Pameran I3E Digelar Kembali, Hadirkan 440 Inovasi Karya Anak Negeri
Pembukaan pameran dilakukan secara simbolis oleh Menristekdikti Mohamad Nasir bersama jajaran Kemenristekdikti dengan menerbangkan pesawat kertas.
Penulis: Ichwan Chasani | Editor: Ichwan Chasani
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir membuka pameran Inovasi Inovator Indonesia Expo (I3E) di Hall B JCC Senayan, Jakarta, Kamis (3/10/2019).
Pembukaan pameran itu dilakukan secara simbolis oleh Menristekdikti Mohamad Nasir bersama jajaran Kemenristekdikti dengan cara menerbangkan pesawat kertas. Prosesi tersebut dilakukan sebagai penghormatan kepada Mantan Menristek serta Presiden RI ke-3, almarhum B.J Habibie.
Dalam sambutannya Menristek Nasir membandingkan, Iran yang diembargo Amerika Serikat, pertumbuhan startup-nya mulai 2004-2014 menghasilkan 1.000 startup. Indonesia saat itu satu tahunnya hanya ada 8 hingga 15 startup.
“Tapi dalam masa 2015-2019, Indonesia mampu menghasilkan 1.307 startup, ini yang luar biasa. Dengan startup semacam ini, ada yang sudah menjadi industri, ada yang menjadi calon perusahaan pemula,” ujarnya.
Diantara PPBT yang sudah itu, ternyata sudah ada yang berkolaborasi dengan perusahaan luar negeri. “Kami kirim ada yang ke Inggris, kami kirim pameran di Jerman, ternyata langsung bisa lakukan kerja sama. Ini pertanda inovasi Indonesia sudah membaik,” kata Menristekdikti.
Dari 1.037 startup itu, ternyata ada 13 yang sudah sukses, yang omzetnya per tahun lebih dari 1 miliar. “Kalau omzetnya 1 miliar ke atas, anggaplah keuntungannya 30 persen, berarti ada 300 juta, artinya 25 juta per bulan. Bahkan ada yang omzetnya mencapai di angka 4,5 miliar, ini luar biasa,” bebernya.
Data yang diperoleh, 17 tenant memiliki omzet 500 juta hingga 1 miliar per tahun, dan 79 tenant beromzet 100 juta hingga 500 juta per tahun. Namun tidak semua startup itu sukses, karena ada juga yang terhenti. Sebanyak 25 tenant sudah tidak berjalan, dan 249 tenant masih dalam proses pembinaan (tahun 2019).
Menteri Nasir menyebut, Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) atau startup juga telah berkontribusi terhadap GDP (gross domestik product) atau Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Tahun 2014, Indonesia berada di rangking 17 diantara negara G20. Menariknya, tahun 2019 sesuai data IMF, ternyata Indonesia menempati urutan ke-7. “Ini lompatan luar biasa. Mudah-mudahan para startup Indonesia makin maju,” harap Menristekdikti.
Sementara Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Jumain Appe mengatakan, pameran ini bertujuan memperkenalkan dan memasyarakatan hasil- hasil inovasi anak bangsa.
Startup yang turut serta dalam pameran ke-5 ini mulai dari wirausaha rintisan, hasil penelitian perguruan tinggi, hingga ke pengembangan industri.
“Produk inovasi yang ditampillkan juga sejalan dengan amanat RPJM dimana pembangunan iptek akan ditujukan kepada 8 bidang fokus yaitu pangan, energi, kesehatan dan obat, transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, pertahanan dan keamanan, serta material maju ditambah fokus bidang kemaritiman,” ujarnya.
Menurutnya, pameran I3E yang akan berakhir 6 Oktober 2019 inimenampilkan 440 inovasi yang terdiri dari 249 hasil produk inovasi dari PPBTT, 132 produk inovasi dari program pendanaan CPPBT, dan 23 produk dari pendanaan inovasi industri yanag semuanya adalah karya anak negeri.
Selain masyarakat umum, mahasiswa, komunitas starup, generasi milenial yang tertarik dengan berbagai inovasi teknologi dalam negeri, pameran ini juga dihadiri para investor, serta pelaku pembiayaan fintek dan modal ventura. “Sehingga dapat memberikan kesempatan bagi para startup dalam mengembangkan bisnisnya di masa datang,” kata Jumain Appe.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/menristekdikti-i3e-2019.jpg)