Kasus Ferdian Paleka
Anji Geram dengan Kasus Prank Sembako Sampah: Kalau Mau Bikin Prank Jangan Merugikan
Musisi Anji sangat geram dengan peristiwa prank sembako sampah yang dilakukan Ferdian Paleka. Lalu bagaimana membuat konten yang baik?
Penulis: Dian Anditya Mutiara | Editor: Dian Anditya Mutiara
WARTAKOTALIVE.COM -- Musisi Anji sangat geram dengan peristiwa prank sembako sampah yang dilakukan Ferdian Paleka.
"Sebagai creator kita punya tanggung jawab sosial, kalau membuat konten yang tidak inspiratif atau edukatif, hanya bersifat hiburan boleh saja asalkan jangan sampai merugikan atau menjatuhkan orang lain," ujar Anji dihubungi Kompas TV, Kamis (7/5/2020).
Anji menyayangkan banyak Youtuber berasumsi salah dalam mengisi kontennya.
"Salahnya sekarang ini creator berasumsi konten Youtube adalah yang banyak ditonton. Dengan demikian banyak menghasilkan revenue banyak. sehingga berlomba membuat konten yang banyak ditonton," kata Anji.
"Ketika itu dianggap berhasil para creator mengumumkan hasil ketika membuat konten sehingga banyak yang tingkat edukasinya rendah atau parah banget maka bikin konten yang penting laku dan banyak penontonnya," jelas pria yang punya nama lengkap Erdian Aji Prihartanto.
• ANCAMAN Hukuman Ferdian Paleka 12 Tahun dan Denda Rp 2 M, Polisi: Youtuber Sampah Dijerat UU ITE
"Selama ini tidak banyak yang tahu soal sanksi hukumnya. karena mereka selama ini hanya mendapatkan sanksi sosial saja," ujar Anji.
Menurut Anji, sangat tepat Ferdian Paleka sampai dihukum polisi.
"Itu harus banget, supaya ada efek jera dan menjadi contoh bagi teman-teman lain. Boleh saja bikin konten prank asalkan yang baik. banyak kok contohnya seperti prank epic, crazy world, life for live kalau di Indonesia ada David Beat, Angga Candra," tegasnya.
Lalu bagaimana membuat prank aman?
Prank yang dibuat konten Youtuber, menurut Anji banyak yang settingan. Pada dasarnya prank dibuat untuk hiburan. "yang penting tidak merugikan orang lain," tuturnya.
Efek psikologi
Tara De Thouars, psikolog UI dalam kesempatan yang sama mengatakan video YouTube menjadi sarana baru untuk orang menjadi populer atau mendapatkan keuntungan.
Namun sayangnya tidak dipikirkan secara matang.
"Harus dibedakan mana becandaan biasa mana prank menyakiti. Kalau becandaan biasa cuma untuk seru-seruan dan bahan ketawaan tetapi beda dengan prank yang menyakiti maka tujuannya untuk bersenang-senang dan mendapatkan viewer maka ini tida ada bedanya dengan bullying perilaku agresif yang tidak empati tapi mengatasnamakan humor," kata Tara.

Maka pembuat konten harus pikirkan konsekuensi pada si korban. Untuk membuat konten Youtube harus memikirkan itu apalagi berisi prank.