Breaking News:

Dapatkah Rokok Elektrik Kurangi Risiko Penyakit Jantung untuk Perokok?

Public Health of England telah mengumumkan temuannya bahwa rokok elektrik 95% lebih rendah risiko dibandingkan dengan rokok konvensional

themalaysiantimes.com.my
ILUSTRASI Rokok elektrik 

Studi terbaru menunjukkan bahwa perokok yang beralih ke rokok elektrik mengalami peningkatan fungsi vaskular dalam waktu satu bulan.

Studi ini dipublikasikan oleh American College of Cardiology pada November 2019 lalu.

Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa perokok, terutama perempuan, yang beralih menggunakan rokok elektrik mengalami peningkatan fungsi pembuluh darah yang lebih baik khususnya di sel endotel (sel yang berada dalam dinding pembuluh darah).

Anggota Komunitas Rokok Elektrik di Tangsel Rontgen Bareng Sikapi Wacana Pelarangan Vape

VIDEO: Cerita Ginanjar Empat Sekawan Jatuh Cinta dengan Gadis Muda Asal Cianjur yang Beda 32 tahun

Dilansir dari website resmi University of Dundee, Profesor Jacob George, Guru Besar Kedokteran dan Terapi Kardiovaskular di University of Dundee yang memimpin penelitian tersebut mengatakan,

“Setiap peningkatan fungsi jantung menghasilkan penurunan 13% dalam tingkat kejadian kardiovaskular seperti serangan jantung.

Dengan beralihnya para partisipan (penelitian) dari rokok ke rokok elektrik, kami menemukan peningkatan persentase poin rata-rata 1,5 dalam satu bulan, dan ini merupakan peningkatan yang signifikan dalam kesehatan jantung.

1.000 Pengemudi Bajaj Ikut Kepesertaan BPJamsostek

Kami juga menemukan bahwa, dalam jangka pendek setidaknya, terlepas dari apakah rokok elektrik itu mengandung atau tidak mengandung nikotin, seseorang akan melihat peningkatan pada kesehatan pembuluh darah dibandingkan dengan merokok dengan rokok konvensional.”

Temuan ini pun diharapkan dapat memberikan pandangan baru dalam menghadapi tingginya kerugian yang diakibatkan oleh penyakit jantung atau penyakit-penyakit katastropik lainnya yang berhubungan dengan rokok.

Apalagi mengingat bahwa selama periode Januari hingga Mei 2019 lalu saja BPJS Kesehatan telah mendanai biaya penyakit katastropik sebesar Rp 20 triliun dan 52% di antaranya dihabiskan untuk penyakit jantung.

Momen Nataru, Dishub Depok Akan Lakukan Tes Urin Para Sopir Serta Kesiapan Armadanya

Dihubungi lewat telepon, Ahli jantung Rumah Sakit Pusat Jantung Harapan Kita, dr Renan Sukmawan ST, SpJP(K), PhD, MARS mengatakan bahwa zat karbon monoksida yang dihasilkan dari pembakaran rokok tembakau menjadi salah satu zat yang menyebabkan gangguan pada jantung dan pembuluh darah.

Karbon monoksida akan menganggu pengambilan oksigen di dalam darah yang dibutuhkan otak dan mengakibatkan oksigen beredar berkurang, arau disebut hipoksia.

“Selain harus mengubah gaya hidup sehat, dan tentunya hilangkan kebiasaan merokok, perokok harus tahu kapan mereka harus berhenti.

Terjadi 19 Titik Genangan yang Melanda Pasca Hujan yang Mengguyur Wilayah DKI Jakarta

Para perokok ini sebaiknya berhenti secepatnya, karena berdasarkan riset yang saya baca itu akan mengurangi bahaya tembakau hingga 90%,” ujar dr. Renan.

Sebelumnya, Public Health of England telah mengumumkan temuannya bahwa rokok elektrik 95% lebih rendah risiko dibandingkan dengan rokok konvensional karena tidak adanya proses pembakaran yang menghasilkan karbon monoksida.

Hasil penelitian dari American College of Cardiology ini pun diharapkan tidak hanya dapat memberikan pandangan baru dalam mengatasi masalah kesehatan yang berkaitan dengan fungsi vaskular, namun juga terhadap rokok elektrik terutama bagi para perokok dewasa yang membutuhkan alternatif untuk berhenti merokok.

Editor: Wito Karyono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved