Profesi Fisioterapis
Penyebab Fisioterapis Klub Indonesia Jarang Buka Praktik Sendiri
Kondisi fisioterapis di setiap klub yang berkisar satu atau dua orang per klub, membuat fisioterapi membuka usaha klinik di luar kurang ideal.
Penulis: RafzanjaniSimanjorang | Editor: Feryanto Hadi
WARTAKOTALIVE.CO.,JAKARTA--Seorang fisioterpis klub di Indonesia jarang membuka klinik praktik sendiri di luar karena tidak adanya waktu.
Hal ini disebabkan oleh minimnya jumlah fisioterapis di setiap klub yang rata-rata berkisar dua orang.
Tentu tak kebayang, bagaimana dua orang fisioterapis klub harus memperhatikan seluruh pemain di klubnya.
Lutfinanda Amary Septiandi, fisioterapis PSS Sleman, yang memiliki lisensi FIFA, mengatakan hampir 16 jam waktu yang digunakan oleh fisioterapis tim dalam melakukan persiapan di tim, sehingga tidak ada waktu untuk membuka praktik sendiri di luar.
"Idealnya dalam satu tim ada tujuh orang fisioterapis dengan satu orang sebagai kepala divisi. Itu yang sudah ada di Eropa. Namun di Indonesia belum mengikuti hal itu," buka Lutfi kepada Warta Kota, baru-baru ini.
"Tidak kebayang kan dengan sedikitnya fisioterapis harus melakukan pengecekan
seluruh pemain. Mungkin terlihat santai kala saat pertandingan saja. Sisanya kami begitu sibuk," imbuhnya
Ia menerangkan, ada pilihan lain bila ingin membuka usaha fisioterapi sendiri di luar dengan mempekerjakan orang lain.
Namun hal itu tentu butuh pertimbangan lainnya.
Hanya saja, kondisi fisioterapis di setiap klub yang berkisar satu atau dua orang per klub, membuat fisioterapi membuka usaha klinik di luar kurang ideal.
"Kalau ada tujuh orang fisioterapi di satu klub kemungkinan besar bisa buka klinik di luar ya. Tapi ini kan terbatas, jadi fokus di klub saja dulu," tutupnya.
• Berkenalan dengan Risnah Mayliana, Jak Angel Cantik yang Bikin Suasana Tribun Makin Hidup
Suka duka jadi fisioterapis
Setiap profesi tentu memiliki suka dan duka, tergantung bagaimana seseorang mencintai pekerjaannya sehingga mampu menikmati setiap waktunya.
Begitu pula saat menjadi fisioterapis klub. Lutfinanda Amary Septiandi punya kisah tersendiri tentang suka duka menjadi seorang fisioterapis klub.
Ia mengatakan tantangan menjadi fisioterapis adalah bagaimana mengedukasi pemain ataupun masyarakat tentang betapa pentingnya peran fisioterapis.
• Fisioterapis Lutfinanda Kenang Praktik Awal Dirinya Saat Tangani Ponaryo Astaman
"Dukanya kadang ya, banyak yang masih menganggap remeh peran fisioterapis saat berada di lapangan, apalagi hanya terlihat memberikan semprotan pain killer atau kompres es," bukanya kepada Warta Kota, belum lama ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/lutfinanda-amary-septiandi.jpg)