Minggu, 17 Mei 2026

Bulan Suci Ramadan

Begini Cara Mengatur Keuangan di Bulan Ramadan Biar Nggak Defisit

Agar tidak ‘boncos’ dengan pengeluaran Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri yang tidak tekendali, diperlukan beberapa pengaturan.

Tayang:
Penulis: |
Tribunnews.com
Ilustrasi 

Bulan Ramadan saatnya umat muslim berpuasa selama hampir 14 jam. Sayangnya pengeluaran keuangan seringkali tidak ikutan ‘puasa’.

TAPI justru Bulan Ramadan lanjut Hari Raya Idul Fitri   pengeluaran biasanya membengkak.

Ujung-ujungnya  bisa defisit. Agar tidak ‘boncos’ dengan pengeluaran Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri yang tidak tekendali, diperlukan beberapa pengaturan. 

Apa saja itu?

Direktur PT Hero Supermarket Tbk Wahyu Trikusumo mengatakan, Ramadan adalah momen istimewa yang selalu ditunggu oleh mayoritas keluarga Indonesia.

Dan hal ini biasanya beriringan dengan peningkatan pola konsumsi masyarakat.

 Terkejut Dituduh Perekam Video Penggal Kepala Presiden, Guru Ini Khawatir Jadi Sasaran Kemarahan

 Fadli Zon Absen, Ketua DPR Sebut Fahri Hamzah Tak Ada di Ruangan Ini Jika Pemerintah Otoriter

 Nasib Pengancam Jokowi, Mulai Dipecat dari Pekerjaan, Nasib Pernikahan Hingga Terancam Hukuman Mati

"Sehingga berdampak pada peningkatan pengeluaran yang berbeda dari bulan-bulan biasanya,” kata Wahyu Trikusumo dalam bincang bertajuk Anti Boncos di Bulan Ramadan yang diadakan di Plaza Kuningan, pekan lalu.

Perencana keuangan Ligwina Hananto  mengatakan, ada perubahan perilaku saat  bulan Ramadan yang  membuat pengeluaran meningkat.

Ia membaginya dalam tiga kategori pengeluaran yakni pengeluaran rutin, pengeluaran lifestyle, dan pengeluaran sosial.

1.  Pengeluaran Rutin

Pengeluaran rutin adalah pengeluaran untuk  makan dan transportasi ke tempat kerja.

Saat puasa, pengeluaran ini berkurang karena tidak makan siang dan jajan.

Tapi disisi  lain, pengeluaran di rumah meningkat. 

Pengeluaran di rumah biasanya meningkat untuk membuat menu istimewa saat buka puasa dan sahur.

2. Pengeluaran Lifestyle

Fenomena buka puasa bersama (bukber) di bulan Ramadan sudah menjadi gaya hdiup selama bulan Ramadan.

Dan itu ternyata bisa menguras pengeluaran.

Bahkan Lidwina menyebut sebagai pengeluaran massal.

Pasalnya, Bukber bisa bersama teman dan keluarga.

Bila di hari-hari biaa jarang makan di luar, saat Ramadan jadi sering makan di luar.

Tadinya pengeluaran seharusnya tidak ada menjadi ada. Kalaupun tadinya makan di luar 1-2 kali per minggu, saat Ramadan jadi lebih sering.

Selain itu  membeli baju, menghias rumah, sepatu, dan dan gaya hidup lifestyle untuk Ramdan dan Hari Raya Idul Fitri.

3. Pengeluaran sosial

Saat Ramadan juga biasanya menjadi lebih sering untuk beramal. Bisa sumbangan ke masjid, ke anak yatim piatu, dan duafa.

Selain juga membayar zakat. Baik zakat fitrah dan mal. Pengeluaran ini menjadi salah satu yang  menyebabkan banyak pengeluaran di Bulan Ramadan dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Agar tidak menganggu pengeluaran bulanan, pengeluaran harus dibagi apakah untuk pengeluaran rutin bulanan dan Hari Raya Idul Fitri.

Pengeluaran bulanan pakai gaji bulanan, sementara pengeluaran lebaran pakai THR (Tunjangan Hari Raya).  

"Pengeluaran untuk zakat fitrah,  kasih uang buat ponakan dan orangtua,  bingkisan, dan mudik,  jangan ngambil dari gaji bulanan tapi dari THR,” ujar Ligwina.

 Tarif Kencan Rp 400 Ribu, Pembunuh Wanita di Apartemen Tangerang Ini Cuma Bawa Uang Rp 50 Ribu

 Berterima Kasih Ditetapkan Tersangka, Eggi Sudjana: Kalau Saya Ditahan, Ya Kriminalisasi Terjadi

 Jenis Kelamin Anak Pertama Tasya Kamila dan Randi Bachtiar, Menggemaskan!

Kalau misalnya bekerja tidak ada THR, siapkan THR sendiri.

Ia mencontohkan dengan menyisihkan Rp500.000 tiap bulan yang digunakan sebagai dana lebaran.

Menurut Lidwina, buka puasa bersama misalnya bisa diambil dari cost bulanan.

Tapi  juga harus dilihat apakah sudah menguras dana bulanan atau belum.

Bukber bisa menyunat habis dana bulanan kita.

Kita harus melihat tidak semua ajakan bukber hadir.

Mudik juga harus dilihat, apakah ada dananya atau tidak.

Karena biasanya saat mudik, tidak hanya transportasi tapi juga harus menyiapkan dana lebih untuk angpao ponakan dan saudara.

"Itu biasanya menyedot banyak pengeluaran,” katanya.

Karena Bulan Ramadan dan Lebaran sudah tiap tahun, seharusnya, tiap keluarga atau individu sudah bisa menerka berapa pengeluarannya.

“Harus jujur pada diri sendiri. Ketika akan mudik,  benarkah mampu untuk mudik? Karena tantangannya saat mudik banyak. Dari membeli  oleh-oleh, memberi angpau dan lainnya,” tutur  perencana keuangan yang biasa disapa Wina ini. (lis)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved