Pemadaman Air
Warga Rusun Komarudin Keluhkan Mahalnya Air Bersih
Bukan hanya kualitas air yang kurang baik, air hasil pemurnian PT Aetra yang menjadi sumber air bersih warga itu dinilai sangat mahal.
CAKUNG, WARTAKOTALIVE.COM -- Akses air bersih Rusunawa Komarudin dikeluhkan warga saat ini.
Bukan hanya kualitas air yang kurang baik, air hasil pemurnian PT Aetra yang menjadi sumber air bersih warga itu dinilai sangat mahal.
Hal tersebut disampaikan oleh Sitanggang (56) warga Blok F Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Komarudin.
Menurutnya, tarif air bersih yang diketahuinya seharga Rp 5.500 per kubik itu sangat mahal, sehingga dirinya rutin membayar seharga Rp 350.000 per bulan.
• Billy Jual Warisan Olga Syahputra Disumbangkan ke Masjid, Dibeli Raffi Ahmad & Ruben Onsu Rp7 Juta
• Ini Dia Ramalan Zodiak Rabu 3 Juli 2019 Taurus Bingung, Aries Perbaiki Diri, Scorpio Sibuk Terus Nih
• Kisah Pilu Saipul Jamil 4 Tahun Mendekam di Penjara, Tiap Lihat TV: Saya Dulu Pernah di Situ
• TERUNGKAP Vanessa Angel Bebas dari Penjara Langsung Dapat Hadiah Spesial iPhone dan Kontrak Kerja
• TERUNGKAP Sule Kian Berani Cium dan Peluk Naomi Zaskia di Hadapan Keluarga saat Liburan di Bali
• Raffi Ahmad dan Nagita Bongkar Kelakuan Hotman Paris Pacari Meriam Bellina Berawal dari Taruhan
• Begini Nasib Terkini Angelina Sondakh Mantan Istri Adjie Massaid yang Dipenjara 7 Tahun
• Ratu Film Panas Eva Arnaz Pilih Sambung Hidup dengan Jualan Lontong Sayur setelah Suaminya Hilang
Tagihan tersebut katanya rutin dibayarkannya setiap bulan, bersamaan dengan tagihan sewa unit rusun yang dihuninya di lantai satu Blok F Rusun Komarudin sebesar Rp 461.000 per bulan.
"Jadi kalau ditotal sebulan pengeluaran itu bisa sejuta lebih, sewa unit sama air, belum ditambah Rp 400.000 listrik. Saya memang kenanya (sewa unit) Rp 461.000, soalnya bukan warga gusuran, kalo warga gusuran itu Rp 215.000 sebulan," ungkapnya ditemui di Rusun Komarudin pada Selasa (2/7/2019).
Oleh karena itu, dirinya berharap agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat memberikan subsidi terkait sewa rusun.
"Rusun ini kan punya Dinas Perumahan-punya DKI, airnya juga punya pemerintah. Kalau boleh minta supaya ada subsidi ke warga sini karena kebanyakan orang nggak mampu," imbuhnya.
Tunggakan
Besarnya biaya hidup di Rusun diungkapkan Sri (40) pemilik warung depan Blok F Rusun Komarudin memicu beragam permasalahan berantai bagi para penghuni, mulai dari tagihan Rusun yang tertunggak hingga polemik adanya tunggakan siluman yang dibebankan kepada penghuni Rusun.
Bahkan, lanjutnya, tidak sedikit para penghuni Rusun yang menunggak sewa rumah dan air hingga sebesar Rp 15 juta.
Tunggakan tersebut kian bertambah karena sejak Rusun dihuni pada sekitar tahun 2014 hingga saat ini, warga tidak kunjung membayar.
"Banyak yang kayak begitu, tunggakan terus nambah. Bukan nggak mau bayar, tapi memang nggak punya duit," ungkapnya.
Apalagi lanjutnya, tunggakan warga dapat terus bertambah dengan adanya denda keterlambatan bayar.
Denda keterlambatan bayar tersebut katanya terus bertambah apabila warga tidak kunjung melunasinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/warga-rusun-komarudin-penggilingan-cakung-masih-kekeringan3.jpg)