Bursa Saham
Beda dengan Saham, Main Forex Dinilai Lebih Berisiko, Begini Penjelasannya
Saat ini mulai bermunculan influencer yang juga memberikan pemahaman dalam investasi forex, sehingga investor dapat belajar mendapatkan keuntungan.
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama mengatakan "bermain" instrumen keuangan forex lebih berisiko dibanding saham.
Nafan menjelaskan, investasi forex lebih rumit karena ada pilihan beli dan jual sekaligus, beda dengan saham yang utamakan membeli.
"Untuk forex, kita ambil dua keputusan beli dan jual (kapan). Kalau saham kan biasanya itu beli saja, lebih baik seperti itu (saham)" ujarnya kepada Tribunnews, belum lama ini.
Baca juga: Tekanan ke IHSG Mungkin Belum Selesai, Bisa Cermati Saham-saham Ini
Kedua, dia menjelaskan, forex sangat likuid, apalagi jika main di mata uang poundsterling (GBP), dolar Amerika Serikat (USD), dan euro (EUR).
"GBP, USD, EUR per detik akan berubah. Kalau saham tidak terlalu karena volatilitas tinggi," kata Nafan.
Kendati demikian, dia menambahkan, saat ini mulai bermunculan influencer yang juga memberikan pemahaman dalam investasi forex, sehingga investor dapat belajar mendapatkan keuntungan.
Baca juga: Soal Jual Saham PT Delta, Sani Minta Anies Baswedan Gelar Coffee Morning untuk Lobi Pimpinan
"Zaman dulu belum ada influencer, sekarang sudah ada di YouTube. Menggandeng Youtuber, mengajarkan begini begitu," pungkasnya.
Beli saham pakai kepala dingin
Sementara itu, analis pasar keuangan Ariston Tjendra menilai investor saham harus menyiapkan dana dingin biar tidak berujung setres dan melakukan hal yang tidak seharusnya.
Menurut dia, investor sebisa mungkin pantang untuk memakai dana panas berupa pinjaman ketika berinvestasi saham.
"Artinya dana yang tidak dipakai untuk operasional harian atau kebutuhan lainnya. Tidak boleh dana pinjaman, sehingga bila terjadi kerugian, tidak setres," ujarnya, Selasa (23/3/2021).
Baca juga: Aturan PPnBM Nol Persen Mobil Hingga 2.500 CC Berlaku April 2021, Berikut Ini Penjelasan Sri Mulyani
Selain itu, lanjutnya, investor harus menyadari bahwa investasi di pasar saham itu memiliki risiko kerugian kapanpun.
Maka, investor harus mengedukasi diri sendiri dengan berbagai pengetahuan soal cara atau strategi trading dan manajemen risiko.
"Lebih baik investor pemula bertransaksi saham bukan karena ikut-ikutan, tapi mendasarkan transaksinya dengan analisa sendiri, sehingga bila harga saham yang dipilih berbalik turun, investor sudah menyiapkan strategi untuk menghadapi hal tersebut," papar Ariston.
Baca juga: Gaikindo Sambut Baik Rencana Perluasan Diskon PPnBM ke Mobil 2.500 cc
Baca juga: Daihatsu Optimis Relaksasi PPnBM Bakal Beri Dampak Positif ke Penjualan Mobil hingga Akhir 2021
Cutloss atau Hold?
Dipaparkan lebih lanjut, berinvestasi saham memang bisa mendapatkan keuntungan tinggi dibanding instrumen lainnya, tapi ada juga risikonya yakni ketika harga mengalami penurunan.
Ketika harga saham sedang turun maka ada dua pilihan, yakni menjualnya dalam posisi rugi atau cutloss dan tetap bertahan dengan harapan bisa naik harganya atau hold.
Ariston Tjendra menyarankan, agar investor khususnya pemula bisa masuk ke saham blue chip agar tidak pusing cutloss atau hold ketika harga turun karena dukungan fundamental bagus dan harga cenderung stabil.
"Bisa melakukan cut loss atau wait and see atau averaging. Untuk investor pemula, diusahakan hanya masuk ke saham blue chip karena harga saham ini relatif lebih stabil," ujarnya
Alasan beli
Peneliti senior sekaligus ekonom Poltak Hotradero menambahkan, jika investor mengalami floating loss, coba dipikirkan kembali dulu alasan beli sahamnya.
Menurut dia, jika alasannya karena fundamental perusahaan terbuka itu bagus, bisa tetap hold untuk jangka panjang.
"Beli sahamnya karena apa? Kalau berdasarkan analisis laporan keuangan dan emitennya memang tetap bertumbuh pendapatan dan labanya maka biarkan saja. Tetap hold. Kecuali tiba-tiba terjadi perubahan signifikan pada laporan keuangan," tandasnya
Yanuar Riezqi Yovanda
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/ilustrasi-forex.jpg)