Berita Nasional
Sering Diejek Menteri Pecatan, Rizal Ramli Bongkar Ada Peran Taipan saat Dirinya Didepak Jokowi
Rizal Ramli menyebut bahwa kepemimpinan Jokowi lemah dan tidak mandiri lantaran tak mampu menghadapi tekanan dari para taipan.
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA-- Ekonom senior Rizal Ramli sering menghadapi hujatan ketika ia memberikan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah.
Salah satunya, dia sering diejek sebagai 'menteri pecatan'.
Seperti diketahui, reshuffle Kabinet Kerja jilid II dinilai mengakomodasi kepentingan politik karena dinilai kental dengan nuansa pragmatis.
Ini terlihat dari beberapa nama yang 'terdepak' dari kursi menteri di luar dugaan, misalnya saja Rizam Ramli dan Anies Baswedan.
Rizal Ramli didepak dari jabatan Menteri Koordinator Kemaritiman dan digantikan oleh Luhut Binsar Pandjaitan yang sebelumnya menduduki jabatan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan.
Baca juga: Payudaranya Diremas, Cewek Cantik Penjual Minum Polisikan Lurah di Bekasi, Wali Kota Angkat Bicara
Saat itu, sedang ramai berita tentang penolakan Rizal Ramli terhadap reklamasi teluk Jakarta.
Rizal Ramli bahkan 'bersitegang' dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang saat itu menjadi gubernur DKI Jakarta.
Rizal pun membocorkan sedikit alasannya kenapa dirinya bisa didepak.
Sejak dipercaya Presiden Joko Widodo (Jokowi) bergabung di kabinet Kerja sebagai Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli (RR) mengaku telah menjalankan amanahnya untuk melaksanakan visi Trisakti dan Nawacita demi keberpihakannya pada rakyat, demi rakyat kecil dan kepentingan orang banyak.
Baca juga: Survei COPS, Puan Maharani Paling Berpeluang Gantikan Jokowi, Kalahkan Ganjar, Anies hingga RK
Namun, berbagai rintangan harus dihadapi Rizal Ramli.
Salah satunya ia harus berhadapan dengan 'kekuatan besar' yang dia namakan sebagai taipan.
Di sisi lain, Rizal Ramli menyebut bahwa kepemimpinan Jokowi lemah dan tidak mandiri lantaran tidak mampu menghadapi tekanan dari para taipan.
"Kenapa sih RR harus dipecat? RR Berpihak pada rakyat dan disingkirkan," tulis Rizal Ramli di akun Twitternya, Rabu (3/3/2021).
Baca juga: Jokowi Cabut Aturan Investasi Miras usai Tuai Penolakan, Mahfud MD: Pemerintah Tak Alergi Dikritik
"RR berpihak pada rakyat dan disingkirkan oligarki di belakang Jokowi karena kepemimpinan Jokowi sendiri lemah, tidak mandiri dan tidak sanggup menghadapi pengendalian/tekanan taipan/oligarki yang jadi pendukungnya," imbuhnya.
Meski disingkirkan, Rizal Ramli mengaku tidak kecewa.
Ia menginggung ketika dirinya sempat menolak saat hendak diangkat Jokowi menjadi menteri.
Namun, karena Jokowi terus memaksa, akhirnya ia bersedia membantu sebagai Menko Kemaritiman.
Rizal Ramli justru mengaku senang dan justru tahu jika Jokowi ternyata lemah karena tidak mampu menghadapi tekanan dari taipan.
"RR malah happy-happy aja Karena RR menolak tawaran @jokowi untuk mau jadi Menko Maritim 3x di istana Bogor bulan Agustus 2015. Baru setelah Jkw minta tolong dgn sangat, RR ok. Tapi ternyata Jkw lemah, atas tekanan taipan reklamasi & Peng-Peng, RR dipecat. Bersyukur krn jkw memble," tulis Rizal Ramli
Penjelasan dari JK terkait alasan resuffle Rizal Ramli
Beberapa waktu lalu Wakil Presiden Indonesia ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK) menceritakan detik-detik mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Kabinet Kerja Rizal Ramli direshuffle.
Awalnya JK menceritakan alasan di balik penggantian Rizal ketika itu.
JK mengatakan saat itu Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk mengganti Rizal karena sejumlah hal namun terutama karena dinilai tidak mampu memimpin dan berkoordinasi.
JK mengungkapkan saat itu Rizal dinilai tidak mampu memimpin di antaranya ditunjukkan dengan pada saat rapat koordinasi dengan para menteri yang dikoordinasikannya para menteri tersebut jarang datang dan hanya diwakili oleh Direktur Jenderal dari kementerian tersebut.
Baca juga: Siap Nikahi Nissa, Aldi Taher Ciptakan Lagu Berjudul Nissa Sabyan i Love U so Much, Berujung Bully
Selain itu, kata JK, usul Rizal terkait dengan Blok Masela saat rapat Kabinet Kerja ketika itu yang kemudian sempat disetujui Jokowi juga dianggap justru tidak tepat dan tidak menguntungkan negara.
Karena itu, Rizal dipanggil ke Istana oleh Jokowi pada 10 bulan masa jabatannya sebagai Menko Bidang Kemaritiman.
Saat itu, kata JK, Jokowi menyampaikan sendiri kepada Rizal alasan menggantinya adalah demi kebaikan Kabinet Kerja.
Namun ketika itu, kata JK, Rizal menolak dan menanyakan apa kesalahannya.
Baca juga: Mudahkan Akses Pengiriman Logistik, Kemenhub Membuka Rute Baru Tol Laut Papua-Papua Barat
Ketika itu, kata JK, Rizal bahkan sempat marah-marah dan bersikukuh meminta Jokowi menjelaskan apa kesalahannya.
Akhirnya, kata JK, Jokowi meminta Rizal untuk menunggunya di sebuah ruangan di Istana karena Jokowi harus mengurusi persoalan lainnya.
Setelah urusan Jokowi selesai sekira pukul 10 malam, kata JK, Jokowi menanyakan ajudannya apakah Rizal masih di Istana.
Mengetahui Rizal masih ada di Istana, kata JK, Jokowi justru mengajak dirinya untuk pulang dan meninggalkan Rizal.
JK mengatakan ketika itu ia menuruti kemauan Jokowi dan pulang.
Kemudian, kata JK, sekira 30 menit setelah keduanya ke luar dari Istana, Rizal menanyakan di mana Jokowi berada.
Mengetahui Jokowi dan dirinya sudah pulang, Rizal kemudian kesal.
Baca juga: Jokowi Cabut Aturan Investasi Miras usai Tuai Penolakan, Mahfud MD: Pemerintah Tak Alergi Dikritik
Setelah itu, kata JK, Rizal tidak menghubungi untuk menanyakan terkait alasan penggantiannya kepada dirinya.
Namun demikian setelah itu, JK mengaku masih sesekali bertemu dengan Rizal jika ada acara-acara.
"Kasihan juga, sampai sekarang saya juga kasihan," kata JK dalam tayangan Karni Ilyas Club yang ditayangkan perdana pada Jumat (6/11/2020).
Dalam tayangan tersebut JK membantah bahwa ia yang telah meminta Jokowi untuk mengganti Rizal.
Baca juga: Firasat Ustaz Yusuf Mansur Terbukti, Jokowi Akhirnya Cabut Aturan Investasi Miras
Menurutnya ia tidak memiliki kewenangan untuk mengganti menteri dalam Kabinet Kerja dan hanya Jokowi yang punya hak tersebut.
"Tidak, manalah? Yang menyusun, yang mengganti orang kan, privilige atau hak presiden kan," kata JK.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/rizmli.jpg)