Mutiara Ramadan
Orang yang Punya Malu Pada Allah Menjaga dari Perbuatan Zina dan Makanan Haram
Ajaran malu dapat menjaga marwah (baca; muru ah) dari perbuatan tercela sehingga dapat meningkatkan derajat keimanan.
Oleh KH Cholil Nafid Lc MA PhD
DAHULU, masyarakat menjauhi pacaran antara remaja putra dan putri karena ada rasa malu.
Bahkan orang tua tidak kuat menahan rasa malu manakala remaja putrinya bersama laki-laki yang bukan mahramnya.
Jangankan mengajak teman laki-lakinya ke rumah, menyapa di jalanan saja terasa ada rasa malu.
Karenanya, pergaulan bebas saat itu dapat lebih mudah dicegah karena ada rasa malu di hati masyarakat.
• Cara Cinta Laura Menjaga Diri Tidak Terjerumus Pergaulan Bebas di Amerika Serikat
Betapa banyak sesuatu yang diinginkan oleh syawat manusiawi dapat ditahan karena motivasi malu.
Kini fenomena berubah, rasa malu hubungan remaja putra dan putri mulai berkurang.
Anak remaja tak segan-segan untuk mengajak teman dekatnya ke rumah untuk dikenalkan kepada orangtuanya, padahal bukan untuk melamarnya.
Acara apel malam mingguan dianggap suatu yang lumrah.
• Begini Cara Yunita Siregar Menolak Ajakan Pergaulan Bebas di Dunia Hiburan
Bahkan berjalan berduaan dan bersama seakan pasangan yang sah dianggap hal biasa. Itu semua karena mulai pudarnya rasa malu.
Malu adalah budaya bangsa Indonesia. Demikian pula agama Islam menanamkan sifat malu.
Budaya malu merupakan kontrol diri untuk bersikap baik dan adil.
Ajaran malu dapat menjaga marwah (baca; muru ah) dari perbuatan tercela sehingga dapat meningkatkan derajat keimanan.
Orang yang tak punya rasa malu akan terjerumus pada kenistaan dan tak dipandang baik oleh Allah SWT dan masyarakat.
Ibnul Qayyim menyatakan kata malu berasal dari kata hayaah (hidup), meskipun ada ulama lain yang menyatakan malu berasal dari kata al-hayaa (hujan).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/kh-cholil-nafis.jpg)