Kamis, 7 Mei 2026

Vaksinasi covid19

Australia Kembali Laporkan Kasus Pembekuan Darah setelah Penyuntikan Vaksin AstraZeneca

Australia kembali melaporkan kasus pembekuan darah setelah penyuntikan vaksin AstraZeneca pada Selasa (13/4/2021).

Tayang:
Tribunnews.com
Ilustrasi AstraZeneca 

Wartakotalive.com - Australia kembali melaporkan kasus pembekuan darah setelah penyuntikan vaksin AstraZeneca pada Selasa (13/4/2021).

Meski demikian, Reuters melaporkan, tak ada peningkatan pembatalan jadwal vaksinasi.

Diketahui, pihak berwenang bekerja lebih keras untuk menyusun kampanye vaksinasi yang dinilai kurang rapi.

Pekan ini, Australia disebut membatalkan rencana untuk memvaksinasi hampir semua penduduknya pada akhir tahun.

Keputusan ini diambil mengingat adanya laporan dari regulator obat Eropa yang menemukan kasus pembekuan darah yang langka di antara penerima dewasa dosis AstraZeneca yang diperkirakan memiliki hubungan.

Hal ini mendorong pejabat Australia untuk merekomendasikan mereka yang berusia di bawah 50 tahun untuk menerima vaksin Pfizer Inc daripada suntikan AstraZeneca, sehingga program vaksinasi menjadi berantakan.

“Kami telah mengantisipasi potensi penurunan yang signifikan (dalam jumlah vaksinasi, tetapi itu) bukan yang kami lihat pada tahap ini,” ucap Menteri Kesehatan Greg Hunt mengatakan kepada wartawan di Canberra.

Sementara itu, pihak berwenang mengatakan pihaknya tidak memiliki rencana untuk menambahkan vaksin satu dosis dari Johnson & Johnson ke dalam program vaksinasinya.

Sebab, Australia ingin menjauh dari pengadaan vaksin yang sedang ditinjau kemungkinan kaitannya dengan pembekuan darah.

Vaksin Covid-19 dari Johnson & Johnson dan AstraZeneca menggunakan adenovirus, kelas virus flu biasa yang tidak berbahaya, untuk memasukkan protein virus corona ke dalam sel-sel tubuh dan memicu respons imun.

Kedua produk tersebut sedang ditinjau oleh regulator obat Eropa setelah menemukan kemungkinan adanya kaitan dengan pembekuan darah, meskipun dikatakan keuntungannya masih lebih besar daripada risikonya.

"Pemerintah tidak berniat untuk membeli vaksin adenovirus lebih lanjut saat ini," kata juru bicara kementerian kesehatan kepada Reuters.

Upaya imunisasi Australia sangat bergantung pada vaksin AstraZeneca, dengan rencana untuk memproduksi 50 juta dosis di negara tersebut.

Perubahan kebijakan tersebut mendorong pihak berwenang pekan lalu untuk menggandakan pesanan Pfizer sebelumnya menjadi 40 juta tembakan.

Bendahara Josh Frydenberg mengatakan kemunduran dalam peluncuran vaksin seharusnya tidak "menggagalkan momentum dalam pemulihan ekonomi kita".

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved