Ruang Toleransi di Pecinan Semarang yang Membuat Ganjar Terkesima

SEMARANG - Haryanto Halim, Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Wisata (Kopisemawis) nampak sibuk menyiapkan acara bersih-bersih altar menjelang per

Ruang Toleransi di Pecinan Semarang yang Membuat Ganjar Terkesima
istimewa
Gubernur Ganjar Pranowo menghadiri perayaan Tahun Baru Imlek 2020 di Klenteng Agung Sam Po Kong, Semarang, Sabtu (25/1). 

WARTA KOTA - SEMARANG - Haryanto Halim, Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Wisata (Kopisemawis) nampak sibuk menyiapkan acara bersih-bersih altar menjelang perayaan Imlek.

Dia naik turun menuju dua altar abu yang ada di tengah aula gedung lantai satu dan dua di jalan Gang Pinggir nomor 31, Semarang, Jumat (24/1).

Di dalam altar atas terdapat patung dewa-dewa, sementara di altar lantai satu terdapat 25 shinci.

Haryanto mengatakan, di antara 25 shinci tersebut salah satunya terdapat bertuliskan nama KH Abdurahman Wahid.

Itu sebagai bentuk penghormatan atas sumbangsih Presiden ketiga Indonesia tersebut bagi warga etnis Thionghoa.

Keberadaan shinci berguna untuk melacak silsilah leluhur, mau melihat keturunannya sampai ke tingkat paling awal menjadi mudah.

"Shinci yang berukir nama Gus Dur tersebut sudah ada di sini sejak enam tahun terakhir. Itu sudah sesuai persetujuan dari pihak keluarganya sebagai bentuk penghormatan tertinggi sebagai Bapak Thionghoa Indonesia," terangnya.

Menurutnya, Gus Dur berperan besar dalam menghidupkan kembali tradisi kebudayaan khas Thionghoa yang sempat dilarang pada era Orde Baru.

Gus Dur, lanjutnya tidak pernah membeda-bedakan latar belakang agama seseorang dalam setiap kebijakannya.

Gus Dur juga aktif membela hak-hak warga peranakan Thionghoa yang kerap dikebiri.

"Saat beliau masih hidup, segala sesuatu ngurus surat kependudukan dan lainnya selalu disamaratakan. Gus Dur sering ngasih nasehat dan arahan-arahan yang bijak. Gus Dur bisa mengembalikan hak hak orang Thionghoa dibandingkan zaman Presiden Soeharto kita banyak ditindas," katanya.

Kemeriahan perayaan Imlek tiap tahun memang tak lepas dari peran Gusdur.

Jika awalnya Imlek hanya dirayakan secara tertutup di tiap rumah.

Namun, setelah diangkat menjadi presiden, Gusdur melegalkan Imlek dirayakan secara massal.

Tahun Baru Imlek kini juga ditetapkan sebagai hari libur nasional berdasarkan Keppres Nomor 19/2002 sejak 2003 silam.

Selain Indonesia, Imlek juga jadi hari libur nasional di Brunei, Filipina, Korea, Malaysia, Mauritius, Singapura, Tiongkok, Thailand dan Vietnam.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang hadir ke Gedung Rasa Dharma satu hari sebelum perayaan tahun baru Imlek itu mengatakan, hal inilah yang bisa dilihat secara visual bagaimana kerukunan antar umat beragama itu ada dan Gus Dur, bukan hanya melakukan dalam keseharian tapi telah menuangkannya dalam kebijakan.

Sehingga dia benar-benar berada di hati orang Tionghoa.

"Altarnya menarik. Ada juga prasasti saat Gus Dur sakit didoakan. Dan di atas altar itu ada nama-nama leluhur, yang menarik ada namanya Gus Dur," katanya.

Sebelum menuju jamuan meja jamuan makan siang, Ganjar yang diajak Halim memasuki altar, beberapa kali terlihat mengambil foto shinci dan prasasti doa untuk Gus Dur.

Bahkan, Ganjar mengagumi bentuk shinci Gus Dur yang berbeda dengan shinci lainnya.

"Ini bagian atas shinci Gus Dur dibuat mirip seperti atap Masjid Agung Demak, ada tiga tingkat yang melambangkan iman, Islam dan Ihsan," katanya.

Aura toleransi di kawasan Pecinan Semarang itu juga dirasakan Ganjar saat melaksanakan ibadah Salat Jumat di Masjid An Nur Diponegoro.

Masjid yang konon pernah jadi tempat persembunyian Pangeran Diponegoro itu merupakan satu-satunya masjid yang berdiri di kawasan yang sebagian besar warganya non muslim itu.

"Inilah cara yang sebenarnya bertoleransi," katanya. (*)

Editor: Andy Prayogo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved