Kolom Trias Kuncahyono

Petruk dan Pinokio

Butet Kartaredjasa sengaja memilih Petruk sebagai tokoh untuk menyambut Presiden Jokowi saat berkunjung ke Padepokan Bagong Kussudiarja di Yogyakarta.

Screenshoot/YouTube
Ilustrasi: Semar, Petruk, Gareng dan Bagong. 

Karena itu, keadilan sejati harus ditegakkan sekalipun langit runtuh.

Kisah Petruk dadi Ratu misalnya, itu merupakan sindiran. Kisah satir terhadap keadaan yang tidak semestinya. 

Misalnya, ketika ulama ngomong soal agama tapi bicara politik. Pebisnis jadi politikus. Pelawak jadi wakil rakyat. Politisi malah jadi pelawak.

Yang tahu diam, yang tidak tahu berteriak-teriak merasa dirinya tahu. 

Petruk yang adalah wakil rakyat, meskipun hidungnya panjang tentu dia bukan Pinokio, boneka kayu ciptaan kakek tukang kayu bernama Geppeto, yang setiap kali berbohong hidung Pinokio akan memanjang atau mlungker.

Sebagai rakyat biasa, wong cilik, Petruk akan selalu bicara apa adanya, terus terang, karena dunia wong cilik adalah dunia yang terang benderang. Bukan dunia kegelapan.

Mereka tahu, seorang pembohong tidak akan dipercaya. Bahkan ketika berbicara tentang kebenaran. 

Kata orang pandai, sebuah kebohongan tidak akan cocok dengan apapun, kecuali dengan kebohongan itu.

Pikiran wong cilik tidak rumit karena tidak memikirkan bagaimana caranya berbohong.

Wong cilik hanya punya pikiran sederhana, yaitu bagaimana dapat melanjutkan hidup ini dengan tenang dan berkecukupan.

Untuk bisa hidup mereka bekerja keras, itu mereka lakukan meski mereka tidak memahami filosofi orang-orang cerdik pandai, homo faber atau manusia adalah mahluk yang bekerja. Tapi mereka tetap bekerja. Demi apa? Demi hidup.

Mereka bisa terbiasa menghadapi kekurangan, namun selalu punya jalan keluar. Itulah kearifan lokal. 

Tugas wong gede adalah memberikan kebebasan, memberikan kemandirian dan ketenagan hidup wong cilik.

Syukur-syukur bisa memberikan kemudahan bagi wong cilik, tidak korupsi dan berebut kursi. 

Itulah kiranya pesan yang disampaikan Butet Kartaredjasa dengan kehadiran tarian Petruk ketika menyambut Presiden Jokowi.

Karena apa? Karena ia sepenuhnya mengabdi rakyat dan untuk rakyat. 

Sumber: WartaKota
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved