Resesi Global, Indonesia Mulai Terkena Dampak? Berikut Penjelasan Bank Dunia
Resesi global yang ditandai dengan perlambatan ekonomi di sejumlah negara kini mulai membayangi Indonesia.
WARTA KOTA, PALMERAH--- Resesi global yang ditandai dengan perlambatan ekonomi di sejumlah negara kini mulai membayangi Indonesia.
Bank Dunia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus melemah di tengah perlambatan ekonomi global.
Dalam riset Bank Dunia bertajuk Global Economic Risks and Implications for Indonesia yang dikutip dari Kontan, Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia akan terus turun di tengah perlambatan ekonomi global.
“Pertumbuhan PDB Indonesia akan berlanjut menurun akibat lemahnya produktivitas dan pertumbuhan tenaga kerja yang melambat,” kata Bank Dunia.
Selain itu, menurunnya harga komoditas dunia juga akan semakin menekan perekonomian Indonesia.
Bank Dunia menggambarkan, setiap satu poin persentase (percentage point) penurunan ekonomi China, berdampak pada penurunan ekonomi Indonesia sebesar 0,3 percentage point.
Pada resesi 2009, misalnya, pertumbuhan ekonomi global turun hingga 6,2 persen dari tahun 2007, disertai dengan harga komoditas yang jatuh.
Saat itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga melambat 1,7 persen.
Perlambatan ekonomi global, ditambah perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China yang berlanjut, potensi resesi ekonomi AS, juga pelemahan ekonomi Eropa dan China, dipandang Bank Dunia bakal memicu arus keluar modal (capital outflow) yang lebih besar.
“Ini dapat menyebabkan suku bunga acuan Indonesia kembali meningkat dan rupiah terdepresiasi lebih dalam,” kata Bank Dunia.
Capital outflow tersebut semakin berbahaya lantaran sampai saat ini Indonesia masih mengalami defisit neraca transaksi berjalan (CAD).
Kuartal II-2019, CAD Indonesia mencapai 8,4 miliar dollar AS atau tiga persen dari PDB.
Defisit ini naik dari 7 miliar dollar AS atau 2,6 persen dari PDB pada kuartal pertama.
Bank Dunia memproyeksi, CAD Indonesia di akhir 2019 sebesar 33 miliar dollar AS, naik dari tahun sebelumnya yang sebesar 31 miliar dollar AS.
• Perluasan Ganjil Genap, Ribuan Pengusaha Angkutan Barang Ubah Pelat Nomor Jadi Kuning
Tambah lagi, pertumbuhan FDI Indonesia juga lesu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/bank-dunia_20180629_195403.jpg)