Otomotif

FAKTA Penggunaan Busi Racing di Motor Standar untuk Harian, Ini Dampak Buruknya

Banyak pengendara motor pilih busi racing atau busi balap untuk harian, namun ada dampak buruk penggunaan busi racing untuk harian.

Editor: PanjiBaskhara
Istimewa
ILUSTRASI Busi 

Banyak pengendara motor pilih busi racing atau busi balap motor untuk harian, namun ada dampak buruk penggunaan busi racing untuk harian.

Ternyata, penggunaan busi racing untuk motor standar tidak tepat.

Sebab efek busi racing untuk motor balap dan busi racing untuk motor harian, sangat jauh berbeda.

Simak, fakta sebenarnya dalam penggunaan busi racing di motor harian.

Tjahjo Kumolo Heran Tidak Menyangka Setelah Ungkap OTT Terakhir Ternyata OTT Masih Terjadi Terus

ITF Sunter Jadi Proyek Kolaboratif yang Berjalan Lintas Waktu

Denny Indrayana Serius Jadi Cagub Kalsel, Daftar Via Nasdem dan Demokrat Hingga Jalur Independen

Pembakaran yang baik akan menghasilkan tenaga yang besar.

Pengertian itu diterjemahkan sebagian orang dengan memakai busi racing di sepeda motor harian untuk memperbesar api busi.

Padahal peruntukan motor balap dan harian jauh berbeda, termasuk soal penggunaan busi.

Menggunakan busi khusus balap di motor harian bukanlah ide yang baik karena justru menciptakan masalah.

Diko Oktaviano, Technical Support NGK Busi Indonesia mengatakan, busi balap didesain untuk penggunaan ekstrem.

Busi motor Injeksi(zona435412)

Sehingga tidak sesuai untuk mesin standar.

Spesifikasi busi balap akan mubazir dipakai di motor harian.

"Tidak perlu. Busi racing dirancang untuk engine tuning sehingga kalau dipakai di harian justru tidak memiliki efek. Busi Racing NGK adalah busi kompetisi warna merah"

"Tapi jika masih Iridium IX atau platinum GPower penggunannya bisa harian maupun racing," kata Diko kepada Kompas.com, Senin (24/6/2019).

Diko mengatakan, penggunaan busi racing pada motor harian justru bisa menyebabkan masalah di mesin seperti menumpuknya deposit karbon di ruang bakar, atau malah terjadi misfiring atau salah pengapian.

Salah satu contoh terjadinya misfiring yang paling terlihat yaitu knalpot 'nembak' dan akhirnya terjadi detonasi atau 'knocking.'

Busi NGK buat PCX (dok.NGK)

Hal tersebut dapat diperburuk apabila mesin sering digunakan untuk jarak dekat dengan ritme stop & go.

Jika dirasa busi standar yang dipakai kurang mumpuni, Diko mengatakan pilihlah busi dengan bahan yang bagus.

Cirinya yakni cari busi yang memiliki titik leleh yang tinggi dengan konduktivitas listrik yang baik.

“Pilih elektroda yang mampu menciptakan percikan listrik lebih fokus untuk menghasilkan efek pertumbuhan api yang cepat membesar sehingga menghasilkan ledakan energi yang lebih tinggi,” katanya.

Dampak Buruk Salah Pilih Busi Motor

Ada dampak buruk jika salah memilih busi motor, salah satunya yakni jika salah pilih busi mesin motor jadi panas atau overheat.

Lalu, bagaimana cara memilih busi motor yang benar? Seperti apa ciri dan tipe busi motor standar yang bagus untuk motor anda?

Simak risiko buruk jika salah memilih busi motor.

Busi adalah komponen penting pada siklus pembakaran mesin berbahan bakar bensin.

Penggunaan tipe busi yang tidak tepat akan mengakibatkan penurunan kinerja mesin.

Tiap pabrikan sepeda motor mempunyai standar busi yang disarankan.

Sehingga kalau ingin mengganti busi dengan merek lain, pastikan panjang ulirnya sama karena kalau tidak akan mengganggu pengapian.

AW Wicaksana, Marketing dan Managemen Merek PT NGK Busi Indonesia, mengatakan, jangan terkecoh busi dengan lebar ulir yang serupa, karena belum tentu memiliki fitur dan spesifikasi yang sama.

"Serupa tapi tak sama. Kalau ujung busi terlalu pendek akan terjadi penumpukan karbon.

Sedangkan kalau terlalu panjang busi overheat dan bisa terbentur piston," kata Wicaksana dalam keterangan terulis, Jumat (4/10/2019).

Wicaksana mengatakan, cara mudah yaitu dengan melihat kode busi dan menggantinya dengan yang sama.

Karena jika salah kode dapat memperburuk kinerja mesin bahkan mengakibatkan banyak masalah.

"Kesalahan pasang kode busi dapat mengakibatkan carbon fouling, overheat, piston mentok, elektroda meleleh, ECU bermasalah, dan knocking (menggelitik)," katanya.

Cara Buka Tutup Kepala Busi di Motor

Tutup kepala busi(Foto: Tokopedia)

Tutup kepala busi punya tugas cukup penting untuk mengantar tegangan dari koil ke busi.

Sayangnya masih banyak yang menyepelekan fungsi komponen yang yang sering disebut plug cap ini.

Kasus paling banyak terjadi ialah mencopot plug cap menggunakan tang dan perkakas lain.

Kemudian melepasnya saat kondisi mesin masih panas, membuka dengan cara ''dibengkokkan," atau menarik kabelnya.

Diko Octaviano, Technical Support PT NGK Busi Indonesia, mengatakan, cara-cara tersebut membuat plug cap cepat rusak.

Sebab kendati dari luar hanya berupa karet lentur tapi cukup banyak komponen di dalamnya.

" Plug cap karet lentur dengan tambahan resin di dalamnya, bagaimanapun resin ada sifat getas.

"Karena itu kita tidak boleh menggunakan benda yang sifatnya merusak dan dibengkokin"

"Di dalamnya itu banyak komponen," kata Diko kepada Kompas.com, yang ditemui di GIIAS 2019 belum lama ini.

Beberapa komponen yang terdapat di dalam plug cap yaitu connector, spring contact , resistor, lock washer dan screw cord setting.

Diko mengatakan, komponen tersebut dapat rusak jika sering dibuka dengan cara paksa.

- Benar

1. Buka pulg cap hanya jika mesin dalam kondisi dingin.

2. Untuk melepas plug cap, pegang kepala tarik perlahan. Jangan ditarik paksa.

3. Jika keras jangan langsung ditarik paksa. Putar-putar perlahan sambil ditarik perlahan.

4. Saat memasang pastikan kepala bsi sudah terpasang sempurna ke dalam plug cap.

- Salah

1. Membuka dengan menggunakan tang atau perkakas lain.

2. Membuka saat mesin masih panas.

3. Membuka dengan cara membengkok-bengkokkan pulg cap.

4. Membuka dengan cara menarik kabel.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Risiko Salah Pilih Busi Buat Motor", "Cara Benar Buka Tutup Kepala Busi di Motor" dan "Tinjau Lagi Penggunaan Busi Racing buat Harian"

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved