Bulan Suci Ramadan
Ini Pertama Kalinya Hari Raya Idul Fitri Dirayakan Seluruh Umat Muslim di Dunia
Tahun ke-2 Hijriah, puasa Ramadhan untuk pertama kalinya dijalani umat Islam, sekaligus untuk pertama kalinya pula Idul Fitri dirayakan
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Sebentar lagi seluruh umat Islam di dunia akan merayakan Hari Raya Idul Fitri.
Namun tahukah Anda sejarah dibalik hari Lebaran ini?
Tahun ke-2 Hijriah, puasa Ramadhan untuk pertama kalinya dijalani umat Islam (Al-Baqarah: 183-185), sekaligus untuk pertama kalinya pula Idul Fitri dirayakan.
Momentum perdana ini bertepatan dengan peristiwa Badar, di mana kaum muslimin untuk pertama kalinya juga meraih kemenangan perang skala besar.
• 2 Contoh Teks Khutbah untuk Salat Idul Fitri yang Bisa Dilakukan di Rumah, Dilengkapi dengan Takbir
Peristiwa Badar, Husein Haikal dalam ‘Hayatu Muhammad‘, mengatakan bahwa sejak awal Nabi Muhammad SAW tidak pernah menginginkan peperangan, “kami tidak diperintahkan untuk itu”.
Aksi monopoli pasar dan blokade aktifitas dagang oleh kaum Quraisy Mekah terhadap muslim Madinah lah yang memicu konfrontasi itu tumbuh berkembang.
Pada hari ke-8 Ramadhan, pasukan Abu Jahal keluar Mekah, ditambah kafilah Abu Sufyan dari Syam membawa pasukan jumlah besar, sekitar 1000 tentara dengan kelengkapan peralatan perang.
Dari arah Madinah, Nabi membawa 300 shahabat menyambut tantangan itu menuju Badar.
Dalam ‘Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources‘ karya Martin Lings, disebutkan bahwa di tempat inilah pada pagi 17 Ramadlan kedua pasukan ini saling berhadapan.
Nabi tampil di depan mengatur barisan, didampingi Hamzah, Umar, Ali, dan ‘Ubaidah. 300 lawan 1000, tentu ini akan menjadi perang yang tidak mudah.
• Menteri Agama: Mari Takbiran dan Salat Idul Fitri di Rumah Saja, Silaturahim Melalui Media Sosial
Abu Bakar bisa menangkap ekspresi kecemasan itu dari raut wajah dan degup jantung para shahabat.
Tak ada yang mampu menepis gelombang kecemasan itu. Hingga turun ayat Al-Qur’an yang menenangkan, yaitu tentang kekuatan moril yang tumbuh dari teguhnya iman (al-Anfal: 12, 17, 65, 66)
فلم تقتلوهم ولكن الله قتلهم ومارميت اذ رميت ولٰكن الله رمى…الأية
Husein Haekal memberikan tafsir kontekstual sebagai ilustrasi membacai kembali kesan historis mengenai Perang Badar ini.
“Debu dan pasir halus membubung dan beterbangan memenuhi udara. Berkat iman yang teguh keadaan muslimin bertambah kuat. Di hadapan mereka kini terbuka tabir ruang dan waktu, sebagai bantuan Tuhan kepada mereka dengan para malaikat yang memberikan berita gembira, yang membuat iman mereka bertambah teguh, sehingga bila salah seorang dari mereka mengangkat pedang dan mengayunkannya ke musuh, seolah-olah tangan mereka digerakkan dengan tenaga Tuhan.”
اَللهُ اَكْبَرُ لاَاِلٰهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَعَبْدَهُ وَاَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأ َحْزَابَ وَحْدَهُ
Pihak muslimin hanya butuh beberapa jam dan selesai sedikit lewat tengah hari mengakhiri perang, ringkas Karen Amstrong dalam karya antropologisnya ‘Muhammad: Biography of the Prophet‘.
Dilihat dari jumlah pasukan yang timpang, sungguh ini kemenangan yang menakjubkan.
Efek moral dari kemenangan Badar ini pun terasa cukup besar, sehingga Nabi dan kaum muslimin yang selama ini menjadi sasaran cemoohan, berbalik mendapat kepercayaan diri dan kehormatan dari berbagai kalangan.
Perayaan Idul Fitri sejatinya, asal-muasalnya tidak hanya lahir dari latar historis kemenangan Badar.
Dalam ‘Ensiklopedi Islam‘ disebutkan, bahwa jauh sebelum ajaran Islam turun, masyarakat Arab sudah memiliki dua hari raya, yakni Nairuz dan Mahrajan, keduanya berasal dari zaman Persia Kuno.
Biasanya, mereka merayakan kedua hari raya itu dengan menggelar pesta pora.
Seiring turunnya kewajiban menunaikan ibadah puasa Ramadhan pada tahun ke-2 Hijriah itulah, turun kemudian hadis Nabi, “Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha.”
• Inilah Aturan MUI Kota Tangerang Soal Pelaksanaan Salat Idul Fitri 1441 Hijriah
Di Idul Fitri pertama inilah kaum muslimin merayakan dua kemenangan perdana, yaitu pencapaian ritual puasa Ramadhan dan keberhasilan di Perang Badar.
Narasi antar kedua peristiwa ini menjadi relasi yang tak terpisahkan dalam memaknai kemenangan; dari perspektif spiritual, juga sosial.
Sejarah Hari Raya
Sebelum ajaran Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw di Makkah, masyarakat Jahiliyah Arab sudah memiliki dua hari raya, yakni Nairuz dan Mahrajan.
Kaum Arab Jahiliyah menggelar kedua hari raya itu dengan menggelar pesta-pora.
Selain menari-nari, baik tarian perang maupun ketangkasan, mereka juga merayakan hari raya dengan bernyanyi dan menyantap hidangan lezat serta minuman memabukkan.
’Nairuz dan Mahrajan merupakan tradisi hari raya yang berasal dari zaman Persia Kuno,’’ tulis Ensiklopedi Islam.
• TATA Cara Salat Idul Fitri di Rumah Sesuai Fatwa MUI Saat Kondisi Pandemi Covid-19
Setelah turunnya kewajiban menunaikan ibadah puasa Ramadhan pada 2 Hijriyah, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan An-Nasa’i, Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha." (HR Daud dan Nasai)
Setiap kaum memang memiliki hari raya masing-masing. Ibnu Katsir dalam Kisah Para Nabi dan Rasul mengutip sebuah hadits dari Abdullah bin Amar:
"Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: ’’Puasanya Nuh adalah satu tahun penuh, kecuali hari Idul Fitri dan Idul Adha’.’’ (HR Ibnu Majah).
• Rizal Bocah Penjual Jalangkote Kaget Bangun Tidur Dikasih THR Rp 10 Juta dari Akbar Konyol
Jika merujuk pada hadis di atas, maka umat Nabi Nuh AS pun memiliki hari raya.
Sayangnya, kata Ibnu Katsir, hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah itu sanadnya dhaif (lemah). Rasulullah Saw membenarkan bahwa setiap kaum memiliki hari raya.
Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Abu Bakar pernah memarahi dua wanita Anshar memukul rebana sambil bernyanyi-nyanyi.
"’Pantaskah ada seruling setan di rumah, ya Rasulullah Saw?’’ tanya Abu Bakar.
"Biarkanlah mereka wahai Abu Bakar. Karena tiap-tiap kaum mempunyai hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita,’’ sabda Rasulullah Saw.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/ucapan-selamat-hari-raya-idul-fitri-2020.jpg)