Milenial Harus Bijak Kelola Keuangan
Tiga kesalahan milenial dalam mengelola keuangan yaitu tidak ada perencanaan keuangan, tidak ada kontrol uang, dan tidak ada persiapan dana darurat.
Penulis: Hironimus Rama | Editor: Ichwan Chasani
Para pekerja muda milenial harus lebih bijak dalam mengelola keuangan. Hal ini penting agar mereka bisa mencapai tujuan keuangan yang diimpikannya seperti membeli rumah, menyiapkan dana pernikahan hingga dana pensiunan.
Perencana Keuangan Prita H. Ghozie mengatakan kaum milenial umumnya identik dengan gaya hidup konsumeristis. Mereka sering terjebak dalam kesalahan pengelolaan keuangan.
"Ada tiga kesalahan yang dilakukan milenial dalam mengelola keuangan yaitu tidak ada perencanaan keuangan untuk masa depan, tidak ada kontrol atas uang yang dimilikinya dan tidak ada persiapan dana darurat," kata Prita dalam acara BAF Fintalks (Financial Talks) dengan tema ‘Usaha Praktis Untung Fantastis’ di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Barat, Jakarta, Rabu (19/6).
Menurut Prita, milenial cenderung menghabiskan uang untuk pengalaman seperti belanja dan jalan-jalan. Apalagi didukung adanya gadget yang terus menawarkan promo dan diskon.
"Jika kesalahan-kesalahan dalam pengelolaan keuangan ini tidak diperbaiki, maka pekerja milenial bisa bangkrut pada usia 50-an tahun saat pensiun. Survei menunjukkan hampir 85 persen masyarakat urban tidak siap untuk pensiun," papar Prita.
Untuk menghindari hal ini, Prita menyarankan milenial untuk belajar mengelola keuangan dengan lebih baik. Pengelolaan keuangan ini dimulai dari memahami prioritas keuangan, bijak mengelola pendapatan untuk mewujudkan tujuan keuangan.
"Milenial harus bisa mengelola gaji/pendapatan dengan baik. Idealnya tiap bulan kita harus mengalokasikan 5 persen untuk amal, 10 persen dana darurat, dan 30 persen biaya hidup. Selain itu, usahakan menyisihkan 30 persen untuk bayar utang, 15 investasi dan 10 persen untuk gaya hidup," jelas Prita.
Selain mengelola pendapatan bulanan, hal yang tak kalah penting dalam pengelolaan adalah investasi. Ini penting untuk persiapan pensiunan.
"Banyak instrumen yang bisa pakai untuk investasi mulai dari reksa dana, saham, properti hingga membuka usaha," imbuhnya.
Dana syariah
Division Head Marketing and Sales Bussan Auto Finance (BAF) Josephine Novita mengatakan ada banyak jenis usaha yang bisa dirintis untuk memulai investasi. Sebut saja, kuliner, laundry hingga socio preneur.
Untuk pembiayaan investasi ini, kata Josephine, Bussan Auto Finance menawarkan produk Dana Syariah. BAF Dana Syariah merupakan fasilitas pembiayaan kembali dengan menggunakan prinsip syariah bagi pemilik kendaraan bermotor (roda dua) untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan, baik itu kebutuhan saat ini atau pun dijadikan bentuk investasi masa depan.
"Kami menawarkan pembiayaan Dana Syariah untuk solusi permodalan usaha. Fasilitas ini menawarkan kemudahan proses dalam pengajuan pinjaman," kata Josephine.
Untuk mendapatkan pembiayaan ini, lanjut Josephine, konsumen hanya perlu membawa KTP (asli dan fotocopy), Kartu Keluarga (asli dan fotocopy), BPKB dan STNK asli serta membawa unit motor yang menjadi jaminan.
"Fasilitas pembiayaan yang dimiliki oleh BAF ini memanfaatkan sepeda motor yang dimiliki konsumen untuk memenuhi berbagai kebutuhan dengan menggunakan prinsip syariah," tutur Josephine.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/baf-josephine-novita.jpg)