Bola Basket

Bola Basket Menyelamatkan Hidup Denny Sumargo

Sebelum menjadi atlet basket, hidup Denny Sumargo tidaklah indah. Bahkan, dia pernah menjadi kenek angkutan kota untuk bertahan hidup.

Penulis: Merdisikandar | Editor: Merdisikandar
Warta Kota/Arie Puji Waluyo
Denny Sumargo disela jumpa pers 'Indonesia Box Office Movie Awards 2019' di SCTV Tower, Jalan Asia Afrika, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (14/3/2019) siang. 

Denny Sumargo merupakan salah satu legenda bola basket Indonesia.

Ketika masih aktif di lapangan basket, pria yang kini berprofesi sebagai aktor itu berulang kali meraih gelar Most Valuable Player (MVP) serta membawa Aspac juara Liga Bola Basket Indonesia sebanyak empat kali.

Denny juga berjaya bersama Satria Muda, dengan membawa tim itu meraih dua gelar juara.

Kemudian, prestasi terakhir dia adalah membawa Garuda Bandung juara IBL Cup 2008.

Denny Sumargo di kawasan Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (4/12/2019). Ia mengaku sudah move on dan punya kekasih setelah batal menikah dengan sosialita Dita Soedarjo.
Denny Sumargo di kawasan Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (4/12/2019). Ia mengaku sudah move on dan punya kekasih setelah batal menikah dengan sosialita Dita Soedarjo. (Warta Kota/Feryanto Hadi)

Namun, sebelum menjadi atlet basket, hidup Denny tidaklah seindah bayangan banyak orang.

“Ya, memang perekonomian keluarga tidak baik saat gue kecil,” kata Denny di kanal YouTube milik komika Pandji Pragiwaksono.

“Ada family problem. Hidup pindah-pindah. Nyokap kerja, jadi gue lebih sering dititipin dan gue memang dasarnya nakal. Akhirnya lebih sering hidup di jalan. Jadi kenek angkot. Dari kecil insting gue untuk survive memang sudah ada,” tambahnya.

Hasrat besar Denny terhadap olahraga bola basket yang mengubah hidupnya.

Namun, ketika dia mencoba berkarier sebagai pebasket, dia malah dapat perundungan (bully) dari teman-temannya yang lebih hebat.

Denny Sumargo ketika masih membela Satria Muda.
Denny Sumargo ketika masih membela Satria Muda. (iblindonesia.com)

”Basket memang jadi titik balik gue. Mau buktikan semua bully saat itu salah dan memang gue mengaku awalnya tidak punya bakat di basket,“ tutur Denny.

“Gue benar-benar mengandalkan tekad, hasrat, dan kerja keras. Gue latihan bisa enam hingga delapan jam satu hari. Sabtu hingga Minggu, bahkan juga latihan,” imbuh mantan pemain yang terkenal dengan slam dunk bertenaga itu.

Berkat kerja kerasnya setiap hari, Denny bisa bersinar di arena bola basket sejak usia muda.

Dia masuk ke dunia profesional saat masih berusia 16 tahun, dengan membela tim Aspac.

Seperti dilansir laman IBL, dia ditarik ke Aspac oleh pemilik tim itu, Irawan Haryono, yang melihat penampilan dia bersama tim Sulawesi Selatan di Pekan Olahraga Nasional 2000. 

Namun, Denny memutuskan pensiun pada usia yang juga tidak kalah mudanya, yaitu 28 tahun.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved