Kabar Tokoh

Sosok Sutarji Kolektor Benda Horor dari Tali Pocong dan Keranda Pembawa Sial, Ini 6 Fakta Museumnya

Kolektor benda horor atau kolektor benda mistis, Sutarji (62), warga Desa Aryojeding, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

Sosok Sutarji Kolektor Benda Horor dari Tali Pocong dan Keranda Pembawa Sial, Ini 6 Fakta Museumnya
Tangkap Layar Akun Facebook Surya Online
kolektor benda horor atau kolektor benda mistis, Sutarji (62), warga Desa Aryojeding, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 

Sebelumnya, keranda ini dibuang, karena dianggap membawa sial.

Sebab dalam waktu 47 hari, ada 43 orang meninggal dunia dan diangkut dengan keranda ini.

“Jadi orang tak mau pakai keranda ini lagi dan dibuang begitu saja. Kemudian saya bawa pulang,” tutur Sutarji kepada Surya, Selasa (17/12/2019).

4. Nekat ambil batu punden

Salah satu aksi nekat Sutarji yang sempat mengundang kekhawatiran warga adalah, mengambil batu punden Desa Aryojeding.

Batu punden itu dulunya dianggap sangat angker dan sering dipakai orang untuk nyadran.

Mereka membawa sesajen lengkap dengan ingkung ayam kampung.

“Saya pikir batu kok dikasih ingkung ayam. Akhirnya saya bawa pulang batunya,” terang Sutarji.

Saat itu warga mengingatkan Sutarji, bahwa nyawanya bisa terancam karena ulah roh halus di dalamnya.

Namun karena sikapnya yang kaku, Sutarji mengabaikan peringatan itu dan menganggapnya hanya mitos.

Sutarji yakin, hanya Gusti Allah yang bisa memastikan kematian seseorang.

Nyatanya Sutarji lagi-lagi gagal berjumpa dengan roh halus, apalagi sampai mengancam nyawanya.

Batu punden itu kemudian ditata di halaman samping, menyatu dengan koleksi nyleneh lainnya.

Meski begitu, Sutarji tetap mengizinkan kalau ada orang untuk nyadran.

“Setelah ada orang nyadran, saya panggil tetangga-tetangga untuk makan ingkung ayamnya,” pungkas Sutarji.

5. Ingin bertemu hantu

Koleksi itu bermula dari keinginan Sutarji untuk bertemu hantu atau roh jahat.

“Kok orang-orang itu sering cerita ditemui hantu, tapi saya kok tidak. Jangan-jangan cuma khayalan saja,” ucap laki-laki ramah ini.

Sutarji mulai melakukan segala cara agar bisa melihat hantu.

Ayah dua orang dokter ini awalnya mengambil cungkup makam.

Bangunan kecil di atas makam untuk melindungi makam dari panas dan hujan ini dibawa pulang.

“Pikir saya kalau cungkupnya dibawa pulang hantunya akan datang. Ternyata tidak datang juga,” tuturnya.

Saking ingin bertemu hantu, aksi Sutarji semakin menjadi-jadi

“Saya pernah tidur di keranda itu, ternyata juga tidak bertemu hantu,” ungkapnya.

6. Museum yang tak kalah horor

Sebenarnya, ada sebuah museum di Surabaya yang juga mengoleksi beberapa benda horor

Museum tersebut adalah museum Kesehatan Dr. Adhyatma, MPH di Jalan Indrapura 17, Surabaya.

Museum Kesehatan dr Adyatama dini juga menyimpan barang-barang kesehatan tempo dulu serta benda-benda terkait supranatural.

Karena ada benda benda supranatural yang tersimpan di dalam museum itulah museum ini sering dijuluki museum santet.

Gedung museum ini sebenarnya adalah Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) dan Kebijakan Kesehatan, Departemen Kesehatan.

Di dalam komplek gedung Puslitbang itulah ada juga dua gedung yang dipergunakan sebagai bangunan untuk museum.

Gedung pertama sebagai museum alat alat kesehatan modern, dan gedung kedua adalah peralatan dan sarana pengobatan dan kedokteran tradisional termasuk di dalamnya adalah santet.

Museum ini selesai dibangun pada tahun 2004 diresmikan oleh Dr Ahmad Sujudi Menteri Kesehatan saat itu. 

Awalnya museum ini dirintis oleh Dr dr  Harijadi Soeparto DOR MSc yang kemudian mengambil penamaan museumdari dr Adhyatma yang pernah menjabat sebagai Menteri Kesehatan pada tahun 1988 hingga 1993.

Gedung yang dipergunakan untuk museum ini juga pernah dipergunakan sebagai Rumah Sakit Kelamin.

Atas kebijakan pemerintah berganti menjadi museum kesehatan.

Yang menarik pada museum ini adalah tersimpan rapi cara-cara pengobatan tradisional dan santet.

“Itu ada buku yang digantung, buku itu adalah petunjuk bagaimana cara pengobatan tradisional"

"itu dilakukan termasuk bagaimana santet itu dilakukan dan bagaimana korban yang terkena santet,” kata Hosnan, petugas museum.

Boleh dibilang, inilah untuk pertama kalinya di Indonesia ilmu gaib dipelajari secara ilmiah. Namun, kesan ngeri dan seram tetap saja muncul. 

Di dalam museum itu juga terdapat macam-macam benda yang sering dipakai untuk urusan mistik .

Lihat saja tanah kuburan dan tali pocong yang diyakini akan membuat sial bagi mereka yang membawanya pulang, rambut dan paku yang terdapat dari korban santet.

Ada pula boneka yang ditusuk jarum, foto seseorang yang ditusuk paku dalam kain merah.

Juga ada rokok kelobot yang dibentuk mirip boneka orang dan pada bagian tubuhnya tertancap kayu.

Semua benda tersebut kerap dipercayai dan dijadikan sarana untuk melakukan kegiatan supranatural.

Di bagian lain juga disimpan rapi, kayu pohon telor, kayu santen, kayu kengkeng, kayu kelor dan bambu yang semua kayu ini bisa dipergunakan sebagai sarana pengobatan tradisional.

Koleksi lain yakni telur ayam yang didalamnya terdapat organ-organ aneh.

Telur ayam itu digunakan sebagai media penyembuhan alternatif bagi korban santet.

Juga ada koleksi berupa pasir, benda-benda plastik dan biji-bijian yang dikeluarkan dari dalam tubuh korban santet dengan menggunakan pengobatan tenaga dalam.

Serta susuk, yakni logam kecil sepanjang sekitar 1 cm.

Susuk itu biasa digunakan oleh orang-orang yang ingin tampil menarik dengan menggunakan kekuatan gaib.

Di etalase lainnya, beberapa benda lain terkait dengan adanya santet juga tersimpan rapi.

Seperti potongan usus dari pasien terkena santet, paku bengkok yang dikeluarkan dari tubuh seorang pasien, serta beberapa helai ijuk yang keluar dari tubuh seorang pasien.

Benda mistik lainnya juga bisa dilihat di ruang ini, seperti kain bertuliskan rajah, batu, kain hingga obat-obatan dari dukun.

Serta dua boneka, Jailangkung dan Nini Thowok yang disimpan didalam etalase kaca.

Sarana pengobatan mistis dengan air juga bisa dilihat di museum ini, koleksi air berkhasiat itu seperti air dari paranormal Ki Kusumo, air dari dukun cilik Ponari, hingga rumput Fatimah yang diambil dari

Arafah yang dipercaya dapat menguatkan kandungan seseorang setelah melahirkan.

Menurut Hosnan, benda-benda supranatural untu menyantet dan korban santet tersebut didapatkan pengelola dari dukun santet.

Di bagian lain melalui album foto dapat dilihat proses penyantetan yang terdokumentasi, dari foto-foto yang dipajang ini dapat diketahui bagaimana ritual penyantetan berlangsung.

Tak hanya benda-benda supranatural dan medis, museum ini juga mengoleksi benda-benda yang unik.

Seperti celana anti perkosaan dan alat perangsang seks untuk pria dan wanita.

Ada pula benda berupa vacuum yang berfungsi untuk membesarkan alat kelamin pria.

Penasaran dengan museum santet ini , silahkan datang museum ini buka setiap hari mulai Senin hingga Jum’at dengan jam kerja mulai pukul 08.00 hingga pukul 15.00.

Sementara pada hari Minggu buka mulai pukul 09.00 hingga pukul 14.00.

Dr Harijadi yang ditemu mengatakan, dengan menjelajahi isi Museum Kesehatan dr Adhyatma ini bukan saja akan menambah wawasan terkait dunia kesehatan.

Tapi, kita dapat melihat realita masyarakat yang hingga kini masih mempercayai hal-hal mistik.

Selain dua gedung yang menyimpan peralatan dan sarana pengobatan tradisional dan modern ada satu ruangan yang tertutup rapat dan terkunci.

Di bagian pintunya ada tulisan “dunia lain”.

Menurut Harijadi, ruangan itu memang tertutup, dan tidak semua orang bisa masuk.

Untuk menuju ruangan itu harus melewati lorong dengan deretan peti mati.

“Itu artinya ada kehidupan, ada kematian dan dunia lain,” ujarnya.

Ia mewanti-wanti agar tidak usah masuk ke ruangan itu, karena ada banyak mahluk “lain” di ruangan tersebut.

Menurutnya dulu pernah ada kru sebuah TV swasta yang mencoba masuk dan benar saja hingga ke Jakarta makhluk “lain” itu terus mengikuti.

Menurutnya, koleksi museum seperti peralatan dan sarana terkait santet, teluh atau tenung tak bisa dipungkiri, menjadi bagian dari tradisi dan budaya gelap di nusantara.

Meski teknologi sudah maju dan berkembang, santet itu ternyata juga masih ada dan dipraktekkan hingga saat ini.

Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul "6 FAKTA Sutarji Warga Tulungagung Kolektor Benda Horor & Jadi Museum, Ada Tali Pocong hingga Keranda"

Editor: Panji Baskhara
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved