Harapan Susi Susanti Untuk Pebulu Tangkis Putri Junior
Timnas Indonesia Junior memperoleh hasil impresif di Kejuaraan Dunia Junior di kazan, Rusia. Susi Susanti berharap prestasi itu terus berlanjut.
Pada perhelatan Kejuaraan Dunia Junior (World Championship/WJC) 2019, yang digelar di Kazan, Russia, Timnas Indonesia berhasil menorehkan hasil yang membanggakan.
Selain kesuksesan di nomor beregu, di nomor perorangan Indonesia mengirim tiga wakil ke babak final.
Satu diantaranya meraih medali emas, yakni pasangan ganda putra Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin.
Sementara dua lainnya, yakni di sektor ganda putri Febriana Dwipuji Kusuma/Amalia Cahaya Pratiwi, dan ganda campuran Leo Rolly Carnando/Indah Cahya Sari Jamil harus puas dengan medali perak.
Sektor putri
Meski keduanya tidak berhasil juara, namun ada harapan ke depannya, terutama untuk pemain bulu tangkis putri Indonesia.
Bagaimana tidak, pemain bulu tangkis putri Indonesia sering memperoleh sorotan negatif, karena sering gagal meraih gelar di kejuaraan dunia.
Bahkan acap kali gugur fase 16 besar, perempat final. Baik itu tunggal putri, ganda putri, maupun tim beregu.
Meyakinkan di level junior namun jatuh bangun kala memasuki level senior. Inkonsistensi penampilan sering ditunjukkan oleh para pemain.
Transisi pemain dari level junior ke senior menjadi hal yang sampai kini masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), agar para pemain tidak kehilangan momentum.
Menyikapi ini, Susi Susanti mengatakan terus melakukan pembinaan, baik melalui fisik, mentalitas pemain serta, rasa haus pemain untuk meraih gelar demi gelar.
Hal itu diungkapkan peraih medali emas Olimoiade Barcelona (1992) dan Atlanta (1996) ini, saat diwawancarai Warta Kota di Bandara Soekarno-Hatta, dalam acara penyambutan tim junior Indonesia, Selasa (15/10)
"Kami sudah melihat perjuangan luar biasa yang ditunjukkan oleh tim putri. Potensi yang menjanjikan, bila pemain mampu menjaga level permainan maka tentu dapat meraih juara," katanya.
DiIa juga mengatakan bahwa secara teknik tim putri Indonesia tidak kalah dengan tim lain, seperti Jepang dan Tiongkok. Hanya keinginan untuk ngotot, haus gelar yang harus dimiliki oleh pemain.
"Masalah teknik tidak jauh berbeda dengan Jepang maupun Tiongkok, namun mentalitas pemain yang harus dikuatkan. Serta konsentrasi pemain, pemain harus yakin dengan dirinya sendiri dan haus akan juara," kata Susi.
Pencapaian tinggi terakhirdi sektor [putri adalah, saat ganda putri Gresia Polii/Apriyani Rahayu menyabet medali perunggu di Kejuaraan Dunia BWF 2019 di Swiss, Agustus lalu, setelah mengandaskan perlawanan Tiongkok (Chen Qingchan/Jia Yipan). (m21)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/ganda-putri-febriana-dwipuji-kusumaamalia-cahaya-pratiwi.jpg)