Gunung Semeru
Fenomena Gunung Semeru Bertopi Awan Terjadi Lagi Hari Ini, Tak Perlu Dikaitkan dengan Mistis
“Itu fenomena alam biasa. Dari beberapa literatur, bahasa lainya di sebut awan Lenticular, yaitu awan yang terbentuk dari hasil pergerakan angin
Fenomena awan melingkar berbentuk mirip topi kembali terjadi di Puncak Gunung Semeru, Jawa Timur, Kamis (7/11/2019).
Awan melingkar itu menutupi sebagian puncak sehingga membuat Mahameru seperti sedang bertopi.
“Betul, pagi ini Semeru sedang gagah bertopi caping,” kata Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas pada Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Sarif Hidayat, kepada Kompas.com, Kamis.
• Saat Ajakan Mendiang Rudy Badil Mendaki Gunung Semeru Belum Dijawab Indro Warkop
• Soal Cadar-Celana Cingkrang Menag Klarifikasi ke DPR, Ini Harapan Jokowi ke Fachrul Razi
• Tito Karnavian Bilang Omong Kosong Ada Kepala Daerah Ingin Mengabdi kepada Nusa dan Bangsa tapi Rugi
Sarif mengatakan, fenomena awan putih melingkar di atas Gunung Semeru merupakan fenomena alam biasa.
Awan itu merupakan awan jenis Altocumulus Lenticular yang terbentuk akibat pergerakan udara di area pegunungan.
“Itu fenomena alam biasa. Dari beberapa literatur, bahasa lainya di sebut awan Lenticular, yaitu awan yang terbentuk dari hasil pergerakan angin yang menabrak dinding penghalang besar seperti pegunungan atau perbukitan sehingga menimbulkan pusaran di puncak seperti topi caping,” ujar Sarif.
Tidak diketahui pasti berapa lama awan itu bertahan. Sarif mengatakan, awan itu sudah terlihat sejak pukul 05.30 WIB dan diperkirakan bertahan hingga satu sampai dua jam.
• Ini Tanggapan Presiden Jokowi Soal Kabar Ahok Masuk Dewan Pengawas KPK, yang Miliki Kapabilitas
“Teman-teman jam 05.30 WIB pagi tadi sudah melihat fenomena itu. Pastinya berapa lama saya kurang begitu paham. Mungkin bisa satu atau dua jam,” kata dia.
Tidak kali ini saja awan Altocumulus Lenticular ditemui di puncak setinggi 3.676 meter dari permukaan laut itu. Sarif mencatat, sepanjang 2019 sudah pernah terlihat awan serupa.
“2019 ini fenomena caping sedikitnya sudah dua atau tiga kali terjadi,” kata dia.
Sementara itu, akses pendakian menuju puncak tertinggi Jawa itu masih ditutup akibat kebakaran hutan yang terjadi sejak beberapa bulan yang lalu. “Iya, masih ditutup,” kata dia.
Ada pun fakta serupa yang sempat diberitakan Kompas.com adalah yang te
• VIDEO: Tiga Hari Pencarian, Bocah Hanyut Ditemukan di Bawah Jembatan KBT
rjadi pada Senin (10/12/2018) atau hampir setahun lalu.
"Secara umum diduga karena adanya perubahan atau pergerakan angin di Puncak Semeru," kata Sarif ketika itu.
"Tapi secara pasti apa yang terjadi belum bisa disampaikan sehingga perlu ada penelitian lebih lanjut oleh pihak yang berkompeten," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/semeru-bertopi-caping.jpg)