Kamis, 16 April 2026

Australia Open 2019

Prestasi Praveen/Melati Dinilai Tunjukkan Perkembangan

Susy Susanti menilai, meskipun belum berhasil mengunci satu gelar, namun Praveen/Melati sudah banyak progres.

@INAbadminton
Praveen dan Melati, Penentu Kemenangan Indonesia lawan Taiwan 

GANDA campuran Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti masih belum berhasil merebut gelar juara di Australia Open 2019.

Ini merupakan final ketiga bagi Peaveen/Melati pada tahun ini, setelah sebelumnya juga kalah di final India Open 2019 Super 500 dan New Zealand Open 2019.

Di Australia Open 2019, Praveen/Melati dikalahkan unggulan pertama asal Tiongkok, Wang Yilyu/Huang Dongping, dengan skor 15-21, 8-21.

Dalam perjalanan ke final, Praveen/Melati menumbangkan unggulan ketiga yang juga juara All England 2018, Yuta Watanabe/Arisa Higashino dari Jepang.

Juga pasangan perak Olimpiade Rio de Janeiro 2016 asal Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying.

V BTS Bikin Perancang Inggris Ini Kebanjiran Pesanan

Selena Gomez Hapus Foto Kenangannya dengan Justin Bieber

Kang Daniel Jadi Direktur di Perusahaan Bernama KD

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Susy Susanti menilai, meskipun belum berhasil mengunci satu gelar, namun Praveen/Melati sudah banyak progres.

"Sebetulnya sayang, berapa kali belum bisa memanfaatkan kesempatan dengan baik. Di perempat final dan semifinal, mereka tampil luar biasa, betul-betul luar biasa mainnya. Praveen/Melati ini sebetulnya salah satu pasangan yang ditakuti sama lawannya, tapi balik lagi ke kematangan mereka," ujar Susy Susanti dikutip dari laman resmi PBSI.

"Saya melihat mereka sudah mulai stabil, nggak kalah di babak-babak awal. Minimal babak perempat final, semifinal ke final. Kalau sebelumnya bisa kalah sama lawan yang tidak diunggulkan di babak awal, sekarang sudah bisa menunjukkan kelasnya. Praveen/Melati harus mempertahankan peringkatnya di delapan besar dunia, mereka harus tahu standard mereka di mana," kata Susy.

"Praveen itu punya potensi, tinggal kemauan dia, dia harus lebih siap lagi. Kestabilannya masih naik turun, padahal ini waktunya Praveen. Melati cenderung lebih baru di level elit, dibanding Praveen. Jadi tugas Praveen untuk membimbing Melati untuk bisa menarik Melati ke atas supaya bisa jadi pasangan yang solid. Melati memang butuh kerja keras," tambah Susy.

Kekalahan di final Australia Open 2019 merupakan kekalahan kelima beruntun yang dialami Praveen/Melati dari pasangan rangking dua dunia tersebut.

Praveen/Melati belum pernah berhasil mengalahkan Wang/Huang.

Permainan cepat dan kematangan strategi yang diterapkan Wang/Huang memang sangat membuat Praveen/Melati kewalahan.

Maria Sharapova Kembali ke Lapangan Tenis

Chansung Diantar Anggota 2PM Masuk Wajib Militer

Maria Sharapova Kembali ke Lapangan Tenis

Mereka tidak bisa keluar dari tekanan demi tekanan dan sulit mengembangkan permainan.

"Praveen/Melati juga harus lebih cerdik menganalisa lawan, misalnya Wang/Huang, sudah lima kali kalah. Benar-benar harus dipelajari kekalahan sebelumnya, misalnya banyak error, ya perlu ditingkatkan fokusnya, diperkuat defense-nya, misalnya Melati di latihan 'dikeroyok' lawan tiga pemain putra. Atau serangannya? latihan smash sampai 1000 bola deh istilahnya," jelas Susy.

"Kalau kami lihat kan pasangan Tiongkok ini pintar, mereka tidak pernah memberi bola ke atas pada Praveen, nah Praveen tidak dapat serangan, sedangkan ini andalan dia. Program latihan dari pelatih mungkin bisa ditambahkan, bagaimana placing-nya Praveen bisa lebih halus, lalu jangan nafsu, nggak apa-apa main reli dulu, adu dulu, begitu ada kesempatan, baru serang. Jadi ini, antisipasi dan pancingan serangan ini yang mungkin bisa diterapkan sebagai variasi bagi Praveen/Melati," tutur Susy.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved