Rabu, 6 Mei 2026

Pasar Modal

Dampak Perang Dagang, Perhatikan Beberapa Saham Ini

Soal kondisi ekonomi global, Bank Indonesia (BI) menilai akan semakin melambat di semester dua.

Tayang:
thinkstockphotos
Ilustrasi. Dampak perang dagang dirasakan oleh sektor pertambangan maupun komoditas lainnya seiring turunnya permintaan. 

Sepanjang Januari-Juni 2019 ekspor bahan bakar mineral turun 6,4 persen sedangkan lemak dan minyak hewan/nabati turun 18,13 persen.

Sementara itu negara tujuan utama ekspor Indonesia adalah China, AS dan Jepang.

WARTA KOTA, PALMERAH--- Soal kondisi ekonomi global, Bank Indonesia (BI) menilai akan semakin melambat di semester dua.

Melambatnya kondisi ekonomi globla ini merupakan dampak dari perang dagang antara Amerika Serikat  dan China.

Selain itu, pasar melihat belum ada kepastian mengenai ujung perang dagang.

Mereka juga melihat perang tarif ini menjadi alat politik Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk pemilu mendatang.

Melirik Kemitraan Usaha Cuci dan Perawatan Sepeda Motor

Dody Budi Waluyo, Deputi Gubernur BI, memperkirakan, kondisi ini bisa berlangsung sampai pemilu Amerika Serikat.

Bertoni Rio, Analis Senior Anugerah Sekuritas, mengatakan, dampak perang dagang dirasakan oleh sektor pertambangan maupun komoditas lainnya seiring turunnya permintaan.

"Sektor pertambangan dan crude palm oil," ungkap Bertoni kepada Kontan.co.id, Senin (22/7/2019).

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), porsi ekspor bahan bakar mineral sebesar 15,33 persen sedangkan lemak dan minyak hewan/nabati sebesar 10,89 persen.

Kedua golongan barang tersebut merupakan ekspor terbesar Tanah Air.

Imbas Perang Dagang, Puluhan Perusahaan Hengkang dari China

Sepanjang Januari-Juni 2019 ekspor bahan bakar mineral turun 6,4 persen sedangkan lemak dan minyak hewan/nabati turun 18,13 persen.

Sementara itu negara tujuan utama ekspor Indonesia adalah China, AS dan Jepang.

Pada kuartal satu lalu, pertumbuhan ekonomi China tercatat tumbuh 6,4 persen yoy lebih rendah kuartal satu tahun lalu yang tercatat tumbuh 6,8 persen year on year.

Hal ini membuat permintaan dari China ikut melemah.

Bisa Merusak Hubungan Asmara, Ada 7 Tanda Gaslighting: Apa Itu Gaslighting?

"Sebelum ekspektasi melambat pertumbuhan, China juga sudah mengurangi permintaan dengan cara mengubah energi yang sebelumnya menggunakan batubara," katanya.

Untuk itu, kata Bertoni, emiten yang bergerak di sektor ini dalam dua tahun terakhir melakukan efisiensi untuk mengurangi beban operasional.

Adapun perusahaan yang berhasil menjaga laba bersih adalah PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indika Energy Tbk (INDY) dan PT Petrosea Tbk (PTRO).

"Walaupun laba yang dihasilkan tumbuh stagnan," kata dia.

ADRO pada kuartal satu tahun ini mencatat laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 118,8 juta dollar AS atau tumbuh 59,67 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Bank Mandiri Alami Gangguan, Liburan Warga Terganggu

Sementara itu laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk INDY di periode yang sama tercatat sebesar 11,7 juta dollar AS atau turun 79,95 persen year on year.

Lalu PTBA mencatat laba sebesar Rp 1,14 miliar atau turun 21,37 persen.

Ke depan, Bertoni melihat tekanan untuk emiten batubara akan berlangsung lama karena sebagian negara maju sudah tidak menggunakan komoditas tersebut.

Sehingga emiten batubara diharapkan tidak tergantung lagi dengan permintaan batubara mentah.

Ditangkap Polisi saat Mau Beli Mobil di Diler

Berita ini sudah diunggah di Kontan.co.id dengan judul Hati-hati, emiten ini rentan terkena imbas perang dagang

Sumber: Kontan
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved