Kesehatan
Kesehatan Mental Anak Harus Diketahui Sejak Dini, Ini Dampak Buruknya Jika Orangtua Cuek
Kesehatan mental anak harus diketahui sejak dini. Lalu bagaimana kita mengetahui seorang anak dikatakan sehat secara mental?
Penulis: Mochammad Dipa | Editor: Fred Mahatma TIS
“Ketika seorang anak mengalami gangguan mental seringan apa pun namun tidak diatasi, maka hal itu akan menyentuh berbagai aspek, seperti bagaimana cara ia bersosialisasi...”
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Sebagai manusia, selain menjaga kesehatan fisik, menjaga kesehatan mental juga perlu dilakukan, terutama mental seorang anak.
Psikolog Anak sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia, Annelia Sari Sani S.Psi, mengatakan pentingnya peranan kesehatan mental pada anak untuk menunjang kehidupan saat dewasa.
"Gangguan mental pada usia anak hingga remaja dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan mereka," jelas Anne saat diskusi virtual yang dilakukan Halodoc bersama IPK Indonesia bertajuk #HaloTalks: Gangguan Mental pada Anak, Musuh yang Tak Terlihat, Kamis (23/7/2020).
• Si Kecil Alergi Susu Sapi, Ini Konten Edukasi Digital Seputar Alergi dari SGM Eksplor Advance+ Soya
• Terungkap, Anak Lahir Lewat Operasi Caesar Berisiko Lebih Tinggi Kena Alergi
Menurutnya, gangguan mental pada anak akan menyebabkan masalah pada perilaku, gangguan emosional dan sosial, gangguan perkembangan dan belajar, gangguan perilaku makan dan kesehatan, hingga gangguan relasi dengan orang tua.
“Ketika seorang anak mengalami gangguan mental seringan apa pun namun tidak diatasi, maka hal itu akan menyentuh berbagai aspek, seperti bagaimana cara ia bersosialisasi,” sebut Annelia.
Tidak seperti gangguan kesehatan lain, lanjut Annelia, gangguan kesehatan mental, terutama pada anak, cenderung sulit diidentifikasi.
“Itulah sebabnya, orangtua, sebagai sosok yang sangat dekat dengan anak, harus peka terhadap perubahan perilaku anak sehingga dapat memberikan penanganan sejak dini,” ungkapnya.
• H2 Cordyceps Militaris, Suplemen Bahan Alami untuk Perkuat Imunitas Tubuh, Inovasi Kalbe Farma
• Tips Meningkatkan Imunitas Tubuh dari Soraya Larasati di Masa New Normal
Terbentuk sebelum 14 tahun
Pada tahun 2018, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan pernyataan bahwa setengah dari gangguan mental yang diidap orang dewasa terbentuk sebelum mereka berusia 14 tahun.
Bahkan, sekitar 15 persen anak remaja di negara-negara berkembang pernah berniat untuk melakukan bunuh diri.
Annelia juga menyebutkan, berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi gangguan mental emosional remaja usia di atas 15 tahun meningkat dari 6 persen di tahun 2013 menjadi 9,8 persen di tahun 2018.
“Kalau kita angka kan ke jumlah remaja di Indonesia yang kurang lebih sekitar 80 juta jiwa ini jadi besar sekali 9,8 persen dari 80 juta jiwa, berarti ada 8 juta jiwa. Maka jika ini terjadi, maka biaya kesehatannya besar buat negara,” sebut Annelia.
• Peringati Hari Anak Nasional, LPSK Serukan: Lindungi Anak dan Hentikan Praktik Anak yang Dilacurkan
• SOS Children’s Villages Minta Anak yang Terancam Kehilangan Pengasuhan Orang Tua Diprioritaskan

Sehat mental
Lalu bagaimana kita mengetahui seorang anak dikatakan sehat secara mental?
Anne menjelaskan ada beberapa komponen yang bisa kita lihat.
Pertama, bila anak memiliki kapasitas untuk memulai, dan mempertahankan relasi pribadi yang menyenangkan.
“Ia bisa menjalin hubungan yang baik dengan orang dewasa dan teman-teman seusianya dengan menyenangkan,” kata Annelia.
Kedua, perkembangan psikomotor yang sesuai dengan tahapan usia.
Ketiga, memiliki kemampuan bermain dan belajar dengan pencapaian yang sesuai usia dan perkembangan kecerdasan.
Keempat, memiliki pemahaman moral tentang benar-salah dan baik-buruk.
Selanjutnya, anak yang memiliki kondisi mental sehat juga mampu menikmati dan memanfaatkan waktu luang, dan bisa mencari cara mengatasi rasa kebosanan.
"Mereka mampu berempati dan mengenali emosi yang dirasakan orang lain, dan kemampuan belajar dari kegagalan," ujar dia.
Jika anak punya kesehatan mental yang baik, kata Annelia, mereka akan memiliki beberapa karakter positif, seperti kemampuan beradaptasi dengan berbagai keadaan, menjaga hubungan baik, menghadapi stres, serta bangkit dari kondisi sulit seperti pandemi saat ini.
Dampak mental buruk
Dampak kesehatan mental yang buruk pada anak antara lain memiliki prognosis (prediksi perbaikan dan kesembuhan) yang lebih buruk, mendapat stigma negatif, serta terhambat mendapat akses layanan kesehatan dan pendidikan.
Mereka juga rentan terhadap gangguan perilaku atau gangguan psikologis yang lebih serius dan lebih berat.
"Selain itu, mereka mengalami keterlambatan perkembangan, pencapaian hasil belajar tidak baik, dan sulit mencapai kualitas hidup yang baik," jelas Annelia.
5 Masalah kesehatan mental anak
Masalah kesehatan mental yang umum terjadi pada anak, Annelia membagi masalah kesehatan mental pada anak menjadi lima kategori, yaitu:
1. Masalah perilaku
- ADHD (attention deficit hyperactivity disorder) atau gangguan hiperaktivitas karena kurangnya perhatian sehingga memengaruhi perilaku anak.
- Conduct Disorder, gangguan perilaku dan emosi serius yang membuat anak menunjukkan perilaku kekerasan dan cenderung sulit mengikuti aturan.
- Penyalahgunaan NAPZA atau narkotika dan obat-obatan terlarang.
2. Gangguan emosional, seperti gangguan mood, kecemasan, menarik diri dan keterasingan, serta stres akibat trauma.
3. Gangguan hubungan anak dengan orangtua dan keluarganya.
4. Gangguan perkembangan dan belajar seperti disabilitas intelektual, gangguan belajar spesifik, skizofrenia, dan autistic spectrum disorder (gangguan perkembangan yang ditandai oleh hambatan dalam berinteraksi sosial).
5. Gangguan perilaku makan dan perilaku kesehatan, gagal tumbuh atau stunting.
Deteksi sejak dini lalu intervensi
Annelia menyarankan dua hal yang bisa kita lakukan sebagai orangtua untuk memberi dukungan kepada anak dan remaja yang mengalami gangguan mental.
"Deteksi sejak dini. Ini bukan cuma tanggung jawab keluarga, melainkan seluruh elemen yang berkepentingan terhadap adanya generasi yang sehat secara fisik dan mental," ucap Annelia.
Setelah mendeteksi adanya gangguan mental, lakukan intervensi yang sifatnya menyeluruh, fokus pada kegiatan promotif dan preventif, serta peningkatan faktor protektif atau pendukung kesehatan mental pada anak dan remaja.

Stigma negatif
Co-founder Ubah Stigma Asaelia Aleeza, yaitu sebuah komunitas dengan misi meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan mental untuk melawan stigma terhadap isu kesehatan mental, mengatakan hingga kini masih banyak stigma negatif yang ditujukan pada penderita gangguan mental di Indonesia.
"Stigma yang paling sering ditemui adalah rasa malu dan bingung. Mereka malu mengakui bahwa memiliki gejala-gejala gangguan mental serta tidak memahami solusi alternatif yang mereka miliki," tutur Asaelia.
Menurutnya, dengan berkomunikasi dua arah dengan orangtua secara lebih intens dapat menangani masalah gangguan mental sejak dini.
Di sisi lain, di daerah kecil di Indonesia, kapasitas tenaga profesional dan fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan khusus kesehatan mental masih terbatas.
Oleh karenanya, kehadiran telemedicine, seperti Halodoc, diharapkan dapat menjadi salah satu solusi atas keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan mental.
“Pemanfaatan telemedicine juga menjadi salah satu solusi deteksi dan konsultasi gangguan mental pada anak secara lebih mudah, aman, dan terjangkau dengan privasi yang tetap terjaga,” ujarnya.
Kerja sama Penanganan Kesehatan Mental
Halodoc juga mengumumkan kerja sama strategis dengan IPK Indonesia, sebuah organisasi profesi psikolog klinis terbesar di Indonesia dengan lebih dari 2.000 keanggotaan yang tersebar dari Aceh hingga Papua.
Pada tahap pertama, sebanyak 200 psikolog klinis IPK Indonesia telah resmi menawarkan layanan konsultasi kejiwaan bagi pengguna Halodoc.
Dengan penambahan jumlah ini, Halodoc memiliki total 700 psikolog klinis dan juga psikiater untuk terus melayani kebutuhan masyarakat di seluruh tanah air melalui pemanfaatan teknologi.
“Kami percaya bahwa melindungi hak anak, termasuk dalam menjaga kesehatan mental mereka merupakan kunci keberhasilan untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang berkualitas,” ujar VP Marketing Halodoc Felicia Kawilarang.
Solusi kejiwaan
Wakil Ketua IPK Indonesia Robert Oloan Rajagukguk, S.Psi, MA., Ph.D, Psikolog, mengatakan dengan adanya kerja sama ini bisa menjadi alternatif yang tepat untuk memberikan solusi kejiwaan di tengah peraturan untuk melakukan physical distancing.
“IPK Indonesia menyambut baik kerja sama strategis dengan Halodoc ini. Kami percaya bahwa di tengah kondisi pandemi seperti saat ini, banyak masyarakat Indonesia yang bingung dan mungkin tertekan dengan perubahan yang sangat tiba-tiba dalam kehidupannya,” ungkap Robert.