Minggu, 12 April 2026

Pentas Budaya

Minggu Petang Ini Ada Pentas Kenang Maestro Dalang Wayang Kulit Ki Nartosabdo

Lakon Sabdo Pandito Rakjat adalah rekaman pementasan yang telah diselenggarakan pada 2-3 Desember 2016 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.

bpad.jogjaprov.go.id
Pementasan lakon "Sabdo Pandito Rakjat" untuk mengenang Ki Nartosabdo, maestro pedalangan wayang kulit dan karawitan Indonesia, Minggu (9/8/2020) pukul 15.00. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Minggu (9/8/2020) petang ini akan ada pemutaran streaming rekaman pementasan lakon berjudul Sabdo Pandito Rakjat.

Pementasan lakon Sabdo Pandito Rakjat itu untuk mengenang Ki Nartosabdo, maestro pedalangan wayang kulit dan karawitan Indonesia.

Pementasan akan berlangsung pukul 15.00 WIB di laman resmi dan kanal YouTube IndonesiaKaya.

Lakon Sabdo Pandito Rakjat adalah rekaman pementasan yang telah diselenggarakan pada 2 dan 3 Desember 2016 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.

Trio kreatif dari Indonesia Kita, yaitu Butet Kertaradjasa, almarhum Djaduk Ferianto dan Agus Noor ini memadukan berbagai unsur kesenian dan dibalut dengan teknologi untuk menyuarakan makna-makna yang tersirat dari cerita pementasannya.

Disutradarai Sujiwo Tejo, Lakon Sabdo Pandito Rakjat ini berkisah tentang seorang dalang yang mencoba bersikap teguh dan kritis terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya.

Ia ingin melakukan pembaruan, sekaligus tak mau tergoda selera orang banyak.

Lakon Sabdo Pandito Rakjat terinspirasi karya-karya Ki Nartosabdo, serta riwayat hidupnya yang mengingatkan betapa pentingnya untuk mendengar "suara jernih" dan menjunjung tinggi moralitas.

Komposisi karawitan yang dihasilkan Ki Nartosabdo juga membuktikan betapa ia adalah komponis yang brilian, seperti bisa dibuktikan melalui lagu-lagu seperti "Gambang Suling".

Presiden pertama RI Soekarno mengagumi karya-karya Ki Nartosabdo yang dianggap inovatif, bahkan genius melampaui zamannya.

Dalang wayang kulit Ki Manteb Sudharsono juga mengakui pencapaian estetis Ki Nartosabdo dalam dunia wayang, dan menyanjungnya sebagai “dalang wayang kulit terbaik yang pernah ada di Indonesia”.

“Tafsir-tafsir karya Ki Nartosabdo mengingatkan kita pada pentingnya menggali kedalaman makna seperti yang diperlihatkan dalam banyak lakon wayang," ujar Agus Noor, penulis naskah pementasan dalam siaran resmi, Minggu.

Agus Noor mengatakan, lakon ini menjadi gambaran bagaimana seorang dalang menjaga akal sehat di tengah kegaduhan sosial politik.

Sementara itu, bagaikan kisah Arjuna dan Karna, ia juga harus menghadapi pertentangan dua orang anaknya.

Dalam bayang-bayang lakon Arjuna dan Karna itulah, pergulatan batin sang dalang terombang-ambing. Haruskah ia memihak dalam pertentangan itu?”

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved