Pelaku Industri Ritel Mulai Mengembangkan Pusat Belanja Sendiri
Pelaku industri ritel saat ini dituntut kian inovatif, pasalnya tidak hanya ekspansi dan redesign gerai.
WARTA KOTA, PALMERAH--- Pelaku industri ritel saat ini dituntut kian inovatif, pasalnya tidak hanya ekspansi dan redesign gerai.
Pengusaha ritel juga dituntut lebih atraktif untuk menjaga bisnisnya terus berkembang.
Di antaranya dengan membangun dan mendesain pusat belanja yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
Himpunan Penyewa Pusat Belanja Indonesia (Hippindo) misalnya yang bekerjasama dengan Vasanta Innopark dan Mitsubishi untuk menggarap Hippindo City.
Belum lagi beberapa perusahaan yang sebelumnya memiliki pusat belanja untuk keperluan sendiri mulai mendatangkan tenan baru diluar dari bisnisnya.
• Berikut Tantangan dan Peluang Industri Multifinance Tahun Depan
Stefanus Ridwan, Ketua Umum Asosiasi Penglola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), mengaku tak heran dengan banyaknya peritel yang merangsek ke bisnis pusat belanja.
Apalagi di beberapa daerah juga penambahan pusat belanja mulai stagnan sehingga diperlukan area baru bagi peritel untuk berbisnis.
“Kalau pusat belanja itu sekarang jarang yang bangun, memang benar tenant ritel yang gede-gede cari tempat susah di mall. Apalagi di Jakarta sudah tidak ada karena bikin mall baru di Jakarta kurang menguntungkan,” kata Stefanus kepada Kontan, Senin (25/11/2019)./
Menurutnya, dalam tiga tahun terakhir tidak terjadi penambahan mall baru di Jakarta karena aturan yang menyulitkan.
Misalnya Perda Nomor 2 tahun 2018 tentang Perpasaran yang menggratiskan 20 persen area gratis untuk UMKM, sehingga pengelola pusat belanja semakin kesulitan untuk bisa balik modal.
Oleh karena itu, pengembang pusat belanja saat ini bergeser ke wilayah diluar Jakarta seperti Bekasi, Depok, Tangerang Selatan.
• Akumulasi Harta Para Miliarder Dunia Anjlok Rp 5.432 Triliun
Pasalnya di wilayah tersebut, break even point lebih cepat ketimbang di Jakarta sekitar 12-15 tahun.
Menurutnya, pembangunan pusat belanja di Jakarta saat dikembangkan dengan mixed use dengan residensial dan hotel.
Apalagi pusat belanja saat ini tidak bisa sembarangan menaikkan tarif yang ujungnya akan berpengrauh terhadap tenancy ratio.
Asal tau saja, di Jakarta sendiri saja tenancy ratio pusat belanja tidak merata.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/usaha-ritel_9i8j.jpg)