Kolom Trias Kuncahyono

Kredensial 'Vivere Pericoloso'

Novel Christopher Koch diinspirasi oleh pidato Bung Karno pada peringatan HUT ke-19 RI tahun 1964, yang diberi judul “Tahun Vivere Pericoloso”.

Istimewa
Dinosaurus 

WARTAKOTALIVE.COM - Seorang novelis Australia, Christopher Koch, menulis sebuah novel yang terbit pada tahun 1978.

Novel itu diberi judul The Year of Living Dangerously

Kisah dalam novel drama romantik ini dilatarbelakangi keadaan di Jakarta pada tahun 1965 menjelang dan saat terjadinya peristiwa G 30 S/ PKI.

Pada tahun 1982, novel tersebut  diangkat menjadi sebuah film layar lebar—dengan judul yang sama—yang antara lain dibintangi oleh Mel Gibson, Sigourney Weaver, dan Linda Hunt.

Novel Christopher Koch diinspirasi oleh pidato Bung Karno pada peringatan HUT ke-19 RI tahun 1964, yang diberi judul “Tahun Vivere Pericoloso”, kemudian disingkat TAVIP.

Pidato tersebut merupakan  jawaban Bung Karno terhadap mereka yang mengira pergerakan Kemerdekaan Indonesia berakhir dengan terusirnya Belanda dari Indonesia.

Saat itu, sebagian elite Indonesia berpikiran, bahwa tujuan pergerakan kemerdekaan hanyalah merebut kemerdekaan, menyusun pemerintahan nasional, mengganti pegawai asing dengan pegawai bangsa sendiri, dan lain-lain.

Padahal, setelah merdeka harus mengisi kemerdekaan.

Frase vivere pericoloso, ada yang menyebut pertama kali digunakan oleh  Benito Mussolini (19883-1946), seorang diktator fasis Italia (1925-1945).

Ia menggunakan frase vivere pericolosamente, sebagai slogan politik kaum fasis.

 Istilah itu mengacu pada pengertian “situasi penuh bahaya”, atau setidaknya “nyrempet-nyrempet bahaya” atau arti lugasnya, “hidup dalam cita-cita yang membahayakan.”

Tetapi, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa frase dalam bahasa Italia itu pertama kali diucapkan oleh Giuseppe Garibaldi (1807–1882), pahlawan revolusi dan seorang pemimpin militer Italia yang memimpin gerakan untuk mempersatukan Italia pada pertengahan tahun 1800-an. 

Filsuf Jerman Friedrich Nietzshe (1844-1900) juga menggunakan slogan itu.  

Ada pula yang mengatakan, frase itu digunakan oleh Gabriele D’Annunzio (1863-1938), seorang penyair, novelis, dramawan, wartawan, juga pemimpin politik dan militer.

Salah satu novelnya yang terkenal adalah Il trionfo della morte (1894, Kemenangan Kematian).

Sumber: WartaKota
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved