Kesehatan
Harapan Baru Mendapatkan Keturunan Lewat Program Bayi Tabung
Keberhasilan dan kegagalan program bayi tabung dipengaruhi sel telur. Sel telur berkaitan juga dengan kondisi ibu.
Penulis: LilisSetyaningsih |
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Mengikuti program bayi tabung in vitro fertilization (IVF) menjadi ‘harapan terakhir’ bagi pasangan Priska (36) dan Denny (31) untuk mendapatkan keturunan di tahun keempat pernikahan.
Sebelum mencoba bayi tabung, setahun mencoba program pengobatan namun belum mendapatkan hasil.
Dokter kemudian memberikan beberapa opsi sampai akhirnya Priska dan Denny sepakat memilih program bayi tabung.
“Usia sudah tidak muda lagi. Kami tidak ingin membuang-buang waktu lagi, jadi mantap mengikuti program bayi tabung,” ujar Priska yang dihubungi Warta Kota, belum lama ini.
Program bayi tabung adalah metode ketika sperma dan sel telur dipertemukan di luar tubuh manusia (dilakukan di laboratorium khusus).
Hasil pertemuan sperma dan sel telur ini disebut embrio. Embrio ini kemudian ditanam di rongga rahim calon ibu.
Baca juga: Sebelum Hamil, Zaskia Sungkar Rencana Jalani Program Bayi Tabung Diluar Indonesia, Mengapa Belanda?
Baca juga: Zaskia Sungkar dan Irwansyah Tawarkan Program Bayi Tabung kepada Masyarakat
Dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan fertilitas, endokrinologi, dan reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre dan RS Pondok Indah – Pondok Indah dr Yassin Yanuar Mohammad mengatakan, keberhasilan dan kegagalan program bayi tabung dipengaruhi sel telur.
Sel telur berkaitan juga dengan kondisi ibu.
“Usia merupakan faktor yang penting. Ketika usia bertambah, jumlah dan kualitas sel telur menurun, sehingga menurunkan keberhasilan, dan keguguran meningkat. Sebaiknya bayi tabung dilakukan saat ibu dibawah usia 35 tahun,” jelas dr Yassin.
dr Yassin menyampaikan hal itu saat menjadi pembicara di press konferensi secara virtual dengan tema ‘RS Pondok Indah Group IVF Centre, Harapan Baru untuk Miliki Buah Hati’ belum lama ini.
Angka keberhasilan bayi tabung mencapai 40 persen per siklus. Angka ini tertinggi dibandingkan metode penanganan ketidaksuburan lainnya, seperti inseminasi.
Faktor suami juga berpengaruh, walaupun seringkali tidak sekompleks pihak perempuan.
Baca juga: Program Bayi Tabung Belum Membuahkan Hasil, Gilang Dirga: Tuhan Memang Belum Kasih
Pada pihak pria akan dilihat kondisi spermanya. Dari sisi bentuk, jumlah, kemampuan sperma bergerak hingga materi genetic (DNA).
Setelah pemeriksaan tambahan, akan terlihat apakah banyak yang rusak atau bahkan bisa juga terjadi azoospermia, atau cairan mani tanpa ada sel sperma.
Pada kasus pria dengan azoospermia, pembuahan alami hampir pasti tidak bisa terjadi. Sehingga pembuahan harus dilakukan di luar tubuh.
Sel sperma diambil di ‘pabrik’ sel sperma yakni di testis.
Secara umum, tindakan bayi tabung dilakukan ketika ada faktor sperma yang ‘kosong’ (azoospermia), sumbatan kedua saluran telur, endometriosis atau kista cokelat, gangguan pematangan telur, dan ketidaksuburan yang tidak bisa dijelaskan.
Disarankan juga pada kondisi long distance marriage, infeksi penyakit seperti HIV, hepatitis, pencegahan penyakit genetik, disfungsi seksual, vaginismus (tegang vagina).
Baca juga: Bentuk Syukur, Asmirandah dan Jonas Rivanno Biayai Pasangan Suami Istri Program Bayi Tabung
Selain itu, program bayi tabung dilakukan setelah lini 1 dan lini 2 belum mendapatkan hasil.
Lini pertama merupakan pemberian obat-obatan yang bisa dilakukan 4-6 siklus.
Lini kedua dengan teknologi terbantu inseminasi,yakni suatu tindakan penyemprotan sperma yang sudah diproses ke rahim ibu.
Sperma tidak membutuhkan ‘perjalanan jauh’,tapi pembuahan masih di dalam tubuh. Lini kedua juga dilakukan 4-6 siklus. Sementara lini ke 3 adalah bayi tabung.
Dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan fertilitas, endokrinologi dan reproduksi dr Aida Riyanti, Sp.OG-KFER, MRep.Sc, mengatakan, tidak semua pasangan melewati lini 1 dan 2.
Bisa saja langsung lini 3. Apalagi ada indikasi tertentu seperti azoospermia.
“Harus lihat kasus per kasusnya. Pada saat konseling dijelaskan ada di mana gangguan kesuburan pasangan tersebut dan melihat akar masalahnya. Ada yang ingin berjenjang hingga 4 kali siklus, tapi ada yang langsung bayi tabung karena waktu terbatas,” ujar dr Aida yang berpraktek di RS Pondok Indah IVF dan RS Pondok Indah – Bintaro Jaya ini.
Teknologi dan Teknik
Prof Dr dr Budi Wiweko, Sp.OG-KFER, MPH, dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan fertilitas, endokrinologi, dan reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre mengatakan, selain usia ibu, program bayi tabung sangat dipengaruhi juga teknologi medis dan teknik yang digunakan.
Keduanya berkesinambungan guna meningkatkan peluang keberhasilan mendapatkan kehamilan.
“Dengan kemajuan teknologi medis saat ini, pengerjaan yang berhubungan dengan sel telur dan sperma menjadi lebih optimal, proses pembuahan sel telur lebih maksimal, penyimpanan embrio lebih terjaga kualitasnya, dan minim risiko kerusakan, hingga memungkinkan untuk dilakukannya pemeriksaan kromosom untuk mencegah terjadinya transfer embrio dengan kelainan genetik,” ujar Prof Budi.
Chief Executive Officer RS Pondok Indah Group dr Yanwar Hadiyanto, MARS mengatakan, salah satu teknologi medis yang digunakan di RS Pondok Indah IVF centre adalah time lapse incubator.
Time lapse incubator adalah alat inkubator terkini yang terdiri dari beberap bilik yang dilengkapi kamera dan mikroskop di masing-masing bilik.
Hal ini guna menangkap gambaran perkembangan embrio setiap lima menit sekali, tanpa harus mengeluarkannya dari inkubator.
Embrio setiap pasien akan mendapatkan satu bilik inkubator tersendiri dan terpisah dengan embrio milik pasien lain.
Ada juga teknologi untuk memeriksa kromosom sebelum embrio ditransfer ke dalam rahim.
Pemeriksaan kromosom dilakukan dengan metode pre-implantation genetic testing for aneuploidy (PGT-A) untuk mendeteksi kelainan genetik embrio serta mengurangi risiko keguguran.
Segenap teknologi itu menjadi terintegrasi dengan didukung oleh 9 dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang seluruhnya bergelar konsultan fertilitas, endokrinologi, dan reproduksi yang telah berpengalaman melakukan tindakan IVF.
Biaya
Dokter Yanwar, mengatakan, selain teknologi, obat-obatan adalah komponen biaya dalam program bayi tabung.
Perbedaan di berbagai centre tergantung obat dan teknologi yang digunakan.
“RS Pondok Indah berusaha lebih banyak kalangan yang bisa menggunakan metode ini. Yang membuat mahal seringkali faktor usia, karena artinya obat yang digunakan berbeda dan lebih banyak sehingga lebih mahal. Sangat penting datang pada usia yang lebih muda sehingg harga bisa lebih ditekan,” katanya.
Dari penelusuran diberbagai centre yang ada, paket bayi tabung yang ditawarkan berkisar Rp 40 juta hingga Rp 100 juta.
Dengan alasan biaya dan sudah menunggu waktu lama untuk mendapatkan buah hati, beberapa pasangan ingin mendapatkan bayi kembar diproses bayi tabung. Sehingga dalam proses penanaman embrio dimasukan 2-3 embrio.
Selain juga bertujuan sebagai alternatif bila ada embrio yang tidak berkembang, masih ada embrio lainnya.
Namun tren tersebut sudah tidak disarankan. Kini dokter lebih mengambil opsi menanam satu embrio yang betul-betul sehat.
Embrio yang tidak ditanam akan disimpan beku dan dikeluarkan untuk kehamilan selanjutnya.
“Pada teknologi bayi tabung, penanaman embrio lebih dari satu jadi peluang kembar. Namun sekarang layanan IVF lebih memilih single embrio karena kehamilan kembar lebih berisiko kelahiran premature, lahir perlu rawat ICU, cost menjadi lebih tinggi. Sehingga target kelahiran satu bayi yang sehat, bukan kembar,” kata Prof Budi.
Proses bayi tabung
Ada 8 proses bayi tabung yang memakan waktu empat minggu, yang dimulai dari hari kedua haid.
Proses ini tentu saja setelah melalui pemeriksaan bahwa pasangan tersebut sudah dinyatakan sehat dan siap mengikuti program bayi tabung.
1. Pemeriksaan USG, dan hormon untuk memastikan indung telur siap dirangsang dan distimulasi. Hari kedua haid lakukan pemeriksaan dan bila baik mulai penyuntikan.
2. Penyuntikan dengan obat hormon(rFSH/hMG) yang berfungsi merangsang sel telur menjadi matang dan sel telur dapat yang baik. Penyuntikan bisa mencapai 10 kali dan akan di USG secara berkala, biasanya hari ke 2, hari ke 6 dan seterusnya. Proses ini berlangsung 10-12 hari.
3. Petik ovum/ pick up. Tadinya telur kecil-kecil jadi besar dan siap dibuahi. Pada satu siklus bisa didapat sel telur lebih dari 2 atau bahkan 10-15 sel telur yang siap dibuahi dan diambil melalui liang vagina. Pada proses ini, calon ibu dibius sekitar 10 menit, dan setelah itu dapat beraktivitas seperti biasa.
4. Pada hari pengambilan sel telur, suami juga diambil sel sperma. Bila suami mengalami azoospermia pembedahan dilakukan di hari yang sama.
5. Proses pembuahan di luar tubuh. Dikerjakan ahli emberiologi yang sangat terampil untuk menyuntikan sel sperma ke dalam sel telur sehingga meningkatkan pembuahan dan terjadinya embrio.
6. Pengembangan embrio
7. Memindahkan embrio ke rahim ibu. Embrio berusia 3-5 hari.
8. Menunggu hasil (14 hari) cek hormon hCG, bila positif artinya ibu hamil.
Setelah 8 tahapan proses bayi tabung dilakukan dengan didukung teknologi terbaik dan dokter yang ahli dibidangnya, proses yang tak kalah penting adalah jangan stress.
Semua proses yang dilakukan seringkali berpotensi menyebabkan stress tinggi.
Mengingat harapan yang besar akan keberhasilan tindakan bayi tabung.
Dukungan orang terdekat untuk meminimalkan stress perlu dilakukan.
“Positif thingking, relaks dan yakin akan hamil,” kata Prof Budi memberikan tips agar tidak stress. (lis)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/bayi-tabung-1302.jpg)