Banjir Kalimantan Selatan

Jokowi Tuai Kritik usai Jelaskan Sebab Banjir Kalsel, KLH Pasang Badan, Tetap Salahkan Curah Hujan

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar memastikan bahwa penyebab banjir di Kalimantan Selatan karena curah hujan yang tinggi.

Editor: Feryanto Hadi
Istimewa
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar menyebut penyebab banjir di Kalsel karena tingginya curah hujan 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA--Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar akhirnya turun tangan untuk meluruskan sejumlah pemberitaan tentang penyebab terjadinya banjir di wilayah Kalimantan Selatan.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mendapatkan banyak kritik setelah mengumumkan penyebab banjir di Kalimantan Selatan lantaran curah hujan tinggi.

Selain itu, Jokowi dikritik lantaran tidak menyinggung berkurangnya hutan hujan untuk aktivitas perkebunan dan pertambangan di wilayah itu.

Baca juga: Juluki Dirinya sebagai Ustaz, Aldi Taher Yakin Masuk Surga karena Rajin Posting Video Baca Al-quran

Melalui akun Twitter pribadinya, Siti Nurbaya memastikan penyebab bajir karena curah hujan yang tinggi.

"Penyebab utamanya terjadi anomali cuaca dengan curah hujan sangat tinggi. Selama lima hari dari tanggal 9-13 Januari 2021, terjadi peningkatan 8-9 kali lipat curah hujan dari biasanya. Air yang masuk ke sungai Barito sebanyak 2,08 miliar m3 (normalnya 238 juta m3)," tulis Siti Nurbaya dilihat Wartakotalive.com pada Rabu (20/1/2021).

Siti Nurbaya menjabarkan tentang terjadinya banjir di kawasan itu setelah dalam rentang waktu sangat lama tidak terjadi.

Baca juga: Janji Jokowi Swasembada Daging Sapi Bertolak Belakang dengan Kenyataan, Pedagang kini Mogok Massal

"Kejadian banjir pada DAS Barito di wilayah Kalsel tepatnya berada pada Daerah Tampung Air (DTA) Riam Kiwa, DTA Kurau dan DTA Barabai karena curah hujan ekstrim, dan sangat mungkin terjadi dengan recurrent periode 50 hingga 100 tahun," imbuhnya.

Menteri Siti Nurbaya kemudian menjabarkan lebih lanjut tentang kondisi alam di Kalimantan Selatan, serta tudingan pemerintah mempermudah izin pembukaan lambang tambang.

Baca juga: Komjen Listyo Sigit Ingin Nantinya Polantas Tak Perlu Menilang di Jalan, Cukup Atur Lalulintas Saja

Berikut tulisan lengkapnya:

Ada simpang siur informasi, terlebih banyak data tidak valid yg sengaja dikeluarkan beberapa pihak. KLHK selaku pemegang mandat walidata pemantauan sumberdaya hutan, menjelaskan, penyebab banjir Kalsel anomali cuaca dan bukan soal luas hutan di DAS Barito wilayah Kalsel.

Daerah banjir berada pada titik pertemuan 2 anak sungai yang cekung dan morfologinya merupakan meander serta fisiografi-nya berupa tekuk lereng (break of slope), sehingga terjadi akumulasi air dengan volume yang besar

Faktor lainnya yaitu beda tinggi hulu-hilir sangat besar, sehingga suplai air dari hulu dengan energi dan volume yang besar menyebabkan waktu konsentrasi air berlangsung cepat dan menggenangi dataran banjir.

Ini sekaligus meluruskan pemberitaan beberapa informasi yang keliru dan menyebar massif di tengah situasi bencana. Terlebih lagi metode analisis kawasan hutan yang digunakan tidak sesuai standard dan tidak dengan kalibrasi menurut metode resmi yang dipakai.

Baca juga: Banjir di Gunung Mas Jadi Sejarah Baru, Diduga Akibat Pembalakan Hutan, Ade Yasin Janji Investigasi

Perlu juga diketahui, hasil analisis menunjukan penurunan luas hutan alam DAS Barito di Kalsel selama periode 1990-2019 adalah sebesar 62,8%. Penurunan hutan terbesar terjadi pada periode 1990-2000 yaitu sebesar 55,5%.

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved