Kolom Trias Kuncahyono
Mas Kiai dan 'Suket Teki'
Kami pertama kali bertemu dan berkenalan pada 1989, di Surabaya. Dunia jurnalistiklah yang mempertemukan kami berdua: sama-sama sebagai wartawan muda.
Banyak pejabat yang ketika diangkat mengucapkan sumpah dengan memegang kitab suci, tetapi dalam perjalanan waktu ada yang menjadi suket teki, menjadi gulma, rumput yang mengganggu kehidupan tanaman lain, mengingkari sumpah jabatannya: korupsi!
“Jebule janjimu, jebule sumpahmu ra biso digugu (ternyata janjimu, ternyata sumpahmu tidak bisa dipercaya),” teriak Didi Kempot.
Mengapa bisa terjadi semacam itu? Antrolopog Niels Mulder merumuskan sikap semacam itu sebagai cerminan dari orang yang “terkosongkan dari kandungan moral” (emptied of moral content).
Istilah tersebut adalah tesis Niels Mulder tentang masyarakat Jawa (2012). Tetapi, rasanya, kini yang mengalami “terkosongkan dari kandungan moral” tidak hanya masyarakat
Jawa saja.
Ungkapan “terkosongkan dari kandungan moral,” bentuknya macam-macam, termasuk dalam hal ini orang yang mengingkari nilai-nilai toleransi dalam hidup beragama, misalnya.
Bukankah agama mengajarkan semua pemeluknya untuk saling menghormati?
Semua agama mengajarkan umatnya untuk menghindari kekerasan, tidak ada agama yang engajarkan umatnya untuk membunuh dan melukai umat lain.
Semua agama juga mengajarkan manusia untuk memiliki solidaritas, kemanusiaan dalam segala aspek kehidupan.
Semua agama mengajarkan nilai-nilai kesetaraan dan toleransi sesama umat manusia lainnya.
Orang beragama yang mengingkari semua itu, bagaikan suket teki yang tumbuh di taman dengan hamparan rumput gajah mini, rumput jepang, rumput gajah mini verigata, rumput swiss, atau rumput golf yang subur dan hijau begitu indah dipandang mata.
Ibarat ilalang yang tumbuh di tengah hamparan tanaman padi: harus dicabut dan dibakar.
“Itulah tantangan zaman sekarang. Zaman yang disebut zaman teknologi maju. Generasi sekarang disebut generasi teknologi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi telah membuat membanjirnya informasi. Perkembangan teknologi ini membawa suatu arus perubahan bagi masyarakat secara luas, termasuk para santri. Perubahan itu bisa saja baik dan juga buruk: mencakup pola pikir, cara bertindak, gaya hidup, dan memperoleh kemudahan- kemudahan hidup. Sekali lagi, inilah tantangannya,” jelas Mas Kiai.
Mas Kiai masih melanjutkan, “Kalau para santri banyak yang melek teknologi, ada paranoid kalau akses dibuka terlalu luas. Masjid kami ada wifi-nya. Santri boleh membuka apa saja. Nek membuka sing negatif, ya risiko dunia akhirat,” katanya disusul derai tawanya.
“Kami kan nggak mau nandur suket teki. Kami ingin nenanam padi dan tumbuh padi, padi yang mentes, bernas. Ada macam-macam jenis padi. Ini sama dengan masyarakat Indonesia, majemuk segalanya. Karena itu, harmoni kehidupan harus terus dibangun dipelihara. Untuk mencapai hal tersebut, harus ada kematangan spiritual dan agama dari setiap manusia.”
“Manusia, sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna memiliki kewajiban untuk mewujudkan dunia yang adil dan damai hingga akhir kehidupan ini. Tidak ada satupun orang yang memiliki hak untuk memonopoli dunia ini demi kepentingan apapun. Bukankah demikian?” jelas Mas Kiai penuh semangat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/suket-teki-1605.jpg)