Peran Besar Orangtua Di Masa Anak Belajar di Rumah
Jika orangtua terlalu menunjukkan kepanikan, atau tidak perduli pada anak, maka belajar di rumah tak akan efektif.
Penulis: |
Jumlah pasien Covid-19 di Jakarta terus bertambah, sehingga masa belajar di rumah terpaksa dipanjangkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Jika sebelumnya kegiatan belajar di rumah selama dua minggu saja, yaitu dari 16 Maret hingga 29 Maret 2020, kini kegiatan para murid di rumah diperpanjang sampai 19 April 2020.
Artinya, tugas orangtua sebagai guru, selama anak-anak sekolah dari rumah, masih belum selesai. Padahal tak sedikit orangtua yang ingin anaknya cepat-cepat kembali ke sekolah.
Pembelajaran di rumah, atau biasa disebut home learning, sangat berbeda dari belajar di sekolah.
Daya tarik
Perbedaan paling utama, menurut Dr Rose Mini Agus Salim, adalah daya tarik berbeda antara rumah dan sekolah.
"Jika anak berangkat ke sekolah itu karena ada faktor daya tarik ingin bertemu teman, bersama guru favorit, atau jajan ke pedagang kesukaan yang ada di sekolahnya. Nah, ketika di rumah pasti tidak akan bisa merasakan itu. Maka dari itu semangat anak pasti akan berbeda. Orangtua harus ikut andil dalam hal ini," kata psikolog pendidikan yang akrab dipanggil Rose itu, saat dihubungi Warta Kota pada Kamis (26/3/20).
Menurut Rose, orangtua bisa menularkan aura positif pada anak, untuk memacu minat belajar mereka.
Jika orangtua terlalu menunjukkan kepanikan, atau tidak perduli pada anak, maka belajar di rumah tak akan efektif.
Imbalan
Satu masalah lain yang muncul ketika anak diminta belajar di rumah adalah soal konsentrasinya.
Berbeda dengan sekolah yang memiliki jam belajar terjadwal, belajar di rumah sangat fleksibel.
Sayangnya, hal ini justru membuat konsentrasi anak mudah teralihkan (terdistraksi). Apalagi saat anak-anak sudah bosan.
Berada dalam rumah dalam jangka waktu lama, kata Rose, bisa membuat siapapun dilanda kebosanan.
Agar belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan dan efektif, Rose mengatakan orangtua dapat mengatur jadwal yang lebih ketat agar anak disiplin.
Hanya saja, dalam penerapannya harus disisipkan hal yang membuat buah hati bersemangat. Pengaturan jadwal itu dibuat dengan sederhana dan teratur, seperti membangunkan tidur, sarapan, belajar, bermain.
"Lalu buatlah tantangan, seperti jika anak sudah mengerjakan soal pelajarannya sebagai imbalannya dia boleh melakukan aktivitas sesuai hobinya. Tentunya bukan hobi untuk bermain ponsel," kata Rose.
Mandiri
Satu hal yang juga harus diperhatikan orangtua adalah membiarkan anak mandiri.
Saat anak mengerjakan soal dari sekolah, orangtua lebih baik tak usah membantu.
"Biarkan anak mengulik jawabannya sendiri, agar metode belajar seperti di sekolah tetap sampai tujuan," kata dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.
Namun, lanjut Rose, bila anak mengalami kesulitan tak ada salahnya orangtua membantu dengan membimbing anak memecahkan kesulitan itu, bukan jawabannya.
Hal ini bertujuan agar pola pikir anak lebih terasah.
Memunculkan kebiasaan
Rose paham, lebih mudah mengatakan secara lisan daripada mempraktikan saran-saran tersebut. Pasalnya karakter setiap orang berbeda.
Namun jika sara itu dilakukan terus-menerus, maka orangtua dan anak akan terbiasa melakukannya.
Para Orangtua juga bisa mengajarkan dengan memberikan contoh disiplin saat mereka melakukan kerja dari rumah.
"Dari situ anak bisa meng-copy apa yang dilakukan orangtua. Anak akan berpikir bahwa meskipun di rumah harus tetap menjalankan kewajiban dan meniru," imbuh Rose.
Belajar daring
Kini banyak kelas-kelas belajar daring (online) yang melibatkan internet. Mau tak mau anak-anak harus berkutat dengan gawai.
Selama orangtua memantau anak menggunakan internet untuk hal positif, maka teknologi digital ini sangatlah bermanfaat.
Rose sangat mendukung prosedur pembelajaran secara daring ini, hanya saja masalahnya tidak semua orangtua paham dengan pelajaran anaknya.
Maka dari itu, sangatlah penting para guru dari sekolah atau guru kelas bimbingan belajar mahir menggunakan teknologi digital untuk mengajar para muridnya meski terpisah secara fisik.
"Dengan teknologi digital bisa melakukan belajar online. Meksipun tidak bertatap muka secara tak langsung, bisa buat forum diskusi belajar bersama, melibatkan teman-teman sekolah dengan menggunakan Video call," ujar Rose.
Kesimpulannya, efektif atau tidaknya kegiatan pembelajaran di rumah sangat tergantung dari peran orangtua sebagai orang terdekat yang ada di rumah, untuk membantu anak. (m25)
• BREAKING NEWS: Anies Baswedan Perpanjang Masa Tanggap Darurat Covid-19 di DKI Sampai 19 April
• Diiringi Andra Ramadhan Saat Bernyanyi di Konser Musik #dirumahaja, Begini Nazar Ari Lasso
• Anies Baswedan Bahas Karantina Jakarta, Kembali Minta Warga Jangan Pulang Kampung
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/ilustrasi-belajar-dari-rumah-3.jpg)