Selasa, 21 April 2026

Sekum PP Muhammadiyah: Sekarang Banyak Ustaz Karbitan yang Ilmu Agamanya Dangkal

Menurut Mu’ti, masyarakat harus mulai cerdas menilai pendakwah atau penceramah.

KOMPAS.com/ESTU SURYOWATI
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu'ti menyoroti fenomena banyaknya ustaz di Indonesia yang pemahaman agamanya masih rendah.

Hal itu terlepas dari mengemukanya pendakwah yang berganti nama, setelah Soni Eranata, yang menggunakan nama Maaher At Thuwailibi, ditangkap polisi.

“Soal ustaz yang ganti nama, juga hal yang biasa."

Baca juga: Sulitnya Memburu Teroris MIT, Ali Kalora Cs Kuasai Rimba Sigi Bertahun-tahun, Aparat Tak Terbiasa

"Sayangnya, sekarang ini banyak ustaz atau pendakwah karbitan yang penguasaan ilmu agamanya dangkal, dan akhlak yang tidak bisa menjadi teladan."

"Banyak orang yang tiba-tiba mengklaim dirinya sebagai ustaz beberapa saat setelah hijrah,” ujar Mu’ti, Sabtu (5/12/2020), dikutip dari laman muhammadiyah.or.id.

Menurut Mu’ti, masyarakat harus mulai cerdas menilai pendakwah atau penceramah.

Baca juga: Pasien Covid-19 di Kabupaten Bogor Tambah 41 Orang per 4 Desember 2020, 3 Kecamatan Masuk Zona Hijau

Jangan hanya sebatas melihat pendakwah tersebut populer.

“Ganti nama atau tidak, semua berpulang pada masing-masing."

"Masyarakat, khususnya Umat Islam, sebaiknya kritis dan cerdas dengan menilai ceramah dari kebenaran isi ajaran, bukan melihat popularitas dai atau ustaz,” ucapnya.

Baca juga: Tim Pemburu Covid-19 Kabupaten Bekasi Bakal Keliling Buru Pelanggar Protokol Kesehatan

Mu’ti menjelaskan, perubahan nama dalam Islam sering terjadi, sehingga bukan sesuatu hal yang baru kali ini terjadi.

“Sejak jaman Nabi, banyak sahabat yang memiliki julukan selain dari nama aslinya."

"Nabi Muhammad, juga disebut Abul Qasim."

Baca juga: BREAKING NEWS: KPK Ciduk Pejabat Kementerian Sosial Terkait Dugaan Korupsi Bansos Covid-19

"Demikian halnya dengan sahabat Abu Hurairah."

"Banyak ulama yang lebih dikenal dengan nama daerah atau tempat tinggalnya, seperti Al-Ghazali, Al-Qurthubi, dan lain-lain,” tuturnya.

Kemudian, dalam tradisi di Indonesia, nama berubah atau diganti jika terjadi sesuatu pada orang tersebut, seperti setelah menunaikan haji atau menjadi mualaf.

Baca juga: Adik Prabowo Subianto: Kader Gerindra di Seluruh Indonesia, Saya akan Awasi Kalian Semua!

Sumber: WartaKota
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved