Kolom Trias Kuncahyono

Dari Jurang yang Dalam

Kolom yang ditulis wartawan senior Harian Kompas, Dari Jurang yang Dalam, mengupas tentang kegundahan seseorang menghadapi pandemi Covid-19.

Istimewa
Kolom Trias Kuncahyono: "Dari Jurang yang Dalam". Foto: Ilustrasi 

I

WARTAKOTALIVE.COM - Seorang sahabat, kemarin, mengirim sepotong doa lewat WhatsApp (WA): “De profundis clamavi ad te, Domine! Domine, exaudi vocem meam!”

Kaget, membaca doa itu. Bung, mengapa situ mengirim doa begitu nggrantes—sangat sedih seperti sudah kehilangan pengharapan—begitu memelas, seperti itu? Mengapa situ meratap, Bung?

Rasanya, doa itu yang harus kulambungkan, Bung, melihat kondisi sekarang ini. Begitu jawabnya. Lalu, ia menulis panjang lebar.

Bung, setiap kali kubaca berita, entah itu yang diberitakan media mainstream atau media sosial atau aku mendengarkan siaran berita televisi juga radio, hati selalu bertanya: “Kapan pandemi ini berakhir?”

Bukankah wajar bertanya seperti itu?

Coba, Bung, situ simak data: berapa banyak orang yang menjadi korban keganasan Covid-19?

Berapa yang meninggal? Dan berapa banyak yang bisa sembuh di seluruh dunia?

Simak pula, berapa korbannya di negeri ini?

Hingga hari Jumat, 29 Januari kemarin, di seluruh dunia tercatat 102.132.746 orang menjadi korban Covid-19; 2. 202.990 orang meninggal; lalu 73.984.929 orang dinyatakan sehat (https://www.worldometers.info/coronavirus/). Mereka itu tersebar di 219 negara, termasuk Indonesia.

Baca juga: Dua Ribu Dua Puluh Satu

Baca juga: Lidah Orang Berakal

Sepuluh besar negara yang paling parah berturut-turut adalah AS, India, Brasil, Rusia, Inggris, Perancis, Spanyol, Italia, Turki, dan Jerman.

Negeri kita, Indonesia, menempati urutan ke-19, Bung!

Per hari Jumat kemarin, menurut data worldometers, di Indonesia ada tercatat 1.051.795 orang sakit, kasus baru 13.802 orang, yang meninggal 29.518, dan yang sembuh total 852.260 orang.

Di tingkat Asia, Indonesia menempati urutan keempat: India, Turki, Iran, Indonesia, Israel, Irak, Pakistan, Bangladesh, Filipina, dan Jepang.

Sulit membayangkan, Bung, apa jadinya seandainya negeri kita ini berupa daratan semua—tidak dipisahkan oleh laut—seperti Eropa.

Ilustrasi foto: Istimewa
Sumber: WartaKota
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved