Trah HB II Minta Inggris Kembalikan 57.000 Ton Emas yang Dirampas saat Perang Sepehi
Keturunan Sultan Hamengkubuwono (HB) II menuntut Inggris meminta maaf dan mengembalikan harta jarahan selama Perang Sepehi tahun 1812.
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Keturunan atau trah Raja Keraton Yogyakarta Sultan Hamengkubuwono (HB) II menuntut permintaan maaf dan pengembalian harta jarahan selama Perang Sepehi dari Pemerintah Inggris.
Tuntutan permintaan maaf itu disuarakan untuk meluruskan sejarah soal Perang Sepehi yang terjadi pada Juni 1812. Selain itu, tuntuan juga disampaikan demi pengembalian harta rampasan.
Sebanyak 57.000 ton emas yang dirampas dari Keraton Yogyakarta saat perang terjadi turut diminta untuk dikembalikan.
"Geger Sepehi proses penyerangan perampasan Inggris dengan berbagai kelompok, di situ terjadi peperangan yang terjadi dampak yang tidak diinginkan seperti perampasan dokumen manuskrip, karya sastra, hingga perhiasan," kata perwakilan trah HB II, Fajar Bagus, Selasa (28/7/2020), seperti dikutip dari Kompas.com.
Menurut Fajar, sudah ada upaya untuk mendata hasil jarahan Perang sepehi yang tersebar di Inggris dan Eropa selama satu tahun terakhir.
Fajar juga menambahkan, pada 2018 dan 2019, ada beberapa manuskrip yang dikembalikan.
Fajar mengatakan, tuntutan pengembalian hasil jarahan oleh Pemerintah Inggris, termasuk ribuan ton emas, bukan tujuan utama keluarganya.
Keturunan HB II hanya ingin ada pelurusan sejarah soal Perang Sepehi, sehingga Raja Keraton Yogyakarta itu bisa diajukan menjadi Pahlawan Nasional.
"Intinya Geger Sepehi bukan peristiwa penaklukan, tetapi sebuah usaha secara masif dan barbar dibuat seolah-olah penaklukkan," ujarnya.
• Ipar Jokowi Baru Daftar Jadi Bakal Calon Bupati Gunungkidul, Belum Diusung Partai NasDem
Fajar juga membantah, anggapan Perang Sepehi adalah perang saudara.
Sementara itu, penulis buku Geger Sepoy, Lilik Suharmaji, membenarkan adanya perang yang terjadi pada 1812 itu dan mengakibatkan Beteng Lor Wetan runtuh.
"Inggris menjajah India, orang-orang India dijadikan tentara bayaran. Tahun 1811 menyerang Palembang dan tahun 1812 menyerang Jawa. Saat itu Jawa dikuasai Daendels (Gubernur Jenderal Hindia Belanda), karena Daendels kalah lalu jenderal dijabat Jensen, Inggris menguasai Jawa," jelasnya.
Lilik membenarkan, akibat Perang Sepehi terjadi perampasan manuskrip, karya-karya intelektual dan perhiasan.
"Setelah perang karya-karya intelektual Keraton Yogyakarta habis dijarah semua, setelah perang mereka menjarah dengan pedati, dipanggul," katanya.
• Permohonan Penangguhan Penahanan Ditolak Majelis Hakim, Vicky Prasetyo: Bagaimana Nasib Anak Saya?
Namun, Lilik meragukan adanya 57.000 ton emas yang turut dijarah dalam perang tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/lukisan-wajah-sri-sultan-hamengkubuwono-ii.jpg)