Trend, Ponsel Tanpa SIM Card: Berikut Komentar BRTI, Pengamat, Hingga Operator soal eSIM

Trend industri telekomunikasi terbaru adalah GSMA merilis teknologi subscriber identity module (SIM) yang baru yakni embedded SIM (eSIM).

2. Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia

Kehadiran embedded SIM (eSIM) di Indonesia dipastikan tidak memerlukan regulasi perizinan untuk penggunaannya.

Hal itu diungkap oleh Nonot Harsono, anggota staf Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).

Menurut Nonot, yang terpenting adalah konsensus tata cara injeksi data pengguna ke dalam eSIM.

"Teknologi eSIM itu melekat di dalam handphone atau gadget, tinggal diinjeksi data-data pengguna. Dalam hal penggunaannya tidak perlu ada regulasi perizinan," katanya seperti dikutip Kontan, Senin (9/9/2019).

Sebagai informasi, teknologi eSIM adalah standar baru yang dikembangkan oleh GSMA dan digunakan di seluruh dunia.

Dengan eSIM memungkinkan pengguna untuk memasukkan profil SIM ke perangkat tanpa menggunakan kartu SIM fisik yang harus dimasukkan ke dalam perangkat.

Saat ini, perangkat yang bisa menggunakan eSIM adalah iPhone XR, XS dan XS Max yang dilengkapi dengan fitur dual SIM dengan SIM card fisik dan eSIM.

Sementara di Indonesia, Smartfren menjadi operator pertama yang mengaplikasikan teknologi eSIM.

Lebih lanjut, Nonot menilai teknologi eSIM berpotensi memudahkan operator agar tidak membeli jutaan kartu SIM setiap tahun.

Di samping itu, registrasi SIM kartu telepon pengguna dapat lebih akurat jika tata cara dapat disesuaikan.

"Ini bisa pula meniadakan bisnis SIMcard di Indonesia. Teknologi yang dibawa dari operator luar pun sudah terinjeksi dalam gadget. Jadi bentuknya seperti roaming," katanya.

Di sisi lain, Ridwan Effendi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), mengatakan, penjualan operator eSIM luar negeri di Indonesia dapat menimbulkan masalah.

"Secara UUPK (UU Perlindungan Kosumen) hal ini bermasalah. Operator luar tentunya tidak tunduk pada ketentuan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, sehingga perlindungan konsumen menjadi tidak jelas," kata Ridwan seperti dikutip Kontan.

Selaras dengan poin tersebut, Ridwan berpendapat model bisnis simcard ini juga akan berubah, penjual gadget atau handphone bisa memiliki kewenangan menjual eSIM.

Padahal secara teoritis yang memegang alokasi tersebut adalah operator.

"Teknologi eSIM lebih murah karena informasi SIM (IMSI) menyatu dengan handphone (IMEI). Namun ke depannya menjadi bias dalam menentukan kewenangan," katanya.

Berita ini sudah diunggah di Kontan dengan judul BRTI: Teknologi eSIM tak perlu regulasi perizinan dan lebih murah, tapi..

Selanjutnya
3. Telkomsel
Halaman
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved