Pendidikan
Petrotekno Buka Peluang Pemuda Papua Barat Terjun Di Industri Migas
Saya masuk Petrotekno untuk mengubah nasib. Petrotekno bagus dan sangat berguna untuk pemuda Bintuni khususnya untuk mencari kerja, industri minyak
Penulis: | Editor: MNur Ichsan Arief
WARTA KOTA, PALMERAH ------- Pemuda Subitu, suku asli yang mendiami daerah Teluk Bintuni, Papua Barat, umumnya berprofesi sebagai nelayan atau bercocok tanam.
Padahal bumi di Teluk Bintuni sangat kaya akan minyak dan gas bumi yang sangat potensial untuk dinikmati oleh masyarakat setempat.
Dan ini disadari Yulianus Homna, pemuda Subitu. Hal inilah yang mendasari dirinya mendaftar ke Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas Teluk Bintuni (P2TIM-TB) atau yang biasa dikenal Petrotekno.
"Saya masuk Petrotekno untuk mengubah nasib. Petrotekno bagus dan sangat berguna untuk pemuda Bintuni khususnya untuk mencari kerja, industri minyak di sini berkembang pesat”, kata Yulianus Homna.
Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas Teluk Bintuni (P2TIM-TB) ini telah beroperasi sejak 2018. Lembaga pendidikan itu dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, bekerja sama dengan Petrotekno.
Berdiri di atas lahan seluas 9.300 meter persegi di Distrik Bintuni Timur. Beberapa fasilitas yang ada di P2TIM-TB, yaitu gedung Cendrawasih untuk kantor dan administrasi, gedung Kasuari untuk tiga ruang kelas, gedung Mambruk untuk pelatihan praktik Confined Space dan tangki dan Rigging Shelter
serta gedung bengkel praktikum utama Kakatua yang merupakan bengkel praktikum keahlian kelistrikan dan sistem instrumentasi, perpipaan, pengelasan, klinik dan dua ruang kelas.
Pusat pelatihan ini juga dilengkapi oleh asrama siswa. Setiap angkatan berjumlah 100 orang siswa pelatihan, yang akan menjalani pelatihan selama 3.5 bulan.90 persen siswa pelatihan angkatan pertama merupakan putra daerah Kabupaten Teluk Bintuni.
Rizal Aris, Advisor utama P2TIM-TB mengatakan, keberadaan pusat pelatihan industri migas Teluk Bintuni ini sebenarnya diprioritaskan untuk anak-anak teluk. Terutama untuk Direct Affected Village, atau daerah yang terdampak langsung.
"Prioritasnya untuk tujuh suku, OAP, atau nusantara yang lahir di sini atau sudah tinggal di Bintuni minimal 10 tahun", ujar Rizal Aris dalam siaran persnya kepada wartakotalive.com, Sabtu (25/1/2020).
Proses seleksinya berupa syarat administrasi ijazah minimal lulusan SMP, Kartu Keluarga, dan KTP. Selain itu, para calon peserta didik juga harus mengikuti berbagai tes. Mulai dari matematika dasar, bahasa Inggris, dan wawancara kompetensi.
"Kita menggunakan standar sebagaimana yang disyaratkan oleh perusahaan pengguna tenaga kerja. Sehingga nanti lulusan dari sini otomatis terserap oleh pasar tenaga kerja," imbuh Rizal.
Lebih lanjut, Rizal mengatakan pendidikan di Petrotekno Teluk Bintuni gratis karena dibiayai oleh Pemda setempat. Oleh karenanya, proses penjaringan peserta didik pun berlangsung ketat.
"Sertifikasi nasional dan internasional yang diterima lulusan program vokasi menjadi item yang mengukuhkan posisi mereka sebagai tenaga kerja dengan hasil yang memuaskan bagi dunia industri Migas", tutur Rizal.
500 lulusan Petrotekno dalam lima angkatan yang dilaksanakan oleh P2TIM-TB sejak 2018 telah menjadi bagian dari dunia industri praktis dengan etos kerja tinggi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/petrotekno1.jpg)