itu klub perkebunan. Saya tergabung sebagai junior. Lewat laga itu saya dilirik tim Galakarya, dan dimasukin ke tim senior. Saya diminta agar tidak minder karena saya paling muda," kenangnya.

Dari Galakarya, ia dilirik oleh Eddy Simon untuk bergabung dengan klub Medan, dengan syarat Peri Sandri harus ikut turnamen Soeratin terlebih dulu.

Peri Sandria (10) ikut mempersembahkan medali emas cabor sepak bola di SEA Games 1991 Jakarta yang saat itu dilatih oleh Anatoly Polisin
Peri Sandria (10) ikut mempersembahkan medali emas cabor sepak bola di SEA Games 1991 Jakarta yang saat itu dilatih oleh Anatoly Polisin (Istimewa)

Peri Sandria pun ikut PSKD Binjai di Piala Soeratin dan dipantau.

"Tahun 1984 pun saya gabung klub Medan selama satu tahun setengah. Dari klub Medan, saya terpilih bersama Sudirman masuk di Diklat Ragunan. Disanalah baru saya mengalami proses seleksi yang benar-benar ketat," ungkapnya.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved