Berita Internasional
Sentimen Positif, Stimulus Fiskal Jumbo Amerika Serikat Siap Diteken
Partai Demokrat di Senat Amerika bersiap untuk mengambil suara, tanpa dukungan Partai Republik untuk meloloskan proposal bantuan Covid-19 tersebut.
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -Rancangan Undang-undang (RUU) stimulus fiskal Covid-19 senilai 1,9 triliun dolar Amerika Serikat (AS) yang diusulkan pemerintah Joe Biden mendapatkan momentum pada hari Jumat kemarin.
Dewan Perwakilan Rakyat AS dikabarkan telah menyepakati persetujuan akhir pada besaran anggaran yang akan memungkinkan partai Demokrat mendorong paket bantuan Covid-19 melalui Kongres.
"Di sisi lain, paket ini memang mendapat tentangan politisi partai Republik," ujar Pengamat pasar modal Hans Kwee, Minggu (7/2/2021).
• Daftar Negara Terlilit Utang dengan China Diprediksi Bangkrut, Mulai dari Pakistan Hingga Kyrgyzstan
Hans menjelaskan, Partai Republik telah mengusulkan paket stimulus fiskal yang lebih moderat senilai 618 miliar dolar AS yang mencakup cek stimulus yang baru sebesar 1.000 dolar AS per orang.
Sementara, Partai Demokrat di Senat Amerika bersiap untuk mengambil suara, tanpa dukungan Partai Republik untuk meloloskan proposal bantuan Covid-19 tersebut.
Menurut Hans, Bila terjadi pemungutan suara di Senat maka paket itu diperkirakan akan lolos karena posisi kedua partai seimbang, sehingga keputusan akhir ada ditangan Wakil Presiden AS Kamala Harris.
• Kapal Perang TNI AL Bayangi Kapal Induk Amerika Serikat USS Nimitz yang Lintasi Timur Sumatera
"Paket fiskal AS yang besar telah menjadi sentimen positif penggerak pasar saham pekan lalu dan pekan depan," pungkasnya.
Penurunan ekonomi tertajam
Sebelumnya diberitakan, Pengamat pasar modal Hans Kwee mengatakan, ekonomi Amerika Serikat (AS) pada kuartal IV tahun 2020 tercatat tumbuh 4 persen.
Pertumbuhan ini melambat dibandingkan dengan kuartal tiga yang tumbuh 33,4 persen dan sedikit di bawah ekspektasi Wall Street di level 4,3 persen.
"Dengan pertumbuhan tersebut maka di sepanjang tahun 2020 ekonomi Amerika terkontraksi minus 3,5 persen," ujarnya, Senin (1/2/2021).
Baca juga: Kekhawatiran Munculnya Kudeta Militer di Myanmar Saat Aung San Suu Kyi Ditahan
Menurut Hans, kontraksi perekonomian Negeri Paman Sam ini merupakan yang tertajam sejak perang dunia II akibat pandemi Covid-19.
"Perekonomian tahun 2020 dipengaruhi pandemi Covid-19 yang menghancurkan bisnis jasa, seperti restoran dan maskapai penerbangan," katanya.
Pandemi juga dinilainya membuat jutaan orang di AS kehilangan pekerjaan dan jatuh miskin, sehingga solusi yang diberikan International Monetary Fund (IMF) adalah mendorong negara maju untuk memiliki tingkat utang publik yang jauh lebih tinggi setelah krisis pandemi Covid 19.
"Kepastian kebijakan fiskal AS menjadi sangat penting bagi perekonomian dan pasar saham," pungkas Hans.