Selasa, 5 Mei 2026

Pameran Kebaharian

Mengenal Rumah Perahu dan Manusia Perahu di Indonesia di Pamerah Perahu Tradisional Nusantara

Kelompok masyarakat yang hidup di laut dan berpindah di kawasan perairan Asia Tenggara, ditemukan beberapa macam sebutan.

Tayang:
Repro Warta Kota/Gopis Simatupang
Foto yang dipamerkan dalam Pameran Perahu Tradisional Nusantara di Museum Kebaharian Jakarta, Penjaringan, Jakarta Utara, Minggu (24/11/2019). 

Suku Laut, Orang Laut, atau Suku Bajo adalah kelompok suku bangsa tinggal di pesisir sepanjang kepulauan Riau dan di sepanjang pantai timur Sumatera.

Kelompok masyarakat ini biasa tinggal di perahu atau di rumah kolong yang dibangun di atas air di perairan dangkal.

Bagi yang tinggal di perahu, mereka mengelompok dalam beberapa perahu biasanya ditambatkan di satu teluk di muara sungai.

Di Indonesia, penyebutan suku bangsa ini biasa dikenal sebagai Orang Laut (sea people) atau Suku Sampan (boat tribe/sampan tribe) yang juga terdapat di wilayah pesisir lainnya.

Dalam berbagai karya etnografi mengenai kelompok masyarakat yang hidup di laut dan berpindah di kawasan perairan Asia Tenggara, ditemukan beberapa macam sebutan.

Pengalaman Bung Karno dan Bung Hatta Naik Perahu Tradisional ke Pelosok Indonesia

Manfaat Lobak yang Perlu Anda Ketahui Untuk Kesehatan Tubuh dan Melawan Kanker

Sebutan itu antara lain sea nomads, sea folk, sea hunters and gatherers, dan dalam bahasa Thai disebut Cho Lai atau Chaw Talay.

Orang Melayu Riau Kepulauan mengenalnya lewat sebutan Orang Laut.

Berdasarkan keterangan dalam Pameran Perahu Tradisional Nusantara di Museum Kebaharian Jakarta, Penjaringan, Jakarta Utara, keberadaan Suku Laut dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu.

Selain itu, Suku Laut juga dipengaruhi ajaran Islam yang menyebar lewat lautan dan perdagangan.

Orang-orang Suku Laut adalah orang Melayu dan hidup secara nomaden.

Sistem kepercayaan yang dianut oleh Suku Laut sendiri masih kepercayaan animisme.

Punya Aplikasi Voice Note Handphone, Sheryl Sheinafia bisa Bikin Lagu

Meninggal Terkena Serangan Jantung, Nindy Ayunda Bilang Ayahnya Sudah Tak Sakit Lagi

Ada juga yang sudah beragama Islam, namun masih bercampur dengan kepercayaan nenek moyang.

Begitu juga di Pulau Bintan ada anggota Kelompok masyarakat Suku Laut yang memeluk agama Kristen dan mempunyai gereja.

Kelompok masyarakat Suku Laut memang hidup di perairan dangkal secara mengelompok dan berpindah-pindah tempat.

Ketika mereka sudah 'mapan' di satu tempat, mereka membangun rumah tinggal berupa rumah kolong di atas air.

Orang-orang Suku Laut memandang bahwa daratan adalah tempat yang tak masuk akal bagi mereka.

Daratan adalah tempatnya orang yang sudah mati.

Mereka menganggap daratan hanyalah tempat untuk menguburkan jenazah mereka, sehingga daratan bagi mereka adalah kotor.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved