Pasar Uang
Tahun Depan Rupiah Masih Seperti Rollercoaster
Bila dihitung sejak awal tahun, kurs rupiah menguat 2,12 persen terhadap dollar Amerika Serikat (AS).
WARTA KOTA, PALMERAH--- Performa kurs rupiah tahun ini sejatinya lumayan.
Bila dihitung sejak awal tahun, kurs rupiah menguat 2,12 persen terhadap dollar Amerika Serikat (AS).
Rupiah merupakan mata uang dengan penguatan ketiga terbesar di Asia.
Performa rupiah cuma kalah terhadap baht Thailand yang menguat tujuh persen terhadap dollar AS dan peso Filipina yang menguat 3,52 persen terhadap dollar AS di periode yang sama.
Menurut Ekonom Bank UOB, Enrico Tanuwidjaja, daya tahan rupiah menghadapi sentimen negatif di kuartal dua dan tiga tahun ini cukup baik.
• Bank DKI Gandeng Tempat Wisata di Jakarta untuk Meningkatkan Transaksi Non Tunai
"Bahkan, guncangan sentimen eksternal negosiasi dagang AS dan China hanya membawa rupiah melemah ke Rp 14.360 per dollar AS," kata Enrico, Minggu (24/11/2019).
Setelah merosot cukup dalam, rupiah bisa menguat cepat dan kembali mendekati Rp 14.000 per dollar AS.
Penguatan didorong masuknya dana asing ke pasar obligasi.
Meski begitu, volatilitas rupiah bakal tetap tinggi hingga tahun depan.
Salah satu faktor yang membuat kurs rupiah bergerak fluktuatif adalah perkembangan negosiasi dagang antara AS dan China yang tidak juga beres.
Perang dagang juga menimbulkan ancaman perlambatan ekonomi global.
• Hasil Penelitian WHO, Ternyata Remaja di Seluruh Dunia Malas Olahraga: Asyik dengan Gadget?
Kondisi ini berpotensi menekan rupiah, lantaran pelaku pasar berhati-hati masuk ke aset berisiko, termasuk rupiah.
Enrico menilai pelaku pasar bakal cenderung mengurangi investasi ke pasar Tanah Air demi mengantisipasi risiko perlambatan ekonomi global.
"Kami memperkirakan rupiah akan melemah lagi, sejalan dengan pergerakan yuan China dan mata uang lain di regional," kata dia.
Meski begitu, dalam jangka pendek, setidaknya sampai akhir tahun, kurs rupiah masih berpeluang menguat.
Ekonom Standard Chartered, Aldian Taloputra, menilai, perkembangan terkait pembahasan keluarnya Inggris dari Uni Eropa atawa Brexit yang positif bisa menahan pelemahan rupiah.
"Potensi no-deal Brexit menurun," kata dia.
• Orang Terkaya di Dunia, Jeff Bezos Sumbang Rp 1,37 Triliun untuk Bantu Tuna Wisma
Di samping itu, data-data ekonomi Indonesia yang dirilis belakangan cukup positif.
Aldian menilai neraca perdagangan Indonesia saat ini masih dalam kondisi baik.
Ini diharapkan bisa membuat arus modal asing kembali masuk ke dalam negeri dan mendorong penguatan rupiah.
Aldian memprediksi, nilai tukar rupiah bahkan bisa mencapai level Rp 13.900 per dollar AS di akhir tahun ini.
Sementara hitungan Enrico lebih optimistis.
• Bursa Efek Indonesia Mencatat 16 Saham Bergerak di Luar Kebiasaan Selama Bulan Ini
Ia memprediksi di akhir tahun ini kurs rupiah akan berada di kisaran Rp 14.300 per dollar AS.
Kurs rupiah masih berpotensi melemah tahun depan.
Hitungan Enrico, kurs rupiah bisa berada di kisaran Rp 14.400 per dollar AS di kuartal I-2020 dan melemah hingga Rp 14.500 di kuartal dua atau kuartal tiga tahun depan.
Tapi, Enrico masih melihat peluang rupiah menguat.
"Kalau investor terus membeli negative yield asset, itu berpotensi menarik capital inflows ke Tanah Air dan berpotensi membalikkan tren pelemahan," katanya.
• Pesta Diskon 11.11, Orang Indonesia Rata-rata Menghabiskan Rp 300.000-an
Berita ini sudah diunggah di Kontan dengan judul 2020, Rupiah Masih Seperti Rollercoaster
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/nilai-tukar-rupiah_9kk3mn.jpg)