Sabtu, 11 April 2026

Berita Internasional

Aparat Keamanan Mesir Menangkap Tokoh Ikhwanul Muslimin, Mahmoud Ezzat

Ezzat diduga menjadi pemimpin dari milisi Ikhwanul Muslimin yang bergerak di bawah tanah

alarabiya.net
Tokoh Ikhwanul Muslimin, Mahmoud Ezzat ditangkap aparat keamanan Mesir pada 28 Agustus 2020 

Wartakotalive, Jakarta - Aparat keamanan Mesir menangkap salah satu petinggi Ikhwanul Muslimin, Mahmoud Ezzat, hari ini, yang sudah menjadi buronan sejak beberapa tahun ini.

Kementerian Dalam Negeri Mesir hari ini mengabarkan bahwa Ezzat dibekuk di tempat persembunyiannya di sebuah apartemen di Kairo Baru.

Mahmoud Ezzat merupakan salah satu tokoh berpengaruh dalam organisasi Ikhwanul Muslimin (IM), yang sudah dilarang keberadaannya oleh pemerintah Mesir.

Setelah IM dinyatakan sebagai organisasi terlarang, dan tokoh-tokohnya diburu pemerintah, Ezzat diduga menjadi pemimpin dari milisi IM yang bergerak di bawah tanah.

Ezzat yang sudah diadili secara in absentia, dituduh terlibat dalam pembunuhan sejumlah orang penting Mesir.

Antara lain, pembunuhan terhadap mantan Jaksa Agung Hisham Barakat tahun 2015, pembunuhan terhadap Brigjen Wael Tahoun di depan rumahnya tahun 2015, serta serangan menggunakan bom mobil tahun 2016.

Menurut sumber informasi yag dikutip alarabiya.net, Jumat, 28 Agustus 2020, sejak ditetapkan sebagai tersangka, Mahmoud Ezzat bersembunyi dengan cara berpindah tempat terus menerus.

Ia juga memanfaatkan teknologi untuk menghindari pelacakan.

Penangkapan terhadap Mahmoud Ezzat merupakan bagian dari gerakan pemerintah untuk menghukum tokoh-tokoh IM yang dituduh terlibat dalam sejumlah kejahatan.

Gerakan tersebut dimulai setelah militer Mesir melakukan kudeta terhadap pemerintahan hasil pemilu Juni 2012.

Pemilu untuk memilih anggota parlemen dan presiden tersebut digelar setelah terjadi revolusi rakyat, yang berhasil menggulingkan pemerintahan yang dipimpin Husni Mubarak, yang sudah berkuasa selama sekitar 30 tahun.

Pemilu 2012 dimenangkan oleh partai bentukan IM, yakni Partai Kebebasan dan Keadilan (PKK).

Muhammed Morsi yang memimpin PKK pun terpilih sebagai presiden.

Mohammed Morsi, mantan presiden Mesir, saat disidang tahun 2015
Mohammed Morsi, mantan presiden Mesir, saat disidang tahun 2015 (reuters/pri.org)

Namun, umur pemerintahan Morsi tak sampai setahun.

Ia dikudeta oleh militer yang dipimpin Jenderal Abdul Fattah as-Sisi setelah terjadi demonstrasi besar terus-menerus, yang menuntut pengunduran dirinya.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved