Ledakan di Beirut

Ledakan di Beirut, Korban Tewas Sudah Lebih dari 150 Orang, 5.000 Luka-luka

Kerugian akibat ledakan itu ditaksir antara 10 hingga 15 miliar dolar AS (Rp 145 - Rp 217 triliun)

Penulis: | Editor: Bambang Putranto
afp/scmp.com
Sekitar pusat ledakan di Pelabuhan Beirut Lebanon luluh lantak 

Wartakotalive, Jakarta - Paling sedikit sudah 157 orang dinyatakan meninggal dunia, dan lebih dari 5.000 orang lainnya mengalami luka-luka akibat dari ledakan maha dahsyat di pelabuhan Beirut, Lebanon pada Rabu lalu.

Angka korban yang dirilis pemerintah Lebanon hari ini, yang dikutip aljazeera.com, Kamis, 6 Agustus 2020, kemungkinan masih bakal bertambah.

Karena, masih banyak sekali gedung runtuh yang belum disentuh oleh para petugas penolong, akibat begitu masif kerusakan yang terjadi.

Masih banyak orang yang dilaporkan hilang.

Ledakan yang berasal dari timbunan 2.750 ton amonium nitrat itu menimbulkan kerusakan bangunan sampai sejauh 9 km dari pusat ledakan.

Tentu kerusakaan terparah berada dalam radius terdekat.

Akibat ledakan tersebut sekitar 300.000 orang terpaksa harus mengungsi karena rumah mereka hancur atau rusak parah.

Kerugian akibat ledakan itu ditaksir antara 10 hingga 15 miliar dolar AS (Rp 145 - Rp 217 triliun).

Pemerintah Lebanon lantas menerapkan keadaan darurat selama dua minggu, dan menyerahkan keamanan ibu kota Lebanon itu kepada militer.

Pemerintah juga sudah membentuk komisi penyelidik, yang anggotanya terdiri dari banyak unsur.

Tim ini diberi waktu empat hari untuk bekerja, dan melaporkan hasilnya kepada kabinet.

Langkah lain yang sudah diambil adalah sejumlah pejabat pelabuhan dan bea cukai dikenai tahanan rumah untuk memudahkan penyelidikan.

Dua ledakan berturut-turut yang melumat sebagian Beirut Lebanon
Dua ledakan berturut-turut yang melumat sebagian Beirut Lebanon (afp/scmp.com)

Fokus penyelidikan adalah pada mengapa bahan kimia berbahaya sebanyak 2.750 ton berada di gudang pelabuhan sampai enam tahun lamanya.

Kejadian tersebut merupakan ledakan tunggal terburuk sepanjang sejarah negeri itu.

Meskipun, negeri itu pernah mengalami kerusakan parah yang ditimbulkan dari perang saudara sepanjang 1975 hingga 1990, juga selama konflik dengan Israel.

Rakyat yang marah atas bencana itu menuding tata kelola pemerintah yang buruk sebagai biangkeroknya.

Bukan rahasia umum lagi bahwa korupsi sudah merajalela, apalagi di pelabuhan yang menjadi akses barang ekonomi.

Tata kelola pemerintahan yang buruk ini membuat Lebanon terjerembab dalam krisis ekonomi sejak awal tahun ini.

Mata uang negeri itu jatuh, bisnis banyak bertumbangan, pengangguran meningkat drastis sampai 20 persen

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved