Kamis, 16 April 2026

Calon Kapolri

Jadi Calon Kapolri Termuda, Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo Harus Perkuat Soliditas Polri

Penunjukan Komisaris Jenderal (Komjen Pol) Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri membawa angin segar di tubuh Polri.

Penulis: Budi Sam Law Malau | Editor: Valentino Verry
Tribunnews/HO/Humas DPR
Calon Kapolri Komjen Listyo Sigit Prabowo memberi salam saat mengikuti fit and proper test alias uji kelayakan dan kepatutan, di Komisi III DPR, Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (20/1/2021). Sigit diharapkan mampu membawa soliditas di tubuh Polri. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Penunjukan Komisaris Jenderal (Komjen Pol.) Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri membawa angin segar di tubuh Polri. Karena mampu melanjutkan reformasi Polri. Tentu harus siap dengan berbagai tantangan dalam menjalankan tugasnya. 

Sigit merupakan Akpol Angkatan 1991. Dari lima nama Jenderal yang diajukan Kompolnas ke Presiden Joko Widodo, dia merupakan jenderal termuda.

Dipilihnya Sigit juga menuai sorotan, karena akan melangkahi dua angkatan setelah kapolri saat ini Jenderal Idham Azis, yang merupakan Akpol Angkatan 1988.

Ketua Presidium Indonesia Cinta Kamtibmas, Gardi Gazarin mengatakan, tantangan yang harus bisa dilalui oleh Sigit ialah bukan hanya mencegah kejahatan konvensional melainkan mampu menjaga soliditas. 

"Pertama, tantangan masalah aksi teror atau kelompok radikal lainnya. Tapi yang penting kalau saya cermati masalah soliditas internal Polri dengan soliditas tinggi maka apapun tantangannya, ke depan akan lancar," katanya dalam diskusi virtual yang diadakan Beranda Ruang Diskusi dan dipandu Yophiandi, akhir pekan lalu.

Apalagi selama ini pergantian Kapolri dalam kurun waktu setahun hingga dua tahun belakangan tidak pernah lepas dari soliditas. Hal itu juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam menangani pandemi COVID-19.

"Apalagi era pandemi dicari soliditas internal, menyusul dengan institusi terkait, seperti TNI kemudian dari Satgas Covid-19 termasuk dengan stake holder lain," jelasnya. 

"Dari Kapolri sekarang yang dibutuhkan kekompakan. Karena dengan Kapolri ini kompak di internal maupun di luar saya yakin semua beres," tambahnya. 

Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unpad, Prof Muradi menyatakan, ketika Presiden sudah menunjuk satu nama menjadi Kapolri, maka di tubuh Pori semuanya akan ikut nurut.

"Ketika Presiden sudah menunjuk satu nama. Maka di internal biasanya manut jarang sekali ada dinamika yang akan membuat terbelah dan sebagainya," imbuh Muradi. 

Mengenai penunjukan Kapolri yang statusnya lebih muda dari angkatan Polri lainnya sudah pernah terjadi sebelum masa reformasi. Dia memandang hal tersebut tidak masalah.

"Penunjukan Kapolri yang lebih muda, saya kira bukan pengalaman pertama. Kalau di era reformasi dua kali. Sebelumnya ada zaman pak Harto jauh lebih muda. Saya kira normal-normal saja," ujarnya. 

Menurutnya, pembawaan Sigit itu cukup supel. Apalagi ketika DPR menyetujuinya menjadi Kapolri, Sigit langsung melakukan kunjungan ke petinggi partai politik. 

"Pak Sigit punya pendekatan yang mirip dengan Pak Tito. Ini memang agak lebih lentur mugkin lebih banyak bergaul juga dengan berbagai pihak, salah satunya politisi," tuturnya.

Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Beka Ulung Hapsara menyebut salah satu tantangan ke depan Kapolri adalah menurunkan angka aduan kepolisian. Karena hampir setiap tahun angkanya peringkat pertama, sebagai institusi yang paling banyak diadukan.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved