Selasa, 21 April 2026

Hari Anak Nasional

Jambore Sahabat Anak, Angkat Isu Antidiskriminasi Terhadap Anak Marjinal

Isu utama yang kami angkat yakni menyerukan antidiskriminasi, khususnya terhadap anak-anak marginal.

Penulis: Feryanto Hadi |
Warta Kota/Feryanto Hadi
Yayasan Sahabat Anak menggelar Jambora Sahabat Anak di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan, selama dua hari, Sabtu-Minggu (20-21 Juli 2019). Kegiatan itu dilakukan dalam rangka Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 20 Juli. 

Suka cita ratusan anak meledak dalam sebuah sesi permainan di acara Jambore Sahabat Anak (JSA) 2019 di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan, Minggu (21/7/2019).

Mereka bermain dan berkompetisi tanpa beban, bersorak riang, tanpa perduli kelompoknya kalah atau menang dalam permainan itu.

Mereka terlihat memanfaatkan momentum itu dengan gembira.

Kegiatan kemah edukasi bertajuk Jambore Sahabat Anak tersebut digelar oleh Yayasan Sahabat Anak selama dua hari mulai Sabtu–Minggu, 20–21 Juli 2019.

Adapun jumlah peserta sebanyak 800 anak, mayoritas adalah kaum marginal yang selama ini mengikuti sekolah informal yang dilakukan oleh Yayasan Sahabat Anak.

VIDEO: Jambore Sahabat Anak di Ragunan Diikuti 800 Marginal

Kampanye Antidiskriminasi

Syela Khasanah selaku Humas jambore Anak mengungkapkan, jambore tersebut dilakukan dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional, dengan tujuan untuk menggelorakan semangat antidiskriminasi terhadap anak marginal.

"Isu utama yang kami angkat yakni menyerukan antidiskriminasi, khususnya terhadap anak-anak marginal. Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan mereka kesempatan untuk belajar bersama dan mengekspresikan diri,” kata Syela ditemui Warta Kota di sela kegiatan, Minggu (21/7).

"Untuk pesertanya adalah anak-anak binaan YSA serta anak-anak dari komunitas lain yang punya semangat sama dengan Sahabat Anak yakni tentang edukasi tentang anak anak seperti Sahabat Bogor, Rumah Belajar Pinggiran dan sebagainya," imbuhnya.

Jambore yang juga diikuti ratusan relawan ini diisi sejumlah kegiatan seperti permainan kekompakan tim, meningkatkan kepekaan terhadap teman yang berkebutuhan khusus, senam pagi, menghias tenda untuk melatih kreativitas, serta panggung pertunjukan.

"Pada Sabtu kemarin kawan-kawan dari komunitas disabilitas datang memberikan motivasi kepada anak-anak marjinal bahwa mereka bisa tetap survive dan semangat berkarya meskipun ada kekurangan. Nah, semangat seperti itu yang ingin ditularkan kepada anak-anak di sini," kata Syela.

Sementara itu, menurut Ketua Yayasan Sahabat Anak, Dian Novita Elfrida, anak-anak marginal yang memiliki keterbatasan perekonomian kerap kali mendapatkan perilaku diskriminatif, terutama di lingkungan sekolah.

Padahal, setiap anak berhak atas haknya untuk memperoleh pendidikan yang layak tanpa ada perbedaan perlakuan.

“Kami berharap ke depan, anak-anak yang memang berasal dari keluarga tidak mampu ini bisa tetap mendapatkan pendidikan yang layak. Apalagi, ternyata sekolah juga menjadi tempat yang mendiskriminasi anak-anak ini," ungkapnya.

Kampanye Milenial Cerdas Tanpa Narkoba, Polres Jaksel Ajak Masyarakat Lapor Lewat Qlue

Putus Sekolah

Syela menyebut, Sahabat Anak saat ini menggelar sekolah informal bagi anak-anak marginal di delapan lokasi, semisal di Cijantung, Manggarai, Grogol, tanah Abang, Kota Tua dan sebagainya.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved