Selasa, 28 April 2026

Jakarta Tempo Dulu

Keluarga Kaya Batavia Punya 200 Budak, Punya Pekerja Khusus Bikin Sambal

Keluarga Gubernur Jenderal Reynier de Klerk bahkan mempunyai budak yang kerjanya khusus membuat sambal saja!

Warta Kota/Alex Suban
Proyek renovasi Kali Besar berlangsung di Jalan Kali Besar Barat, di kawasan wisata Kota Tua, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, Rabu (23/8/2017). 

Teriakan frustasi ibu-ibu rumah tangga di Indonesia yang ditinggal mudik pekerja rumah tangga tak akan mungkin terdengar pada masa Jakarta tempo dulu sekitar abad ke-17.

Pasalnya, pada masa itu, Jakarta yang disebut Batavia sudah 'impor' budak dari luar Jawa--seperti dikutip dari F De Haan dalam bukunya Oud Batavia (Batavia:G Kolff & Vr, 1922).

Untuk impor budak dikenakan pajak tertentu.

Tetapi berapa besarnya pajak itu tidak jelas karena uang pajak lebih sering 'ketinggalan' di kocek syahbandar Batavia ketimbang masuk ke kas Pemerintah Hindia Belanda.

Ada lagi kebiasaan yang cepat menjadi tradisi yakni rombongan budak baru saja tiba di Batavia biasanya diperlihatkan dulu kepada pejabat-pejabat Batavia.

Orang-orang penting itu berhak memilih dan membeli budak yang disukainya dengan harga modal.

Napak Tilas Sejarah Kehidupan Ibu Kota di Museum Sejarah Jakarta

Berawal dari Villa, Museum Tekstil Tawarkan Keterampilan Membuat Batik dan Pelestarian Budaya

Berapa banyak budak yang didatangkan ke Batavia?

Satu-satunya angka pasti tentang jumlah budak adalah catatan dari masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van der Parra (1761-1775).

Ketika itu, 4.000 budak per tahun didatangkan ke Batavia. Para pakar memerkirakan bahwa jumlah itu lebih sedikit ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

Alasannya, belum banyak orang menggunakan tenaga budak dan tingkat kematian budak Batavia belum terlalu tinggi.

Dalam satu surat, Cornelia Johanna Bevere bercerita, pada tahun 1689 memiliki 59 budak membantu mengurus rumah tangga sebagai pengantin anyar di Batavia.

Pada tahun 1775, orang kaya lainnya, Riemsdijk tinggal di Tijgersgracht (Jalan Pos Kota sekarang--Red) mempekerjakan 200 orang budak (lelaki, perempuan dan anak-anak).

Mengenal Kain Nusantara di Museum Tekstil, Ikut Menjaga Warisan Budaya Nusantara

Menikmati 500 Karya Seni Rupa di Museum Seni Rupa dan Keramik

Dua ratus orang budak dalam satu rumah!

Namun, rata-rata rumah tangga di Batavia tidak memiliki budak sebanyak itu.

Mereka yang tidak kaya, hidupnya lebih sederhana.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved