HUT Kemerdekaan RI
Jelang Proklamasi Kemerdekaan RI, Soekarno dan Mohammad Hatta Diculik ke Rengasdengklok
Peristiwa Rengasdengklok terjadi menjelang detik-detik proklamasi Indonesia. Pemuda PETA sempat culik
Lahirnya kemerdekaan Republik Indonesia tak bisa lepas dari peristiwa Rengasdengklok.
Peristiwa Rengasdengklok merupakan momen sangat bersejarah bagi Indonesia.
Pasalnya, peristiwa ini menjadi latar belakang Indonesia mencapai puncak kemerdekaan.
74 tahun yang lalu, tepatnya pada 16 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diculik oleh sejumlah pemuda untuk dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat.
Mereka kemudian diamankan di sebuah rumah sederhana milik seorang petani, dilansir dari laman Kompas.com, Kamis (9/8/2018).
Hal ini lantaran terjadi perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda.
• Relawan Jokowi-Maruf Gelar Zikir Bersama di Rumah Aspirasi Tugu Proklamasi
Golongan tua di antaranya Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta yang menginginkan proklamasi kemerdekaan didiskusikan terlebih dahulu dengan PPKI.
Sementara golongan muda, di antaranya ada Soekarni, Wikana, Aidit, dan Chaerul Saleh, ingin supaya proklamasi kemerdekaan cepat diumumkan.
Lalu, apa tujuan golongan muda menculik Ir. Soekarno dan Moh. Hatta seharian penuh di Rengasdengklok.
Rupanya, hal ini dilakukan agar keduanya tidak terpengaruh Jepang dan segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Ir. Soekarno pun bersedia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia setelah kembali ke Jakarta.
Sementara itu, di Jakarta terjadi perundingan antara Achmad Soebardjo (sebagai perwakilan golongan tua) dan Wikana (wakil golongan muda).
Mereka sepakat Proklamasi dilaksanan di Jakarta dan Laksamana Tadachi Maeda mengizinkan kediamannya sebagai tempat berunding dan menjamin keselamatan mereka.
Ahmad Subardjo punya peran sangat penting dalam peristiwa kembalinya Soekarno Hatta ke Jakarta.
Sebab, ia mampu meyakinkan para pemuda bahwa proklamasi kemerdekaan akan dilaksanakan keesokan harinya (17 Agustus 1945) paling lambat pukul 12.00 WIB.
Kenapa Rengasdengklok dipilih sebagai tempat untuk menyembunyikan Ir. Soekarno dan Moh. Hatta?
Lokasinya yang jauh dari Jakarta (sekitar 81 kilometer) membuat Rengasdengklok menjadi tempat yang aman untuk menyusun rencana kemerdekaan.

Selain itu, Rengasdengklok jauh dari pengawasan tentara Jepang yang saat itu sudah mengetahui rencana pembacaan proklamasi kemerdekaan.
Bertempat di pinggiran Sungai Citarum, Rumah Djiaw Kie Siong - (seorang keturunan Tionghoa) menjadi saksi bisu sejarah kemerdekaan Republik Indonesia.
Rumah itu juga ditinggali oleh Sukarni, Yusuf Kunto, dr.Sutjipto, Fatmawati, Guntur Soekarnoputra, dan lainnya selama tiga hari, pada 14 - 16 Agustus 1945.

Sampai hari ini, keaslian bangunan rumah ini masih dijaga bahkan dua kamar tidur yang pernah digunakan Soekarno dan Hatta tidak berubah.
Menjelang perayaan HUT Kemerdekaan RI, banyak wisatawan, komunitas jelajah budaya hingga para warga mengunjungi rumah ini.
Subuh yang membuat tegang
Ia berangkat dari baraknya di Jalan Jaga Monyet, dekat Harmoni, Jakarta. Jalanan lengang. Di kepala Iding berkecamuk rasa penasaran.
Di sekitar Jatinegara, sudah menunggu 2 mobil. Iding kaget karena penumpang mobil itu adalah Sukarno, Mohammad Hatta, istri Sukarno, Fatmawati, dan Guntur Soekarnoputra yang baru berusia 9 bulan. Mereka pindah kendaraan, masuk ke truk yang dikendarai Iding.
Iding diminta membawa truk ke Rengasdengklok. Perjalanan yang tak nyaman karena jalan penuh lubang.
Lewat tengah malam, Kamis 16 Agustus 1945, Sejumlah pemuda memutuskan membawa Sukarno dan Hatta menuju Rengasdengklok, sekitar 80 kilometer di timur Jakarta.

Beberapa jam sebelumnya, di beranda rumah Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur No 56, ketegangan meledak di antara mereka.
Buat Sukarno dan Hatta, kemerdekaan tak bisa diumumkan secara sepihak.
Dalam Sekitar Proklamasi, Hatta mengenang, "...Proklamasi Indonesia Merdeka harus ditetapkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, karena badan itu anggotanya datang dari berbagai penjuru Indonesia dan dianggap mewakili seluruh Indonesia. Esok hari, PPKI menjadwalkan rapat pada pukul 10.00."
Di puncak perdebatan, salah seorang pemuda, Wikana berkata, "Apabila Bung Karno tidak mau mengucapkan pengumuman Kemerdekaan itu malam ini juga, besok akan terjadi pembunuhan dan penumpahan darah."
Mendengar kata-kata Wikana, Sukarno naik pitam. Ia menuju Wikana sambil menunjukkan lehernya dan berujar, "Ini leher saya, seretlah saya ke pojok itu, sudahi nyawa saya malam ini, jangan menunggu sampai besok."
Wikana kaget. Lantas ia berkata, seperti dikutip Hatta, "Maksud kami bukan membunuh Bung, melainkan kami mau memperingatkan, apabila kemerdekaan Indonesia tidak dinyatakan malam ini juga, besok rakyat kita akan bertindak dan membunuhi orang-orang yang dicurigai, yang dianggap pro Belanda, seperti orang-orang Ambon dan lain-lain."
Sepulang dari rumah Sukarno, para pemuda berkumpul di Jalan Cikini 71. Mereka membahas penolakan Sukarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan.
Kemudian diputuskan bahwa kemerdekaan harus dinyatakan sendiri oleh rakyat, jangan menunggu kemerdekaan sebagai hadiah.
Dalam anggapan pemuda, jika Soekarno-Hatta masih di Jakarta, mungkin mereka digunakan Jepang untuk menghalangi pernyataan kemerdekaan.
Beberapa jam kemudian, mendekati waktu makan sahur, beberapa pemuda mendatangi rumah Hatta. Seorang tokoh pemuda, Sukarni, mengatakan, karena Sukarno tidak mau memproklamasikan kemerdekaan tadi malam, para pemuda akan bertindak sendiri.
"Lalu, Bung Karno dan Bung Hatta kami bawa ke Rengasdengklok untuk meneruskan pimpinan Republik Indonesia dari sana," kata Sukarni seperti dikutip Hatta.
Saat itu Hatta coba meyakinkan Sukarni bahwa yang direncanakan para pemuda itu fantasi belaka dan akan terbentur pada realitas. Kendati sudah menyerah, tentara Jepang di Jawa masih utuh.
Sukarni menjawab, "Ini sudah menjadi keputusan kami semua dan tidak dapat dipersoalkan lagi. Bung ikut saja bersama Bung Karno, pergi ke Rengasdengklok."
Hatta mengaku, saat itu, di matanya sudah tergambar kehancuran cita-cita menegakkan Indonesia Merdeka. Apa jadinya dengan anggota PPKI lain yang sudah diundang rapat pada pukul 10.00 nanti?
Setelah meninggalkan pesan pada adik dan dua kemenakannya, Hatta pergi. Ia masuk ke sedan yang membawanya ke rumah Sukarno. Bersama Fatmawati dan Guntur, Sukarno telah siap berangkat ketika Hatta tiba.
Di sebuah persimpangan, rombongan berhenti. Hatta dan Sukarno bersama keluarga diminta pindah ke sebuah truk yang disopiri Iding.
Sesampai di Rengasdengklok, Hatta dan Sukarno dibawa ke sebuah asrama PETA. Mereka masuk ke sebuah ruangan berlantai papan, tanpa meja dan kursi. Hanya ada tikar pandan. Rupanya ini ruang tidur para prajurit PETA.
Setelah satu jam di sana, Hatta dan Sukarno diberitahu bahwa ada sebuah rumah milik seorang tuan tanah Tionghoa, Djiaw Kie Song, yang dikosongkan untuk mereka.
Waktu berjalan. Hatta ingat, kerja mereka saat itu hanya bergantian mengasuh dan memangku Guntur. Bocah tersebut ingin minum susu namun kaleng susu terbawa sedan yang kembali ke Jakarta. Lupa memasukkannya ke truk. Dalam versi Fatmawati dan Sukarno, susu memang sudah tidak tak terbawa sejak Jakarta.
Ketika Hatta memangku Guntur, terjadi hal tak disangka. Guntur kencing. Hatta segera menurunkan Guntur ke lantai tapi tak urung celananya basah juga.
Sekitar pukul 12.30, Hatta meminta pemuda yang berjaga di muka pintu untuk memanggil Sukarni. "Siapa itu, Tuan?" kata pemuda itu.
"Dia itu salah seorang pemuda yang mengantarkan kami ke rumah ini," terang Hatta.
Tak lama berselang, ia kembali dengan Sukarni yang langsung bertanya, “Ada apa, Bung?”
"Sukarni, revolusi yang akan mulai pukul 12 siang hari sudah dimulai? Apakah 15 ribu rakyat itu sudah masuk ke kota?"
"Saya belum dapat kabar soal itu, Bung."
"Kalau demikian, ada baiknya kau menelepon teman di kota, untuk memastikan hal itu."
Sekitar satu jam kemudian, Sukarni kembali. Ia bilang tetap belum mendapat kabar. Jakarta pun tak mengirim kabar.
Hatta segera menekan, “Jika begitu, revolusi sudah gagal. Buat apa kami di sini bila di Jakarta tidak terjadi apa-apa?!”
Sukarni menampik anggapan itu. Ia lalu pergi.
Guntur sudah tenang. Seorang pemuda datang membawakan susu untuknya. Tiga orang dewasa itu hanya duduk bercakap-cakap. Hatta merasa waktu merambat sangat pelan.
DI JAKARTA, KAMIS 16 AGUSTUS sekitar pukul 08.00, Soediro "Mbah" muncul di rumah bosnya, Ahmad Subardjo, di Jalan Cikini Raya No 82. Dengan gugup, staf pribadi Subardjo itu melapor, "Mereka telah menculik keduanya."
Subardjo adalah anggota, sekaligus penasihat, PPKI. Dia dekat dengan Laksmana Muda Tadashi Maeda, perwira penghubung Angkatan Laut Jepang di Jakarta. Kelak, ia menjadi menteri luar negeri pertama Indonesia.
"Keduanya siapa?" kata Soebardjo seperti dituliskannya kembali dalam buku Lahirnja Republik Indonesia.
"Sukarno dan Hatta."
"Ke mana mereka pergi?"
"Saya tidak tahu. Mereka sekarang sedang mengadakan rapat di kantor kita di Prapatan dan Wikana ada di antara mereka. Mereka tidak mau memberitahukan di mana kedua pemimpin itu disimpan."
Sempat melaporkan hal ini ke Maeda, Subardjo menuju kantornya di Jalan Prapatan No 59 untuk menemui Wikana, yang juga salah seorang stafnya. “Apa yang telah kamu perbuat terhadap Sukarno dan Hatta?” ujar Subardjo.
"Hal itu merupakan keputusan kami dalam pertemuan semalam. Untuk keselamatan mereka, kami membawa ke sebuah tempat di luar Jakarta," kata Wikana.
"Apakah akibat dari tindakan tersebut telah kamu pikirkan?"
"Putusan itu bukan keputusan pribadi saya tapi merupakan keputusan dari semua golongan pemuda. Tugas saya adalah membujuk Sukarno untuk memproklamasikan kemerdekaan pada malam kemarin dan kembali melaporkan."
Subardjo mendesak Wikana untuk membocorkan tempat Sukarno dan Hatta dibawa. Wikana gamang. Ia lalu bilang akan merundingkan hal itu dulu dengan teman-temannya. Wikana pergi.
Beberapa waktu kemudian, Wikana datang kembali bersama Pandu Kartawiguna, pemuda yang bekerja di kantor berita Jepang Domei.
“Nah, apa keputusannya?” cecar Subardjo.
Pandu menjawab, "Kami tidak dapat mengatakan kepada Bung karena kami pun tidak tahu tempatnya. Teman-teman PETA yang tahu. Mereka bahkan tidak mau mengambil risiko dengan memberi tahu kami. Kita semua sedang menunggu seseorang yang akan membawa kabar tentang itu."
Setelah alot bernegosiasi, Subardjo akhirnya diberitahu bahwa Sukarno dan Hatta ada di Rengasdengklok. Ia berangkat menjelang sore untuk menjemput.
Tak ada penolakan dari pihak pemuda, terutama setelah Subardjo menyampaikan kabar bahwa Jepang telah resmi menyerah dari Sekutu.
Pada Kamis 16 Agustus sekitar pukul 21.00, Sukarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Bayang-bayang kemerdekaan kian jelas terlihat.