Virus Corona
Dua Inovasi Alat Pendeteksi Cepat Covid-19 Karya Anak Bangsa Dapat Perkuat Sistem Surveillance
Kelebihan GeNose adalah non invasif (tidak memasukkan alat ke dalam tubuh), hanya perlu dihembuskan nafas dan hasilnya cepat, tidak lebih dari 5 menit
Penulis: Mochammad Dipa | Editor: Ichwan Chasani
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA — Alat pendeteksi cepat Covid-19 buatan para ahli Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, GeNose resmi mengantongi izin edar dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia dengan nomor izin (KEMENKES RI AKD 20401022883) pada Kamis 24 Desember 2020 lalu.
Selain GeNose, ada juga inovasi anak bangsa yaitu alat pendeteksi cepat Covid-19 dengan metode Rapid Tes Antigen buatan Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, bernama CePAD yang juga telah mendapatkan izin edar dari Kemenkes pada November 2020.
Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Bambang Brodjonegoro, mengatakan bahwa kedua inovasi alat pendeteksi cepat Covid-19 karya anak bangsa ini dapat memperkuat sistem surveillance (pengamatan) 4T, yaitu testing, tracing, tracking, dan treatment. Tentunya, 3M juga perlu dilakukan, yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak untuk meminimalisir penyebaran virus.
“Nah karena itu Indonesia perlu punya kemandirian di dalam melakukan testing dan monitoring tersebut. Terutama untuk skrining, kalau untuk testing tidak lain kita melakukannya dengan PCR yang merupakan gold standard, tetapi untuk skrining di sinilah dituntut kemampuan kita untuk melakukan inovasi melahirkan alat skrinning dengan waktu cepat, relatif nyaman dan tingkat akurasi yang tinggi,” ujar Bambang saat konferensi pers virtual Produk Riset dan Inovasi GeNose dan CePAD yang disiarkan melalui kanal Youtube, Senin (28/12/2020).
Bambang pun mengharapkan inovasi ini dapat mendorong pemulihan ekonomi. Jadi, tidak hanya bicara masalah kesehatan, namun juga alat ini bisa menunjang upaya untuk mulai memulihkan kegiatan ekonomi.
’’Kita harus selalu mencari keseimbangan antara menjaga protokol kesehatan dengan pemulihan ekonomi itu sendiri,’’ ungkapnya.
Hembusan nafas
Terkait cara kerjanya, Bambang menjelaskan bahwa GeNose merupakan alat pendeteksi Covid-19 dengan pengambilan sampel melalui hembusan nafas yang dikumpulkan pada plastik atau balon yang kemudian akan dimasukkan ke dalam sensing unit yang memiliki puluhan sensor udara.
Adapun alat ini hanya mendeteksi partikel VOC yang memang secara spesifik dikeluarkan oleh orang yang terinfeksi Covid-19
“Dengan sensor menggunakan pendekatan Artificial Intellegence akan dideteksi partikel atau VOC (Volatile Organic Compound) yang dikeluarkan spesifik oleh pengidap Covid-19,” ungkapnya.
Secara garis besar, lanjut Bambang, kelebihan GeNose adalah non invasif (tidak memasukkan alat ke dalam tubuh) jadi hanya perlu dihembuskan nafas dan hasilnya cepat yakni tidak lebih dari 5 menit.
“Berbeda dengan beberapa alat terutama PCR yang membutuhkan cairan reagen, kelebihan GeNose tidak butuh alat tambahan atau bahan tambahan yang kadang sulit didapatkan karena masih harus impor,” ujar Bambang.
Menurut Bambang pemakaian alat GeNose juga terjangkau dan hanya butuh NRM (non-rebreathing masker) dan heap filter sekali pakai. Alat ini juga memiliki reliabilitas tinggi karena menggunakan sensor yang dapat dipakai hingga puluhan ribu pasien dalam jangka waktu lama.
“Data analisis GeNose juga terhubung ke sistem cloud untuk diakses dalam jaringan online, sehingga membantu sistem tracing dan tracking,” kata Bambang.
Sensifitas, akurasi dan spesifitas
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/menristek-genose.jpg)